Lost Love

Lost Love
Part 41 ~ Kenapa selalu Ara yang salah?


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit, Ara tidak pernah lagi mengunjungi mansion Samuel. Tidak pernah menghubungi apa lagi bertanya kabar tentang tunangannya itu.


Tapi untuk membatalkan pertunangan, Ara belum siap memberi tahu orang tuanya juga Mami Fany, hingga kini dia lebih memilih menyimpan cincin tersebut di rumahnya sendiri.


Sudah seminggu sejak jarak antara Ara dan Samuel terbentang. Jika boleh jujur, gadis imut itu sangat merindukan Samuel, tapi apalah daya dia harus menepati janjinya karena selama sebulan, Samuel juga menepati janji padanya.


"Ara, yuhu!" teriak Alana membawa nampang pesanannya sendiri. Kini gadis itu berada di kantin sekolah.


"Jadi beneran lo nyerah Ra? Kayaknya El suka deh sama lo. Lagian sekarang Sasa udah meninggal ...."


Uhuk


Ara tersedak mie yang baru saja masuk dimulutnya. Dia langsung saja mengambil tisu lalu melapat meja yang kotor karena ulahnya. Gadis imut itu menatap Alana tidak percaya.


"Sasa meninggal?" tanya Ara dengan wajah polosnya. Memang selama ini Ara tidak tahu tentang berita tersebut, dia terlalu fokus menghindari Samuel dan inti Avegas lainnya.


"Jadi lo nggak tau kalau Sasa meninggal? Dia meninggal pas lo dirawat di rumah sakit. Katanya sih bunuh diri, gue juga nggak ...."


"Ara pergi dulu ya kak," pamit Ara tanpa ingin mendengarkan cerita Alana lebih lanjut lagi.

__ADS_1


Gadis imut itu kembali menghampiri Alana ketika teringat sesuatu. "Abang El ada di mana?" tanyanya.


"Warung bu Warni."


Ara mengangguk mengerti, dia segera berlari dengan kaki mungilnya menuju warung yang terdapat di luar sekolah. Langkahnya berhenti karena panggilan seseorang dari belakang.


"Ra, mau kemana?" tanya Edgar berjalan menghampiri Ara.


"Ara mau ke warung samping sekolah, Milo mau ikut? Ara mau ketemu sama Abang, Ara mau hibur Abang karena habis di tinggal sama pacarnya," jelas gadis itu panjang lebar.


Edgar tersenyum seraya mengecak-acak rambut Ara yang kini tergerai indah. "Baik banget sih lo sama tunangan sendiri, sampai peduli pas pacarnya meninggal," ucap Edgar.


Memang laki-laki itu sedikit tahu kisah Ara, karena gadis imut itu sendiri yang bercerita padanya saat dia bertanya kenapa Ara tidak lagi memakai cincin pertunangan.


Ara mengangguk dan mengikuti langkah lebar Edgar menuju pagar sekolah, mereka berhenti ketika dihadang oleh penjaga.


"Mau kemana Nak Edgar?"


"Ini mau ambil pesanan bu Rita di tempat fotokopy sebelah Mang. Edgar sama Ara boleh keluar nggak?" bohong Edgar hanya untuk memenuhi keinginan Ara.

__ADS_1


Sesekali memanfaatkan posisinya sebagai ketua osis tidak masalah.


Senyuman Ara dan Edgar mengembang ketika pagar langsung di buka tanpa ada pertanyaan lain lagi.


Keduanya langsung saja melangkah ke warung yang tidak jauh dari sekolah. Berjalan sama-sama memasuki warung yang tengah dihuni 6 laki-laki tampan.


"Abang!" panggil Ara tanpa melepaskan genggaman tangannya, entah sadar atau tidak.


Orang yang dipanggil langsung saja menoleh. Tatapan Samuel langsung saja tertuju pada tangan yang saling mengenggam tersebut. Laki-laki wajah dingin tersebut menunggu Ara mendekat dan bicara. Ah sudah lama mereka tidak bertemu sejak perjanjian itu berakhir.


"Ara baru tahu kalau Sasa meninggal. Ara turut berduka atas ...."


"Puas lo? Inikan yang lo mau sejak awal? Sasa pergi dari hidup gue!" bentak Samuel berapi-rapi tanpa ingin mendengar kata-kata Ara lagi.


Ara mundur satu langkah karena takut. "Ke-kenapa Abang ngomong gitu? Ara nggak pernah berharap Sasa meninggal. Ara ...."


"Lo itu pembunuh Ra, kalau aja lo nggak sakit dan ceroboh, Sasa nggak mungkin bunuh diri. Memang dasarnya lo tuh benalu dalam hidup gue!" geram Samuel, tangannya terkepal hebat.


"Dasar cewek murahan! Bilang aja lo memang mau kabur dari pertunangan karena selingkuh sama dia kan? Lo hamil makanya ...."

__ADS_1


Plak


Untuk pertama kalinya, Ara berani menampar wajah Samuel lumayan keras, tangan mungil itu bergetar hebat.


__ADS_2