Lost Love

Lost Love
Part 24 - Ara dan kebesaran hatinya


__ADS_3

Ara mendekati brangkar di mana seorang gadis tengah berbaring dengan selang infus di tangannya. Gadis imut itu berdiri seraya meremas jari-jari tangannya.


"Maafin Ara ya udah buat kamu masuk rumah sakit, semalam Ara iseng chat Sasa karena kesal sama Abang. Ar-ara bukan tunangannya Abang kok, Ara cuma sepupu Abang," lirih Ara menundukkan kepalanya, hatinya terasa sakit ketika menyesali bahwa Samuel bukanlah tunangannya.


Padahal impian Ara adalah mempubliskasikan kalau Samuel adalah miliknya seorang.


"Jadi kamu beneran sepupu El, bukan tunangannya?" tanya Sasa memastikan.


"Iya, maafin Ara ya. Cepat sembuh Sasa," balas Ara dengan senyuman.


Gadis imut itu menyingkir ketika Samuel mendekati brangkar. Mata Ara mengerjap perlahan melihat bagaimana Samuel memperlakukan Sasa begitu lembut dan penuh kasih Sayang.


"Lo udah makan siang?"


"Udah mas Pacar, ini lagi nungguin kamu. Kata dokter udah bisa pulang, tapi aku ngomongnya setelah mas pacar datang aja," jawab Sasa dengan senyuman, tanpa tahu ada hati yang tersakiti di ruangan itu.


Tidak sanggup melihat interaksi Sasa dan Samuel yang membuatnya iri, Ara segera mendekati kedua manusia berbeda generasi tersebut.


"Ara mau bulang Bang, Ara lapar," ucap Ara berharap Samuel menawarkan makanan untuknya.


"Eh aku lupa masih ada kamu. Maaf juga ya udah salah paham, kalau tau kamu cuma sepupunya El aku nggak bakal marah."


"Iya," sahut Ara tanpa mengalihkan tatapannya pada Samuel yang tengah membantu Sasa berdiri.


"Abang ...."

__ADS_1


"Lo nggak liat gue lagi sibuk, hm?" tanya Samuel yang mulai muak mendengar rengekan Ara.


"Mas Pacar anter Ara pulang dulu! Kasian dia lapar. Nanti ke sini lagi jemput aku, nggak papa," ucap Sasa menengahi.


"Baiklah!"


Samuel melepaskan rangkulannya pada tubuh Sasa, lalu menarik kasar tangan Ara keluar di ruangan tersebut.


Kalau saja Ara bisa seperti Sasa, maka Samuel tidak akan sebenci ini pada Ara. Cukup menjadi tunangan tanpa mengusik hidupnya, maka dia tidak akan kasar pada Ara.


Tapi apa boleh buat, sejak kecil Ara selalu saja bawel dan membuat Samuel naik pitam.


Laki-laki wajah dingin itu menghentikan langkahnya setelah berada di luar rumah sakit. Mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu menatap Ara.


"Keen bentar lagi jemput lo," ucap Samuel kemudian berlalu pergi.


"Ara pengen dimanja juga kayak Sasa," lirih Ara. "Bunda, Ara capek tapi Ara suka sama Abang," lanjut Ara memutuskan duduk di anak tangga depan rumah sakit menunggu Keenan.


Ara tidak berbohong tentang lapar, karena memang tidak makan sejak pagi, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 2 siang.


Tadi dia sibuk belajar dan mengerjakan tugas agar bisa mendapat nilai tinggi dan memperlihatkan pada Samuel. Mungkin dengan begitu tunangannya akan sedikit membuka hati.


"Minum dulu!" Ara mendongak ketika seseorang memberinya minuman dingin.


"Edgar kok ada di sini?" tanya Ara.

__ADS_1


"Mama gue sakit. Lo ngapain?" tanya balik Edgar.


"Habis ketemu pacar tunangan Ara," jawabnya dengan wajah polos.


Edgar mengaga tidak percaya mendengar jawaban gadis polos tersebut. Ayolah, sebesar apa hati Ara sampai rela bertemu dengan pacar dari tunangannya?


"Lo bisa bercanda juga?"


"Ara nggak bercanda, Ara udah tunangan. Ini ...." Ara memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya, dan itu malah membuat Edgar semakin kasihan melihat Ara.


Gadia imut yang mengemaskan juga baik hati, kenapa harus di sakiti begitu dalam? Edgar berdiri dan menarik tangan Ara.


"Gue punya kenalan dokter, ayo obatin memar lo! Sekalian ketemu mama gue ...."


"Nggak perlu!"


Ara dan Edgar langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Keenan berdiri di sana.


"Kak Keen udah datang?"


"Belum, masih di jalan. Ini cuma kembarannya," jawab Keenan dengan senyuman, menarik tangan Ara lembut agar menjauhi Edgar.


"Jangan kencang-kencang! Tangan Ara sakit," lirih Ara membuat Keenan langsung melepaskan genggaman tangannya.


Sontak laki-laki penyayang itu memperhatikan pergelengan tangan Ara. "Ini kenapa? El main fisik sama lo Ra?"

__ADS_1


"Nggak kok, Ara jatuh ...."


"Bohong!"


__ADS_2