
"Nah itu El datang!" ucap Fany yang hendak ikut bergabung dengan Ara yang ada di meja makan. Wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya duduk.
"El, lain kali kalau ada urusan apapun, jangan tinggalin Ara sendiri. Dia tuh belum terbiasa dan nggak tau jalan pulang, kalau ke sasar gimana?" omel Fany yang tidak suka jika calon menantunya ditelantarkan begitu saja.
"Hm," guman Samuel.
"Abang ayo makan sama Ara!" ajak Ara menarik tangan Samuel agar segera duduk.
"Ah iya sekalian saja," sahut Fany menyiapkan makan siang untuk putranya juga. "Makan yang banyak anak-anak Mami," lanjut Fany kemudian berlalu pergi.
Samuel langsung saja menyantap makan siang buatan mamanya walau terasa kenyang setelah makan siang bersama Sasa sang pacar. Laki-laki wajah dingin itu menghiraukan keberadaan Ara.
Bagi Samuel, Ara itu seperti angin. Ada tapi tidak terlihat.
"Abang kenapa ninggalin Ara tadi? Untung ada kak Ray atau Ara nggak bisa pulang," ucap Ara di sela-sela dia mengunyah makannya, namun Samuel sama sekali tidak menyahut.
"Abang tahu? Ara sekarang punya teman juga di sekolah. Teman Ara baik banget dan mau dengerin cerita Ara. Abang bisa nggak kayak teman Ara?" lanjut gadis imut tersebut.
Tak
Suara sendok diletakkan di atas meja terdengar nyaring karena ulah Samuel. Laki-laki wajah dingin itu menatap tajam Ara. "Berisik!" ujarnya kemudian berlalu tanpa menghabiskan makan siang yang ada di atas meja.
Ara memandangi kepergian Samuel dengan tatapan sendu.
"Padahal Ara cuma cerita malah dikatain berisik. Kapan ya Abang mau temenan sama Ara? Apa harus pintar dulu?" gumam Ara.
__ADS_1
Gadis imut itu tidak melanjutkan makan siangnya dan memutuskan untuk menyusul Samuel ke kamar. Dengan langkah kecilnya dia memasuki kamar yang kebetulan tidak dikunci.
Ruangan luas yang sangat rapih juga bersih, itu sudah tidak diragukan lagi. Samuel sangat tidak suka jika kamarnya berantakan. Dia sangat menyukai kerapihan.
Ara menghampiri sudut ruangan dengan jendela yang langsung mengarah pada kandang Jack. Dia memperhatikan harimau tersebut yang tengah tiduran di bawah terik matahari.
"Ada harimau?" gumam Ara menatap tidak percaya.
"Ngapain lo ke kamar gue?"
Ara langsung berbalik dan menatap Samuel dengan cengirannnya. "Punya Abang?" tanyanya.
"Kenapa? Lo mau jadi sarapan paginya?" tanya balik Samuel dan dibalas gelengan kepala oleh Ara.
"Keluar!"
"Lo bandingin gue?" Salah satu alis Samuel terangkat.
"Nggak, Abang sempurna di mata Ara." Gadis imut tersebut duduk di sofa dan mengeluarkan buku-bukunya bersiap untuk belajar bersama laki-laki berwajah dingin tersebut. Sayangnya yang diajak tengah menerima telpon dari seseorang.
"Iya Sa, ada apa?"
Samar-samar Ara dapat mendengar suara Samuel dari balkon, karena penasaran dia segera mendekat tanpa tunangannya sadari.
"Iya gue udah sampai rumah."
__ADS_1
"Kamu beneran suka sama masakan aku El? Mau dibuatin bekal besok nggak?"
"Suka banget. Boleh, nanti gue jemput. Sasa, abang lo ada dirumah?" tanya Samuel.
"Ada, kenapa? Kamu mau cerita?"
"Nggak cuma nanya aja, takut lo sendirian. Sudah dulu ya Sa, gue ada urusan."
"Siap Mas Pacar."
Ara terkesiap mendengar panggilan yang diberikan oleh seseorang di seberang telpon, terutama cara bicara dan suara Samuel yang berbeda. Cara bicara yang baik dan suara lembut versi Samuel sendiri. Sangat berbeda jika bicara dengannya, selalu memakai nada tinggi.
"Mas pacar?" gumam Ara, membuat Samuel menyadari keberadaan dirinya.
"lo?" Samuel barbalik.
"Abang, Sasa siapa? Kenapa dia manggil Abang mas pacar? Bukannya kalau pacar itu kalian pegangan tangan terus jalan-jalan. Abang sama Sasa sering?" tanya Ara dengan polosnya.
Ara tahu pacaran itu apa, tapi tidak bisa mendefiniskan jenisnya.
"Kalau dia memang pacar gue kenapa? Lo nggak suka?"
Ara menganggukkan kepalanya. "Abangkan tunangan Ara, nggak boleh pacaran sama Sasa!"
"Terserah, gue nggak suka sama lo!"
__ADS_1
"Tapi Ara suka sama Abang!"
"Mati lo sana!" Samuel mendorong tubuh Ara hingga hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada pintu.