Lost Love

Lost Love
Part 191 ~ Milik aku seutuhnya


__ADS_3

Cahaya matahari yang terik tidak membuat sepasang pengantin baru yang tengah memadu kasih terganggu sama sekali. Setelah melewati berbagai drama tolak menolak, akhirnya Samuel dapat mengusai tubuh Ara dibawa kendalinya.


Kamar yang semula ribut karena tawa Ara kini berubah menjadi hening dan sesekali terdengar sebuah era*ngan kesakitan bercampur kenikm*atan setiap kali Samuel bergerak di atas tubuh istrinya.


Cengkraman semakin kuat di pundak, peluh yang membanjiri meski suhu ruangan rendah tidak membuat gai*rah pawang harimau tersebut menyurut begitu saja.


Hentakan demi hentakan Samuel lakukan, membuat Ara sesekali mengigir bibir bawahnya, meski sesekali desa*han lolos begitu saja.


Mata gadis yang tidak lagi gadis tersebut sesekali terpejam ketika hentakan itu berhenti dan Samuel mulai memainkan puncuk dadanya.


Sungguh, Ara tidak tahu harus menjabarkan bagaimana rasa yang dia dapatkan pagi ini. Sakit dan nikmat menjadi satu setiap kali Samuel melakukan sesuatu pada tubuhnya.


Mulut Ara terbuka ketika cairan hangat seperti menyentuh dinding rahimnya. Terlebih ketika tubuh kekar dan berotot Samuel ambruk begitu saja.


"Akhirnya kamu menjadi milik aku seutuhnya," bisik Samuel. Mengeser tubuhnya agar tidak menindih tubuh mungil Ara, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Sementara wajah Ara telah memerah seperti kepiting rebut dengan keringat masih membanjiri tubuhnya. Kini rasa sakit lebih mendominasi di inti tubuhnya setelah berdiam diri beberapa menit.


"Ak-aku mau ke kamar mandi," lirih Ara menyingkirkan tangan Samuel dari pinggangnya.


"Apa kamu tidak lelah, hm?"


"Le-lah tapi aku harus bersih-bersih dulu sebelum tidur."


Mata Samuel yang hampir terpejam itu kembali terbuka, melongarkan pelukannya agar Ara bisa bergerak. Memperhatikan istrinya yang turun dari ranjang dengan ekspresi sulit di artikan.


Apa aku membuatnya kesakitan?

__ADS_1


Samuel membantin seraya melirik Ara memugut kaos kebesaran miliknya di lantai. Merasa Ara kesusahan untuk berjalan, Samuel lantas bangun dan mengendong Ara ke kamar mandi berbalutkan handuk di sisi ranjang.


"Kenapa mengendongku?"


"Karena mau, apa lagi?" Mengecup bibir Ara yang tampak membengkak karena ulahnya. Diam-diam pria itu tersenyum, bahagia rasanya bisa menjadi yang pertama untuk Aranya.


***


Deringan ponsel terus saja bersahut-sahutan satu sama lain. Membuat pangantin baru yang baru saja terlelap setelah olahara di pagi hari terpaksa membuka matanya.


Samuel meraba ponselnya lalu menolak panggilan begitu saja, berbeda dengan Ara yang menjawab panggilan penting dari seseorang.


"Siapa?" bisik Samuel menarik Ara bersandar di dadanya.


"Direktur rumah sakit," balas Ara berbisik sebelum bicara pada direktur tempatnya bekerja.


"Baik pak, saya kesana sore ini," ucap Ara sebagai akhir dari pembicaraan.


Wanita itu meletakkan ponselnya di atas nakas, melirik Samuel yang masih setia memejamkan mata dengan bibir pria itu berada di keningnya.


"Aku harus pergi," bisik Ara.


"Kemana?" Tanpa membuka mata.


"Rumah sakit, cuma sebentar Abang. Sekalian pulang kerumah bunda."


"Udah aku bilang hari ini nggak boleh kemana-mana, terlebih ke rumah sakit. Bukannya kamu sudah izin selama satu minggu? Apa aku harus ...." Samuel mengigit bibir bawahnya karena mendapat kecupan cinta dari sang istri. "Kamu menggodaku, hm?"

__ADS_1


"Diamlah Bang, aku cuma sebentar. Setelah dari rumah sakit kita jemput Asa sekalian pamit sama orang tua buat tinggal di rumah sendiri."


"Secepat itu? Apa Asa tidak bisa tinggal sama bunda? Cuma sebulan."


"Bisa, tapi aku juga harus tinggal di sana."


Samuel bungkam, untuk yang satu ini dia tidak mungkin sanggup, terlebih setelah mencicipi tubuh istrinya yang sangat menggoda meski terlihat mungil.


"Apa kamu yakin mau pergi dengan kondisi seperti itu?" tanya Samuel sedikit berteriak ketika Ara hampir menghilang di balik pintu kamar mandi dengan langkah tertatih.


"Bisa."


"Bohong!"


"Bisa Abang!"


"Ya udah kita coba lagi."


"Apanya?" Menyembulkan kepala di balik pintu kamar mandi.


"Bikin dedek buat Asa."


"Apasih, Abang udah nggak waras. Diam-diam menghanyutkan, tampilannya aja cool nggak suka cewek, tapi ternyata mesum. Mana sering nontong anu lagi!"


"Apa?" Kening Samuel mengernyit tanpa ingin turun dari ranjang.


"Periksa sendiri ponsel Abang," sahut Ara yang telah menjelajahi ponsel suaminya setelah mereka melakukan olahraga pagi tadi.

__ADS_1


__ADS_2