Lost Love

Lost Love
Part 16 - Berbohong untuk melindungi


__ADS_3

"Ara pergi dulu ya, besok ketemu lagi." Ara melambaikan tangannya pada Edgar yang berdiri di ambang pintu kelas.


Dia melangkah semakin jauh setelah Edgar membalas lambaian tangannya. Langkah kecil Ara semakin cepat di koridor sekolah ketika melihat Samuel dan teman-temannya menyembrangi lapangan di lantai bawah.


Dia menapaki satu persatu anak tangga tanpa memperhatikan jalan.


Bugh


Ara jatuh ke lantai karena menabrak pundak seseorang. "Maafin Ara, Ara nggak sengaja kak," ucap Ara sopan seraya berdiri untuk merapikan seragam sekolahnya.


"Kalau jalan pakai mata!" ejek siswa tersebut.


"Iya kak, nanti Ara hati-hati dan jalan pakai kaki." Ara segera berlari meninggalkan siswa yang dia tabrak kemudian menghampiri tunangannya di parkiran.


"Abang tungguin Ara!" teriaknya ketika melihat Samuel hendak pergi. Gadis imut tersebut mengatur nafasnya setelah sampai di parkiran.


"Ara tadi ngejar Abang sampai jatuh makanya lama," lanjut Ara tanpa di tanya, membuat inti Avegas gemas sendiri sekaligus kasihan pada gadis imut tersebut.


Gadis manis dan lucu seperti Ara kenapa harus suka dengan beruang kutub seperti Samuel? Apakah tidak ada laki-laki lain di muka bumi ini?


Inti Avegas sangat tahu bagaimana sikap Samuel. Jika tidak menyukai seseorang maka dia akan menyakiti kalau terus mengusik hidupnya, tanpa melihat dia laki-laki atapun perempuan.


Teman-teman Samuel menghela nafas panjang mendengar jawaban laki-laki berwajah dingin tersebut.


"Gue nggak nanya!" Itulah jawaban yang Samuel berikan.

__ADS_1


"Nggak papa, kan Ara yang pengen cerita. Ayo pulang, Ara sudah ... Abang!" teriakan Ara mengema ketika Samuel melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan lingkungan sekolah.


Dia berlari untuk mengejar tunangannya sampai di depan SMA Angkasa. Bibir Ara melengkung ketika mengetahui Samuel benar-benar meninggalkannya.


"Abang kenapa benci sama Ara? Padahal Ara selalu baik," gumamnya. Dia menatap sendu sepatu hitam putih yang dia pakai.


"Gue antar pulang!" Ara menoleh ketika mendengar tawaran dari seseorang. Dia mengelengkan kepalanya tanda menolak. "Ara nggak mau buat Abang cemburu," jawabnya.


"Memangnya kamu sama Samuel ada hubungan apa?" tanya Edgar, laki-laki yang menawarkan tumpangan pada Ara.


"Ara nggak ada hubungan," jawab Ara mengelengkan kepalanya.


"Kalau begitu pulang sama ...."


Edgar salah satu adik kelasnya bahkan menjabat sebagai ketua osis. Laki-laki itu tidak punya masalah dan musuh, jangan sampai karena mendekati Ara, inti Avegas malah membencinya terutama Samuel.


"Maaf ya, Ara pulang sama kak Ray aja."


Edgar mengangguk meskipun dalam hatinya penuh banyak tanda tanya besar. "Sebenarnya peran lo apa dalam lingkaran Avegas Ra? Kenapa terlihat akrab banget?" batin Edgar memperhatikan Ara yang menghilang di perpatan jalan.


***


Rayhan menghentikan motornya tepat di depan mansion milik keluarga Adhitama, menyuruh Ara agar segera turun.


"Ra, lo nggak tidur kan?" tanya Rayhan.

__ADS_1


"Nggak, Ara mana bisa tidur. Ara takut jatuh," jawab Ara turun dari motor Rayhan.


"Loh ... Kok pulang sama Ray? El mana?" tanya Fany yang keluar dari mansion ketika mendengar suara motor, karena mengira calon menantu dan putranya sudah datang.


"Tau tuh anak tante ninggalin tunangannya gitu aja," jawab Rayhan. Laki-laki itu mencium punggung tangan Fany sebelum memasuki mansion.


"Makan dulu Nak!" perintah Fany.


"Nanti Tante, Ray mau ketemu Oma buyut dulu!" sahut Rayhan seperti berada di hutan saja, saling berteriak satu sama lain.


Fany kini menatap calon menantunya penuh selidik. "El kasar sama Ara?"


"Nggak, El baik sama Ara mami. Ara pulang sama kak Ray karena nggak mau nunggu Abang yang ada urusan," jawab Ara seraya mengelengkan kepalanya.


Sepertinya Ara benar-benar tidak ingin menceritakan keburukan Samuel. Gadis imut itu takut Samuel mendapat marah dari orang tuanya.


"Ya sudah Nak, masuk dulu. Mami banyak masak hari ini, ada kesukaan kamu juga." Fany merangkul pundak Ara memasuki mansion. Wanita paruh baya tersebut sudah menganggap Ara sebagai putrinya, apa lagi sekarang gadis imut itu sudah bertunangan dengan Samuel.


"Katanya Ayah sama bunda mau keluar Negeri dalam waktu dekat?"


"Iya Mam."


"Ara tinggal?" Ara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Nggak usah sedih, kan ada Abang yang nemenin Ara. Ada mami sama papi juga."

__ADS_1


__ADS_2