Lost Love

Lost Love
Part 93 ~ Ingin menjadi sandaran


__ADS_3

Langkah Ara terhenti di depan pintu kamar Oma Jelita ketika mendengar suara seseorang menangis. Dia yang berniat menemui Samuel lagi setelah bertemu Mami Fany segera mengurungkan niatnya.


Ara tidak menyangka, Samuel bisa menangis juga karena takut kehilangan orang tersayangnya. Tidak ingin mengganggu, dia langsung saja menuju kamar dan menunggu Samuel di sana.


Selang beberapa menit, akhirnya pemilik kamar datang juga. Tanpa banyak basa-basi, Ara langsung memeluk tunangannya cukup erat.


"Kenapa lo?"


"Ara mau hibur Abang. Ara mau jadi sandaran buat Abang kalau lagi sedih," jawab Ara tanpa ingin melepaskan pelukannya.


"Gue nggak sedih," sahut Samuel tapi tidak melerai pelukan yang terasa nyaman tersebut.


"Tetap aja Ara mau hibur." Ara semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Samuel. Dia berpikir dengan memeluk, maka perasaan seseorang akan sedikit membaik.


Dia mendongakkan kepalanya hingga tatapannya dengan Samuel bertemu. Terlebih sejak tadi Samuel sudah menatap Ara tanpa gadis itu sadari.


"Abang liatin Ara?"


"Nggak."


"Abang nggak pegal berdiri?" tanya Ara lagi.


"Nggak." Bagaimana mungkin Samuel lelah padahal pelukan Ara sangat nyaman.


Tatapan laki-laki wajah dingin itu masih tertuju pada manik indah Ara. Dia perlahan-lahan menundukkan kepalanya, tepat saat hidung mancungnya menyentuh hidung mancung Ara, decitan pintu terdengar.


"Kalian lagi ngapain?"


Sontak, Samuel langsung mendorong Ara agar menjauh dari tubuhnya, membuat gadis itu terhempas ke atas ranjang.

__ADS_1


"E-el ke kamar mandi dulu," gugup Samuel. Hampir saja dia tertangkap basah oleh maminya sendiri.


Sepertinya dia dan Ara tidak boleh ditinggalkan berdua saja seperti ini, atau kejadian yang tidak diingingkan akan terjadi, terlebih Ara sangat mengemaskan.


Jika Samuel melarikan diri ke kamar mandi, berbeda dengan Ara yang kini memperbaiki posisinya dan menatap Fany dengan senyuman tanpa rasa bersalah.


"Kamar tamu udah siap Nak, Mami juga udah siapin seragam sekolah Ara buat besok. Ayo!" ajak Fany menarik tangan Ara agar segera berdiri.


"Ara belum pamit sama Abang."


"Nggak udah pamit, besok ketemu lagi di meja makan," jawab Fany penuh senyuman.


Ara mengangguk patuh, mengikuti langkah Fany menuju lantai dasar.


"Kata pelayan, Ara bermalam di mansion semalam? Tidur satu kamar sama Abang." Fany memulai pembicaraan.


Ara mengangguk. "Iya Mam, Ara nginap disini semalam soalnya tangan Abang luka dan udah tengah malam pulang kerumah."


"Iya, awalnya Ara tidur di sofa peluk Abang, tapi setelah bangun ada di tempat tidur."


Fany mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Meski sudah bertunangan dan sering membiarkan Ara dan Samuel bersama, bukan berarti Fany memaklumi perbuatan-perbuatan yang tidak seharusnya.


Sebagai orang tua, dia tidak boleh menjerumuskan anak-anaknya pada hal yang salah.


"Selain pelukan, Ara ngapain aja sama Abang?"


"Oh Ara juga ...."


"Mami, El lapar!" teriak Samuel dari belakang dan itu berhasil mencegah Ara bicara.

__ADS_1


"Ya udah makan aja, Mami mau anter Ara ke kamar dulu," sahut Fany.


"Biar El aja. Mami dipanggil sama Papi," lanjut Samuel yang tidak mau Ara dan Maminya berbicara banyak hal.


Ara sering kali membocorkan sesuatu yang dia sukai.


"Ayo Ra." Samuel menarik tangan Ara menuju kamar tamu. Ikut masuk dan menutup pintu.


"Abang kenapa masuk juga?" tanya Ara bingung.


"Jangan bocor!" titah Samuel.


"Ara nggak bocor, Ara lagi nggak datang bulan Abang."


"Jangan cepu Ra."


"Cepu apaan Bang? Ara nggak ngerti ih."


Samuel menghela nafas panjang melihat tingkah bodoh Ara. Dia segera menempelkan punggung tangannya di bibir Ara lalu menempelkan bibirnya di sisi tangan lainnya.


"Jangan ngomong sama Mami kalau gue nyium lo," ucap Samuel dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan detak jantung Ara yang mulai tidak normal.


Meski Samuel tidak menciumnya secara langsung tadi, rasanya dia seperti disengat aliran listrik. Sungguh perutnya seperti digelitik ribuan kupu-kupu sakin bapernya.


Dia langsung merebahkan tubuhnya dan membuka twiter. Sosial media yang dia miliki berkat Alana.


Dia mengunggah status sesuai suasana hatinya.


__ADS_1


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.


__ADS_2