Lost Love

Lost Love
Part 66 ~ Mulai bucin


__ADS_3

Samuel duduk di teras rumah Ara, menunggu gadis imut itu selesai bersiap-siap untuk ke sekolah.


Seraya menunggu Ara yang lemotnya minta ampun. Samuel memilih memainkan beda pipi yang sejak tadi dia genggam.


Bibir Samuel sedikit tertarik ketika melihat walpaper ponselnya di mana foto Ara dan Elara yang dikirimkan gadis imut tersebut malam dimana dia membelikan boneka keropi itu.


"Abang, Ara udah siap!" teriak Ara.


Samuel langsung saja mematikan ponselnya, takut Ara melihat apa yang baru saja dia pandangi. Sampai kapanpun, Samuel tidak akan mengakui perasaanya pada Ara.


Bukankah sebuah ucapan tidak ada gunanya dibandingnya dengan perlakuan langsung? Itulah yang tengah Samuel lakukan kali ini. Tidak ingin mengatakan isi hatinya tapi tetap berada di samping gadis polos dan imut tersebut.


"Abang kok nggak balas pesan Ara malam itu? Fofo Ara cantik nggak? Makasih ya Abang udah ngasih Elara buat Ara," ucap gadis imut itu seraya memeluk erat pinggang Samuel.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah.


"Jelek."


Ara memanyungkan bibirnya. "Abang kapan muji Ara, kayak Milo?"


"Nggak bakal."

__ADS_1


"Ya udah nggak papa Ara nggak cantik, yang penting Abang nggak punya pacar selain Ara," pasrahnya meski sangat ingin mendengar pujian dari tunangannya sendiri.


Gadis imut itu meraih tangan Samuel setelah turun dari motor yang telah terparkir aman di parkiran SMA Angkasa.


"Dadah Abang." Ara melambaikan tangannya setelah mencium punggung tangan Samuel seperti layaknya suami istri.


"Anjirlah, mata gue ternodai," celetuk Rayhan tidak terima melihat hal-hal romantis di pagi hari. Padahal dia sendiri sedang memperjuangkan rentenir kelasnya.


"Cuci!" sahut Samuel dan berlalu pegi dari parkiran tanpa menunggu teman-temannya yang belum datang.


Laki-laki wajah dingin tersebut berjalan di koridor sekolah dengan salah satu tangan berada di saku celana. Kancing seragam bagian atas sengaja dilepas tanpa lilitan dasi membuat Samuel terlihat seperti preman sekolah saja. Padahal saat berangkat ke sekolah sangat rapi seperti anak baik-baik.


Samuel memeriksa ponselnya ketika mendapat notifikasi pesan. Dia diam-diam tersenyum melihat emot yang dikirimkan Ara. Emot berbentuk hati yang mampu membuat jantung Samuel berdetak tidak normal pagi-pagi.


"Gc ramai," ucap Samuel.


"Hooh, lo pasti nggak tau kalau Sagara nyerang markas Leo."


Indera pendengaran Samuel semakin tajam mendengar kalimat Rayhan. Memang semalam dia tidak ke markas karena menghabiskan waktu bersama Omanya yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Sagara tau?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Hm, gue yang ngasih tau," ucap Azka langsung duduk di atas meja. Laki-laki itu baru saja datang.


"Tumben lo cepu, Ka," celetuk Keenan yang datang bersama Dito dan Ricky.


"Biar bisa istirahat bentar," balas Azka.


"Benar juga lo pak ketu. Sekarang Wiltar pasti nggak bakal macem-macem dulu sama kita. Seram juga Sagara sampai buat Leo masuk rumah sakit."


"Emosi bisa membunuh siapa aja, jadi nggak udah heran," timpal Keenan.


***


"Milo nggak kangen sama Ara?" tanya Ara pada Milo yang kini tengah menunduk kerena mengerjakan tugas yang tidak sempat dikerjakan saat dirumah sakit.


"Hm, gue kangen lo pakai banget," sahut Edgar meletakkan pulpelnnya diatas meja dan beralih menatap Ara.


"Katanya lo sakit kemarin? Kenapa nggak telpon gue?" tanya Edgar.


"Ara nggak sakit kok, cuma salah sangka aja. Awalnya Ara mau telpon Milo, tapi ada Abang jadi minta Abang aja," jawab Ara sangat jujur.


"Milo tau? Sekarang Ara udah baikan sama Abang. Liat deh ...." Ara memperlihatkan cincin di jari manisnya. "Cantikkan jari Ara?"

__ADS_1


Edgar tersenyum seraya mengusap rambut Ara. "Iya lebih cantik pakai cincin," balas Edgar meski ada sedikit rasa perih dihatinya melihat cincin itu kembali tersemat di jari manis Ara.


__ADS_2