
Jika kalian mengira Samuel benar-benar menuruti keinginan maminya dan Ara, maka itu salah besar.
Laki-laki yang tengah diperintahkan membeli pembalut tersebut malah duduk di atas motornya seraya memainkan benda pipih di tangan.
Samuel sibuk menghubungi seseorang untuk meminta bantuan agar bersedia membelikan pembalut untuknya.
"Halo Al," ucap Samuel setelah sambungan telpon terhubung pada sepupu kesayangannya.
"Napa lo Bang? Tumben nelpon gue," sahut Alana diseberang telpon.
"Album, foto card, tiket konser atau novel?" Samuel mulai mengabsen sesuatu yang disukai oleh gadis itu.
"Perasaan gue nggak enak, Bang. Tumben aja lo baik gini tanpa gue harus ngemis-ngemis dulu. Hayo loh lagi ada maunya ya," tebak Alana diseberang telpon.
Samuel mengambil nafas panjang, sepertinya dia salah orang jika meminta Alana membantunya. Meski begitu, laki-laki wajah dingin tersebut tetap mengatakan niatnya.
"Beliin Ara pembalut dan pegang Atm gue selama seminggu," ucap Samuel.
"Tawaran yang bagus."
Senyuman Samuel terbit, dia tidak masalah jika isi Atm nya terkuras habis, asalkan bukan dia yang membeli benda memalukan tersebut.
"Tapi Sorry Bang, suami gue lebih kaya. Jangankan tiket konser, ketemu Astro aja gue bisa. Lagian apa salahnya sih beliin pembalut tunangan sendiri. Pak Alvi yang gantengnya kelewatan aja kalau gue datang bulan, pasti dibeliin."
Tut
Rahang Samuel mengeres ketika sambungan telpon terputus begitu saja. Ternyata rayuan yang dia berikan pada Alana tidak mempan sama sekali.
__ADS_1
"Mentang-mentang jadi istri pak Alvi," cibir Samuel mengotak-atik ponselnya untuk mencari kontak yang mungkin saja bisa menolongnya kali ini.
Pergerakan tangan Samuel berhenti, tiba-tiba ada keraguan dalam dirinya. Tapi karena mendesak dia langsung saja mendial nomor tersebut.
"Di mana lo? Bucinnya biasa aja kali, di sekolah juga bisa." Cerocosan langsung Samuel dapatkan ketika sambungan telpon terhubung.
"Mobil dan sponsor pesta malam minggu nanti buat lo dan pacar-pacar lo," ucap Samuel.
"Serius lo?" tanya Rayhan di seberang telpon dengan nada sedikit girang.
"Beliin Ara pembalut ...."
Tut
Samuel meremas ponselnya kuat-kuat ketika telpon terputus begitu saja. Semua teman-temannya tidak berguna dalam siatuasi seperti ini.
"Ya ampung El, dari tadi mami tungguin ternyata masih di sini. Kalau memang nggak niat kenapa nggak bilang, anak Nakal? Mami ada urusan sama tante Anin ini. Cepat beliin Ara, atau Mami yang menyuruh kamu ngajarin Ara cara memasang ...."
Bibir Fany terkatup rapat ketika motor putranya meleset begitu saja meninggalkan pekarangan rumah.
Sungguh anak durhaka yang patut masuk neraka.
***
Tanpa banyak bicara, Samuel merebahkan tubuhnya di atas ranjang Keenan.
Kini semua ini Avegas tengah berada di kamar Keenan dan mengacaukan kamar itu seperi kapal pecah. Karena kesabaran Keenan yang berada di atas rata-rata membuat mereka semakin tidak tahu diri saja. Terumata Ricky, Rayhan dan Dito.
__ADS_1
"Gais yuhu!" teriak Rayhan.
"Udah pantes lo jandi tante-tante," sahut Keenan yang kini menyetel sebuah gitar.
"Anjir, gue masih waras goblok. Gue mau cerita sesuatu dengerin ya ...." Rayhan mengantung kalimatnya dan melirik Samuel yang tengah memejamkan mata.
"Ada yang mau nyogok gue tadi buat beli pembalut ...."
Bugh
Inti Avegas sontak tertawa ketika Rayhan tersungkur karena lemparan bantal dari Samuel. Benar-benar laki-laki satu itu sering kali membuat masalah dengan sepupunya.
"Salahnya beli pembalut apa?" tanya Azka fokus pada layar dihadapannya. Ketua Avegas itu tengah bermain game bersama Ricky.
"Nggak ada sih, gue sering kok beliin Alana," sahut Dito.
"Nggak ada salahnya, tapi gengsinya yang kegedean. Sampai buat tunangan aja harus minta tolong orang lain," ledek Rayhan.
"Gue beli sendiri anjir!" sahut Samuel dengan suara kesalnya. Memang sebelum ke sekolah Samuel membelikan Ara pembalut dengan menahan malu pada kasir dan orang yang kebetulan belanja di sana.
"Santai dong santai. Kata pak Ketua perempuan itu ribet dan rumit," lerai Rayhan.
"Pengen dengar lagi Azka ngomong gitu, di depan Salsa sekalian," timpal Keenan.
"Auto jadi mantan!" Tawa Ricky pecah seketika. Dia teringat saat Azka mengatakan tidak ingin mengenal perempuan karena ribet dan rumit, nyatanya yang bucin duluan diantara mereka adalah Azka sendiri.
"Mandi ludah sendiri anjir!"
__ADS_1