Lost Love

Lost Love
Part 160 ~ El butuh Ara


__ADS_3

Samuel terus melangkahkan kakinya memasuki lingkungan sekolah SMA Angkasa. Tatapan kosong, beserta wajah pucat menemaninya pagi ini.


"Anjir gue kira mayat hidup," sambut Rayhan di depan kelas. Untuk pertama kalinya dia datang cepat karena mendapat amukan dari bu dokter tercinta.


"Woy El, kok diam aja? Napa lo, kesurupan?" tanya Ricky menepuk pundak Samuel.


Namun, respon yang diberikan Samuel diluar dugaan. Laki-laki itu menepis tangan Ricky dan melewati teman-temannya begitu saja.


"Napa tuh anak?" celetuk Keenan.


"Ntahlah, keknya lagi putus cinta," sahut Dito mengedikkan bahunya acuh.


Keempat laki-laki tampan itu segera membubarkan diri menuju ruangan masing-masing, sementara Samuel telah berada di dalam ruangan seorang diri.


Duduk melamun tanpa gairah hidup, itulah yang tengah Samuel alami, terlebih penyesalan dalam dirinya sungguh besar setelah mendapat penjesalan dari papinya.


"Ini memang salah gue, harusnya sejak awal gue nggak nerima perjodohan itu," batin Samuel.


***


Sesi ujian telah selesai, semua siswa berhamburan keluar dari ruangan yang akan disi oleh peserta lainnya. Samuel berjalan lesu di koridor sekolah tanpa mengidahkan panggilan dari teman-temannya.


Bahkan saat Rayhan merangkul pundak Samuel, dia langsung menepisnya begitu saja.

__ADS_1


"Napa sih? Kek cewek lagi PMS dah," celetuk Rayhan masih belum mengerti kenapa Samuel bertingkah aneh.


Karena memang selama ini belum ada yang tahu kalau Ara telah pergi meninggalkan luka dihati sahabatnya.


Langkah Rayhan ikut berhenti ketika Samuel menghempastangannya dan berlari ke arah lapangan. Di sana Edgar sedang mengurus sesuatu bersama anggota osis lainnya.


"Samuel, bego!" teriak Dito dan Keenan serempak ketika sebuah pukulan mendarat di wajah Edgar.


Edgar terhempas ke lapangan basket karena pukulan tiba-tiba dari Samuel.


"Lo kan yang cepu sama orang tua Ara!" bentak Samuel dengan mata memerah. Sebelah tangannya mencengkram seragam Edgar, sementara tangannya yang lain berada di udara bersiap kembali memberi bogeman ke wajah Edgar.


Sementara Edgar yang tidak tahu apa-apa berusaha melepaskan cengrakam Samuel di kerah seragamnya. "Lo ngomong apa hah? Gue bukan orang gabut yang mau ngurusin hidup orang!" sentak Edgar.


Edgar berdiri dibantu oleh Ricky.


"Kalau bukan lo siapa, sialan? Ara ninggalin gue itu semua karena salah lo!" teriak Samuel tanpa memperdulikan tatapan siswa lainnya.


"Ara dimana? Lo pasti tau dia pergi kemana. Jawab gue!"


"Gue nggak tau El, berhenti nyari masalah sama gue!" Edgar membentak balik dan segera meninggalkan lapangan.


Berbeda dengan Samuel yang masih diliputi amarah. Hanya dalam satu sentakan, Samuel berhasil melepaskan diri dari Dito dan Keenan.

__ADS_1


"Anji*ng lo semua!" umpat Samuel dan berlalu lagi.


"Kayaknya kita punya masalah baru, selidiki To!" perintah Keenan berusaha mengejar Samuel.


Laki-laki itu jika marah seperti orang gila, semua orang akan salah dimatanya.


***


Suara barang-barang berjatuhan kembali terdengar di dalam kamar, padahal beberapa pelayan baru saja membereskan kekacauan.


"Kenapa Ra? Kenapa lo ninggalin gue? Gue udah minta maaf, gue berusaha buat jadi lebih baik, tapi lo ninggalin gue gitu aja." Samuel mulai terisak setelah mengacaukan kamarnya sendiri.


Laki-laki yang menyukai kerapian itu hilang entah kemana.


"Sebenci itu lo sama gue, sampai boneka dan cincin lo kembaliin?" Tubuh Samuel bergetar hebat.


"Harusnya lo mukul gue atau bunuh gue aja Ra, daripada lo pergi kayak gini. Maaf gue salah karena lupa sama janji buat nemuin lo, tapi gue cuma mau nyelesain masalalu gue, itu aja. Gue mau kita hidup tanpa bayang-bayangan masa lalu."


Samuel melirik pintu yang terbuka lebar, lalu membuang tatapannya setelah tahu siapa yang datang.


"Samuel, makan dulu ya Nak? Katanya mau jadi orang sukses biar Ara bangga," bujuk Fany.


Ini sudah sore, tapi belum ada yang masuk ke perut Samuel, bahkan setetes air sekalipun.

__ADS_1


"El nggak butuh makanan, El butuh Ara," lirihnya.


__ADS_2