
Langkah Ara berhenti di depan pintu ruangan rawat seseorang ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan yang cukup menusuk ulu hatinya.
Ara sadar, ternyata bukan cuma dirinya yang menderita di sini. Dia menderita hanya karena ancaman Sagara, tapi tidak dengan laki-laki yang tengah berbicara dengan mamanya.
Dipaksa dewasa oleh keadaan, mungkin itulah yang bisa menggambarkan kondisi Edgar untuk saat ini. Ara sedikit tahu kisah keluarga Edgar, sebab dia sering kali mendengarnya dari mulut Edgar sendiri.
Ara juga tahu kalau ayah Edgar menikah dengan wanita lain. Dia mengetahuinya ketika jalan-jalan bersama laki-laki itu ke supermarket dan tidak sengaja bertemu ayah Edgar.
Ara mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengetuk ruang rawat tersebut. Tujuannya ke sini untuk menjeguk mama Edgar bukan bertemu Edgar jadi Samuel tidak akan marah pikir Ara.
Dia melempar senyum setelah membuka pintu perlahan-lahan.
"Ara?" Edgar berdiri dari duduknya.
"Maaf Ara ganggu," ucapnya.
"Sama sekali nggak, ayo duduk dulu!" pinta Edgar menarik kursi untuk Ara. Sulit dipungkiri bahwa kini Edgar sangat bahagia kedatangan Ara di ruangan mamanya.
"Ara bawa buah buat tante, jangan lupa dimakan ya," ucap Ara setelah duduk di samping berangkar, sementara Edgar berdiri di sampingnya.
"Makasih Nak. Tante senang kamu datang lagi."
"Tante nunggu Ara?" Dia mengerjap-erjapkan matanya tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, tante nunggu Ara datang sama Edgar. Soalnya kalau Ara datang, mata Edgar berbinar nak," ucap wanita paruh baya tersebut membuat Edgar sedikit salah tingkah.
"Edgar keluar bentar Ma," ucap Edgar langsung meninggalkan Ara di ruangan mamanya.
Jantung Edgar berpacu sangat hebat saat tahu orang yang berkunjung tiba-tiba adalah orang yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Dia yang tengah bersandar pada tembol menoleh ketika mendengar decitan pintu.
"Ra, lo mau balik?" tanya Edgar.
"Iya, Ara mau balik. Ara udah bicara sama mama Milo," jawabnya.
"Makasih ya Ra udah mau jengukin Mama. Akhir-akhir ini mama sering nanyain lo, tapi nggak enak minta langsung. Aku juga minta maaf karena udah mukul Samuel hari itu."
Baru saja akan memesan taksi, motor besar berhenti tepat di hadapannya.
"Ka-kak Saga?" Ara menelan salivanya kasar melihat siapa pemilik motor tersebut.
"Mau pulang kan?" Ara mengangguk ragu. "Ya udah naik!" perintah Sagara.
Bukannya naik, Ara malah mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mendapati motor merah hitam yang sangat dia kenali. Pemilik motor tersebut menatapnya seakan mengatakan JANGAN. Namun, dia memutuskan untuk naik ke motor Sagara dan memeluknya cukup erat.
"Kak Saga tau Ara di sini?"
__ADS_1
"Gue udah bilang mantau lo 24 jam. Lo habis ketemu maminya Samuel dan jenguk mamanya teman lo," jelas Sagara.
Ara menelan salivanya cukup kasar. "Kak Saga nggak marah?"
"Selama lo jauhin El, dia aman!"
Mendengar jawaban Saraga, membuat Ara sedikit bernafas lega. Dia melepaskan pelukannya setelah menjauh dari lingkungan rumah sakit.
Dia tadi sengaja memeluk Sagara karena melihat Samuel berada di sekitar rumah sakit. Ara ingin Samuel marah dan menjauhi dirinya agar tidak terluka.
Gadis imut itu lebih baik kehilangan cintanya daripada harus membuat Samuel terluka apa lagi meninggalkan dirinya tanpa bisa ditemui lagi.
Setelah motor berhenti dengan aman, Ara segera turun dan melepas helm yang melekat di kepalanya.
"Makasih kak udah anter Ara pulang," ucapnya tanpa ingin menatap Sagara.
"Hm."
Dia memadangi motor yang baru saja meninggalkan rumahnya. Tubuh yang sejak tadi bergetar hebat itu kini luruh di atas rumput. Sekuat tenaga dia berusaha baik-baik saja, tetap rasa takut menjadi pemenangnya.
"Ara nggak boleh nangis, Abang nggak suka kalau Ara nangis," gumamnya berusaha agar air mata tidak jatuh membasahi pipinya.
Semua tingkahnya sejak tadi di perhatikan oleh laki-laki yang sejak tadi mengikuti dari rumah sakit.
__ADS_1