Lost Love

Lost Love
Part 27 - Sindiran keras


__ADS_3

Hari libur tidak membuat Ara tidur sampai siang. Gadis imut yang memang sudah terbiasa bangun pagi tidak akan bermalas-malasan setelah menunaikan sholat subuh.


Seperti saat ini, Ara tengah selesai mandi dan duduk di pinggir ranjang hanya berbalutkan handuk pendek, memperlihatkan pundak mulus juga pahanya.


Karena sibuk bermain ponsel, Ara tidak menyadari keberadaan Fany di dalam kamarnya.


"Anak Mami udah bangun ...." Kalimat Fany berhenti ketika melihat sesuatu di tubuh Ara, terutama leher.


Ara yang tersadar segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Mami kok bisa masuk?" tanya Ara.


"Karena Ara nggak kunci pintu, gimana sih anak Mami ini," jawab Fany duduk di samping Ara. "Buka, Mami mau liat sesuatu!"


Ara mengelengkan kepalanya. "Ara mau pakai baju dulu, Ara ...."


"Ara belajar bohong dari siapa? Selama ini anak mami nggak pernah tuh bohong."


Ara terdiam, tidak lama kemudian dia melepaskan genggaman tangannya dari selimut.


"Leher Ara lebam seperti bekas cekekan, siapa yang lakuin Nak?"


"Ini pas Ara ganti baju nggak sengaja ...."


"Ara tahukan Mami nggak suka orang bohong?"

__ADS_1


Ara mengangukkan kepalanya.


"Siapa yang lakuin?" tanya Fany sangat lembut. Dada wanita paruh baya itu bergemuruh, takut jawaban Ara sama dengan yang ada di pikirannya.


"Abang El?" lanjut Fany dan di jawab anggukan oleh Ara.


Fany sontak saja memeluk putri dari sabahatnya itu cukup erat, tidak terasa air mata membasahi pipinya. "Kenapa Ara nggak ngomong sama mami kalau Abang kasarin Ara? Mami sedih," lirih Fany.


"Abang nggak sengaja kok Mam, Ara juga nggak kesakitan."


"Tetap aja mami sedih Nak." Fany melerai pelukannya dan menangkup pipi Ara lalu menatapnya penuh kasih Sayang. "Ara mau batalin pertunangan sama Abang? Mami ngak bakal marah kok, janji."


Ara mengeleng. "Ara suka sama Abang, jangan batalin pertunangannya Mam, Ara juga suka cincin ini." Gadis imut itu memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.


Fany mengusap air matanya lalu tersenyum. Entah terbuat dari apa hati Ara hingga bisa sesabar ini.


"Jangan maafin Abang ya, Ara musuhin abang aja!" perintah Fany. Wanita paruh baya itu mengelus rambut Ara. "Sekarang pakai baju kita sarapan sama-sama."


Fany keluar dari kamar Ara dan menuju kamarnya sendiri untuk bertemu dengan sang suami. Fany memang menyayangi putranya dan tidak rela jika Daren memukul Samuel, tapi sepertinya hari ini pegecualian.


Wanita paruh baya tersebut tidak terima jika putranya bermain fisik pada seorang wanita.


"Sayang, kenapa nangis hm? Habis nonton lagi pagi-pagi seperti ini?" tanya Daren.

__ADS_1


Fany mengelengkan kepalanya. "Ini ulah putra kamu!"


"Samuel buat kamu nangis? Benar-benar anak itu ...."


"Dia nggak ngapa-ngapain aku, tapi main tangan sama Ara. Tadi aku liat bekas cekikan di leher Ara, katanya itu dari Samuel. Aku sedih gagal jadi ibu yang bisa mendidikan putranya dengan baik," lirih Fany di akhir kalimat.


Daren langsung memeluk Fany dan mengecup keningnya cukup lama. "Bukan salah kamu, ini karena El keras kepala seperti aku. Jangan sedih Sayang, aku yang bakal bicara sama dia. Setelah ini aku janji Samuel nggak bakal menyakiti fisik Ara," bujuknya agar Fany berhenti menangis.


"Kita sarapan dulu ya?"


Fany menganggukkan kepalanya, keduanya berjalan menuju meja makan dan mendapati Samuel dan Ara duduk bersampingan.


"Ara duduk di samping Mami!" perintah Fany tanpa menatap Samuel sama sekali.


"Tapi Ara ...."


"Duduk di samping mami ya!" bujuk Daren.


Karena tidak enak, akhirnya Ara pindah duduk di samping Fany, hingga Samuel duduk seorang diri di seberang meja sebelah kanan.


Tidak sampai di situ saja, saat Ara akan mengambilkan piring untuk Samuel, tangannya langsung ditarik oleh Fany.


"Nggak usah, El punya tangan sendiri. Masa mukul kamu bisa, ambil piring nggak bisa," sindir Fany membuat Samuel tersedak.

__ADS_1


__ADS_2