Lost Love

Lost Love
Part 58 ~ Keraguan


__ADS_3

"Abang, Ara udah cantik?" tanya Ara seraya memperbaiki bando warna pink yang telah di belinya tadi.


"Jelek," sahut Samuel.


Ara mengerucutkan bibirnya tidak suka, meski begitu tetap saja mengikuti langkah Samuel yang akan membawanya kemana.


Senyuman gadis imut tersebut mengembang ketika dari kejauhan melihat calon mertuanya duduk sendiri. Dia segera melepaskan genggaman Samuel lalu berlari seraya berteriak.


"Mami!" teriak Ara tanpa memperdulikan orang-orang yang langsung memperhatikannya.


Karena tingkah ceroboh dan kekanak-kanakannya, dia menabrak seseorang hingga terjatuh ke lantai.


"Aaaawwhhhh, pantat Ara sakit," lirih gadis imut tersehut mengusap pantatnya yang membentur lantai marmer.


Samuel yang melihat hal tersebut segera mempercepat langkahnya dan menolong Ara.


"Jangan lari-lari dong, kampungan!" ucap gadis yang tidak sengaja ditabrak oleh Ara.


"Maafin Ara, Ara nggak liat tadi."


Bukannya menerima maaf, gadis yang ditabrak Ara malah tertawa mengejek. "Ara ... Ara dan Ara. Lo manggil nama sendiri? Anak kecil banget tau nggak."


"Sudah?" tanya Samuel mulai tidak suka melihat tingkah Sesil. Gadis yang sangat Samuel kenal. Gadis itu adalah teman baik Sasa.


"Ah sorry, gue nggak tau kalau dia pacar lo. Enak ya, setelah Sasa meninggal sekarang dekat sama cewek lain. Mana ceweknya modelan bayi lagi," ejek Sesil.


Samuel menatap tajam Sesil, melangkah semakin maju hingga tubuh mereka sangat dekat. Dia mencengkram pundak Sesil cukup keras.


"Pergilah!" perintah Samuel.

__ADS_1


"Nggak!" Sesil mendorong tubuh Samuel sekuat yang dia bisa, lalu kembali menghampiri Ara.


"Lo tuh cuma pelampiasan, kalau aja Sasa nggak pergi, Samuel mana mau sama lo. Gadis kayak anak kecil dan pecicilan, bodoh kayak lo nggak mungkin ada yang suka. Kelaut sana," bisik Sesil lalu pergi begitu saja.


Sebenarnya bukan Ara yang menabrak Sesil, tapi Sesil sendiri yang menabrakkan diri atas perintah seseorang.


Gadis itu bertujuan untuk menyerang mental Ara agar menjauh dari Samuel sesuatu yang dingingkan Sagara.


***


Ara duduk di samping Fany tanpa mengatakan apapun. Padahal sejak tadi dia sangat senang karena Samuel menuruti semua keinginanya.


"Kalau niatnya jalan berdua aja, kenapa harus manggil mami hah?" omel Fany.


Namun, tidak ada yang menyahut di antara Ara maupun Samuel. Keduanya sibuk menyantap makanan yang telah di pesan olehnya tadi.


Fany yang merasakan aroma-aroma tidak enak dari kedua anak-anaknya, segera melirik Ara lebih dulu. Gadis yang selalu jujur jika dia bertanya.


Ara mengelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Ar-ara mau pulang," lirih Ara.


"El, kamu apain Ara lagi?" kini Fany beralih pada putranya.


"Nggak tau," jawab Samuel acuh.


Karena suasana yang tidak konduktif dan Ara tidak seceria saat pertama kali menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan. Akhirnya Fany memilih pulang, lagipula wanita paruh baya itu sudah membeli banyak barang, untuknya juga Ara, tapi tidak untuk Samuel sendiri.

__ADS_1


"Mami ada urusan sebentar, kalian pulanglah lebih dulu!" perintah Fany.


Jelas wanita paruh baya itu berbohong. Dia hanya ingin memberi waktu anak dan calon menantunya untuk bicara berdua saja.


"Hm."


Samuel segera melajukan Buggati mirstal hitam tersebut keluar dari lingkungan pusat perbelanjaan. Terjadi keheningan sepanjang jalan karena Ara terus diam sama.


Dia melirik tunangannya sekilas.


"Lo kenapa?" tanya Samuel yang benar-benar tidak mengerti dengan tingkah Ara saat ini.


"Ara mau pulang."


"Jawab gue!" desak Samuel dengan nada sedikit tinggi.


Sontak, Ara langsung menatap Samuel yang fokus pada jalanan. "Abang suka sama Ara?"


"Nggak," jawab Samuel.


"Iya, Ara tau," lirih Ara kembali menundukkan kepalanya. "Abang dekat-dekat sama Ara karena Sasa udah meninggal padahal Abang nggak suka sama Ara. Kata orang tadi, Ara cuma pelampiasan Abang aja."


Cit ...


Decitan ban mobil terdengar nyaring ketika Samuel menginjak rem secara tiba-tiba. Laki-laki wajah dingin tersebut melepas sabuk pengamannya lalu menatap Ara yang masih menunduk.


Dia memegang kedua pundak Ara agar menatapnya. "Sejak kapan Ara suka dengerin omongan orang hm? Bisa nggak lo hidup tanpa dengerin omongan orang?"


"Ara sedih dan marah kalau dibandingin sama Sasa. Dia udah mati tapi tetap aja mau rebut Abang dari Ara."

__ADS_1


"Nggak ada yang bisa rebut gue dari lo dan sebaliknya! Jadi berhenti murung karena omongan orang yang sama sekali nggak lo kenal Ara!"


__ADS_2