
Dengan dada yang masih terasa sesak karena rasa bersalah dan penyesalan dalam hatinya, Samuel berjalan pelan memasuki pemakaman.
Seiring langkahnya, bunga yang berada tepat di paha juga ikut bergerak perlahan, bahkan hampir terjatuh karena tidak adanya tenaga yang Samuel miliki.
Samuel jongkok di makam seorang gadis yang pernah menjadi kekasihnya, meletakkan buket bunga Lily kesukaan Sasa.
"Maaf," lirih Samuel menundukkan kepalanya. "Maaf karena selama ini gue nggak pernah ngunjungi lo lagi. Maaf karena bahagia diatas penderiaan yang lo terima karena gua."
Setitik embun berhasil jatuh dari manik indah Samuel, air matanya menyentuh tanah yang dia pijak.
"Pantas aja Sagara benci banget sama gue, itu karena kesalahan gue sendiri. Harusnya hari itu gue datang kerumah lo bukan kerumah sakit. Harusnya gue bertanggung jawah atas kehamilan lo."
"Sulit banget ya Sa mendam semuanya sendiri? Rasa takut dan trauma lo pendam sendiri tanpa berani cerita ke gue."
Samuel merasa sangat bersalah setelah mendengar rekaman dari Rio-mantan ketua Wiltar. Ternyata kisah Sasa yang sebenarnya sangatlah tragis.
Berusaha baik-baik saja setelah mendapatkan pelecahan *****ual dan parahnya lagi dituduh selingkuh oleh orang lain.
Malam itu ternyata Sasa diperko*sa oleh Leo demi menghancurkan harga diri Samuel. Namun, rencana Leo gagal menghancurkan perisah Avegas sebab Sasa tidak menceritakan masalahnya pada siapapun.
"Sa, lo baik-baik aja?" tanya Samuel. "Gue nggak baik-baik aja setelah tahu semuanya. Gue udah nyakitin gadis sebaik lo. Harusnya sejak awal gue dengerin peringatan Sagara buat jauhin lo, bukan malah nekat dan terjadi hal seperti ini."
__ADS_1
"Andai lo ...."
Samuel mendonggakkan kepalanya ketika tetesan demi tetesan mulai membasahi seragam yang dia kenakan. Yang mulanya tetesan kini mulai deras disertai angin yang sangat kencang.
"Gue bakal balik lagi," ucap Samuel dan berlari meninggalkan pemakaman untuk berteduh sebab hujan sangat deras, belum lagi angin dan guntur yang bersahut-sahutan.
Langit yang semula cerah menjadi gelap, padahal jarum jam baru menunjukkan angka 3 sore.
"Dingin banget," gumam Samuel memeluk tubuhnya sendiri di halte bersama motornya. Kebetulan pemakaman sangat dekat dengan halte.
***
Sudah lima jam menunggu tanpa makan juga minum tidak membuat Ara menyerah hanya untuk menanti kedatangan kekasihnya. Ini semua gadis itu lakukan demi mempertahakan hubungannya bersama Samuel.
"Dingin banget," keluh Ara memeluk tubuhnya yang telah basah karena air hujan.
Bibir pucat dan tubuh mengigil sudah gadis itu rasakan tapi dia engang untuk beranjak dari duduknya.
"Abang pasti datang, Ara yakin. Abang cinta sama Ara jadi dia nggak mungkin lupa sama janjinya," gumam Ara terus meyakinkan dirinya sendiri.
Dia melirik ke samping bangku yang dia duduki. Bibir pucatnya melengkung indah melihat boneka sebesar dirinya duduk di sana.
__ADS_1
"Elara dingin? Mau Ara peluk?" tanyanya pada boneka pemberian Samuel yang hendak dia kembalikan agar Samuel tidak kesepian nantinya.
"Sini peluk." Ara dengan sigap memeluk boneka yang juga telah basah karena air hujan. "Sabar yang Elara, nanti abang datang kok jemput kita."
Ara mengusap wajahnya demi menyingkirkan air hujan bercampur air mata tersebut.
"Kepala Ara pusing, Elara," lirihnya dengan mata sayu.
Tubuhnya semakin mengigil seiring air hujan yang semakin lebat seakan tidak ingin berhenti membasahi bumi yang telah tua termakan waktu.
Ara melirik ponselnya, beraharap Samuel menelpon dan memberikan kabar bahwa laki-laki dingin itu terjebak macet hingga telat datang.
"Tunggu ya," ucapnya pada boneka tersebut seperti orang gila.
Ara meraih ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa kalimat dengan tangan bergetarnya.
Abang udah sampai di mana?
Abang lagi latihan basket ya? Jadi lupa sama janjinya?
Ara nggak papa kok, Ara bakal tetap nunggu abang sampai jam 8 malam. Jangan lupa datang ya bang.
__ADS_1
Ara nggak mau pisah sama abang dan mau peluk abang untuk terakhir kalinya, jadi cepat datang! Ya udah deh mungkin abang sibuk, Ara perpanjang waktunya sampai jam 12 malam, nanti Ara yang ngomong sama ayah.
Ara sayang abang