
Baru saja Ara akan membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah mandi sore. Ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas nakas tiba-tiba berdering.
Gadis itu menghela nafas panjang, menjadi dokter apalagi dokter bedah membuat dia harus kehilangan waktu istirahatnya jika sedang terjadi sesuatu di rumah sakit.
Seperti sekarang ini, Edgar menelponnya tentu saja memberikan kabar buruk.
"Kenapa Edgar?" tanya Ara setelah menjawab panggilan dari sahabat lamanya.
"Ada korban kecelakaan dan butuh penangan serius Ra, lo bisa datang kan? Dokter lain sedang berada di ruang operasi juga!"
"Bisa, 10 menit aku sampai."
Ara memutuskan sambungan telponnya dan segera bersiap-siap. Berlari menuruni satu persatu anak tangga sambil menenteng jas dokter, ponsel dan kunci mobilnya.
Gadis itu hanya mencepol asal rambutnya yang belum terlalu kering.
"Jangan buru-buru, hati-hati bawa mobilnya!" Teriak Kirana dan hanya dibalas lambaian tangan dari Ara sebelum menghilang dari pandangan wanita paruh baya itu
***
"Udah sore gue harus pulang." Samuel berdiri dari duduknya setelah lama saling bercanda dengan teman-temannya.
Ada sedikit rasa iri di hati Samuel ketika mendengar teman-temannya membicarakan tentang istri atau anak-anak mereka. Samuel juga ingin seperti mereka, sayangnya gadis yang dia cari tidak kunjung datang.
__ADS_1
"Ikut dah gue, nggak sekaratpun." Ricky ikut berdiri diikuti yang lainnya.
"Anjir, lo tega ninggalin gue sendiri?" tanya Rayhan mendramatis keadaan.
"Telpon Giani sana, kita juga ada urusan kali!" Celetuk Azka.
"Nggak bakal mati kok." Samuel benar-benar meninggalkan ruang perawatan sepupunya bersama Azka, Ricky, Dito dan Keenan.
Sepanjang jalan mereka masih saling melempar tawa sebelum akhirnya langkah ke lima pria tampan itu berhenti di depan lift saat tidak sengaja melihat seorang gadis baru saja keluar dari ICU.
"Ara bukan sih?" celetuk Keenan memperhatikan gadis dengan jas dokter berjalan tidak semangat sambil meminum sesuatu.
"El, Ara njir!" Ricky mendorong tubuh Samuel yang tiba-tiba membeku.
"Samperin gih, kita cabut dulu." Azka mendorong tubuh Semuel sebelum pergi bersama teman-temannya yang lain.
Sementara Samuel berjalan perlahan mendekati Ara yang sedang menuju meja resepsionis. Sesekali pria itu mengerjapkan matanya untuk memastikan bahwa dia sedang tidak halusinasi karena terlalu merindukan Aranya.
"Ara!" panggil Samuel semakin mempercepat langkahnya.
Ara yang sedang berbicara dengan petugas resepsionis lantas membalik tubuhnya dan terkejut melihat pria yang dia benci sekaligus rindukan ada di belakangnya.
Bahkan pria itu langsung memeluk tubuhnya cukup erat.
__ADS_1
"Gue kangen sama lo Ra. Kenapa baru muncul sekarang? Lo nggak tau gimana kangennya gue selama ini, hm," bisik Samuel tepat di telinga Ara.
"Lepasin Ab- Samuel!" Mendorong dada bidang Samuel cukup keras agar pelukan terlerai.
Dengan terpaksa Samuel mengalah, menatap wajah cantik Ara dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Makasih Ra udah kembali lagi. Kita bisa kan kembali seperti dulu?"
"Aku harus pergi!" Menyentak tangan Samuel tanpa ingin menatapnya.
Ara berjalan sangat cepat meninggalkan Samuel, tapi langkahnya berhenti karena kalimat mantan tunangannya tersebut.
"Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue 14 tahun yang lalu tanpa berpamitan?"
Ara senyum sinis tanpa membalik tubuhnya. "Bahkan sampai sekarang lo masih Samuel yang dulu. Egois dan nggak pernah menyadari kesalahan sendiri," jawabnya dan berlalu pergi.
"Bunda!" teriakan anak kecil dari pintu masuk membuat senyuman Ara mengembang sempurna.
"Asa? Kenapa kerumah sakit Sayang? Bunda kan udah nitip Asa sama Oma tadi."
Ara berjongkok dan langsung memeluk putrinya yang sangat mengemaskan, hal itu membuat dada Samuel seakan dihantam ribuan jarum.
"Sampai disini? Nggak, kisah gue bahkan belum dimulai," batin Samuel dengan tangan terkepal hebat. Ulu hatinya terasa nyeri ada gadis berusia 4 tahun memanggil Aranya bunda.
__ADS_1