
Sudut bibir Samuel tertarik ketika melihat dirinya di pantulan cermin. Dia jadi teringat apa yang dia lakukan pada Ara.
Berdetak? Itu berarti Ara menyukainya? Sungguh memikirkan itu saja sudah membuat mood Samuel pagi-pagi membaik.
Setelah dirasa cukup rapi dengan seragam putih abu-abunya. Samuel langsung menyambar tas di atas kasur lalu menyusul orang tuanya yang berada di meja makan.
Dia segera memasang wajah datar setelah berada di meja makan.
"Ara lebih dulu bangun dari Abang," bangga Ara yang sejak tadi sudah berada di meja makan.
Namun, Samuel sama sekali tidak menyahut dan hanya meneguk air di atas meja. Dia melirik sekilas ketika sebuah piring diletakkan di hadapannya.
"Abang mau lauk apa? Biar Ara ambilin," ucap Gadis imut itu, berdiri dan bersiap mengambilkan sesuatu untuk Samuel.
"Udah, lebih baik Ara makan aja. Abang bisa ambik sendiri," celetuk Fany.
"Itu ...." Tunjuk Samuel pada tumis udang dihadapan papinya.
Dengan sigap, Ara mengambil udang tersebut lalu menuangkan perlahan di piring Samuel. Itu semua tidak lupuk dari perhatian Fany dan Daren.
Sekarang Fany benar-benar yakin putranya sudah jatuh cinta pada Ara. Yang harus dia lakukan hanya memastikan hubungan keduanya baik-baik saja tanpa gangguan apapun.
Setelah sarapan bersama, Ara dan Samuel pamit pada Fany dan Daren. Ara mencium punggung tangan kedua orang tua Samuel lebih dulu.
"Ara berangkat dulu Mam, Papi."
"Hati-hati, jangan bertengkar dijalan. Ara peluk Abang yang erat biar nggak jatuh," ucap Daren.
"Siap Papi."
***
__ADS_1
Seperti kebiasan dirinya jika datang kesekolah bersama Samuel. Ara akan meninggalkan parkiran seorang diri karena perintah laki-laki wajah dingin itu. Jadi sebelum disuruh, Ara bernisiatif pergi sendiri.
Dia menyerahkan helm pada Samuel dan berniat meninggalkan perkiran. Namun, langkahnya berhenti ketika Samuel malah menarik tangannya lalu menggenggam seakan tidak ingin melepaskan.
"Kenapa Bang?" tanya Ara.
"Nggak ada," sahut Samuel.
Laki-laki wajah dingin itu terus berjalan menyusuri koridor sekolah tanpa ingin melepaskan genggamannya. Seakan-akan memperlihatkan pada dunia bahwa kini Ara adalah miliknya.
Samuel baru melepaskan genggaman tangannya setelah sampai di depan kelas Ara.
"Masuk!"
"Makasih Abang udah anter Ara sampai di depan kelas. Akhirnya Ara bisa rasain juga kayak kak Salsa." Ara tersenyum tulus. "Ara makin suka sama Abang."
"Tau," guman Samuel dan meninggalkan lantai 2 untuk menuju kelasnya sendiri.
Samuel mendaratkan tubuhnya di kursi tanpa mendengarkan ocehan-ocehan Rayhan dan Ricky yang tengah membahas tentang perempuan yang dikencaninya semalam.
"Sadar Woy, bentar lagi kita ujian!" tegur Keenan.
"Tau tuh, bukannya belajar malah main cewek mulu," timpal Dito.
"Ujian mah gampang, tinggal isi," sahut Rayhan dan Ricky serempak.
"Iya juga ya?" gumam Dito.
"Dah lah ngomong sama kalian nggak guna," pasrah Keenan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sementara sejak tadi Samuel hanya diam saja mendengarkan.
Memang pada dasarnya dia hampir tidak pernah nibrung pembicaraan jika tidak penting.
__ADS_1
Atensi inti Avegas langsung teralihkan dengan kedatangan Azka dengan ekspresi datarnya.
"Aelah bro, muka kok masih datar gitu? Harusnya bahagia dong bakal nikah," celetuk Rayhan.
Azka mendelik dan duduk di atas meja.
"Gimana mau senang njir, orang dia sama Salsa nggak bisa ketemu dulu!" ejek Dito.
"Iya juga ya?" Ricky, Rayhan dan Dito langsung tertawa puas melihat wajah ketuanya.
Memang sebentar lagi ketua Avegas akan segera melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya dengan modal nekat sebab tidak ingin dipisahkan lagi oleh siapapun.
Setelah banyak cobaan yang menghampiri hubungan Azka dan Salsa akhirnya mereka akan bersatu.
"Cuma tiga hari doang," celetuk Samuel.
"Hilih, kayak lo tahan-tahan aja jauh dari Ara. Nggak usah sok deh El," balas Azka.
"Anjir sibucin debat."
"Gais." panggil Rayhan. "Ada yang udah tunangan lama tapi nggak nikah-nikah, sementara yang punya masalah rumah tangga, tiga hari lagi bakal nikah. Kalau gue jadi El nih ya, bakal minta dinikahin juga ...."
Krrikk
Brak
Tawa inti Avegas selain Samuel dan Rayhan mengema di dalam kelas. Bagaimana tidak, Samuel baru saja menendang kursi yang diduduki Rayhan hingga bergeser. Untung saja kursinya tidak terjungkal dan hanya nengenai tembok, atau kaki Rayhan akan berada di atas meja.
...****************...
Ada yang bakal nikah, Azka bentar lagi bahagia.
__ADS_1