Lost Love

Lost Love
Part 61 ~ Gue nggak butuh nyawa lo!


__ADS_3

Samuel semakin menambah kecepatan mobilnya ketika melihat keberadaan Sagara. Dengan sigap dia membanting setir kemudi hingga berhenti tepat di depan motor laki-laki tersebut.


Suara decitan ban dari mobil milik Samuel maupun Sagara menjadi sound di jalan sepi tersebut. Tanpa kenal takut laki-laki wajah dingin itu turun dan menendang tubuh Sagara sebelum turun dari motornya.


Brak


Motor itu terjatuh bersama pemiliknya. Dengan segera Samuel menarik kerah baju Sagara.


"Banci lo!" ucap Samuel dengan tatapan tajamnya. "Berani-beraninya lo jadiin tunangan gue fantasi se*xs lo anjin*g!" Gigi laki-laki wajah dingin itu bergemuluk, tangannya terkepal hebat di sisi tubuhnya.


Sementara yang memancing emosi menyeringai licik. "Baru kayak gini lo udah terbakar, gimana kalau gue sampai sentuh ...."


Bugh


Bugh


Tanpa memberi cela sedikitpun, Samuel menghujani Sagara dengan pukulan bertubi-tubi. Pukulan terakhir Samuel melayangkan kaki panjangnya hingga mengenai perut Sagara.


Uhuk


Sagara terjatuh diatas aspal, baru saja akan bangun, tubuhnya sudah ditindih oleh Samuel. Kilatan mata laki-laki wajah dingin itu memancarkan api yang siap membakar siapapun.


Namun, itu sama sekali tidak membuat Sagara takut. Sekuat tenaga dia bangun dan beralih membalik keadaan. Kini Samuel yang berada di bawah kendalinya.


"Lepasing gue bangs*at!" bentak Samuel memegang tangan Sagara yang kini mencengkram lehernya.

__ADS_1


"Lo nggak tau rasanya kehilangan El, dan gue bakal buat lo ngerasai semua itu!" teriak Sagara.


"Berapa kali gue harus ngomong sialan! Bukan gue yang hamilin Sasa. Gue bahkan nggak pernah nyentuh dia lebih dari sekedar pelukan."


Krak


Sekali hentakan, Samuel berhasil memindahkan tangan Sagara dari lehernya.


"Dendam lo sama gua, jangan sentuh Ara sedikitpun. Selesaikan hari ini. Lo mati atau gue!"


Cuih


Kepala Samuel tertoleh ketika Sagara hendak meludahi wajahnya.


"Gue nggak butuh nyawa lo, gue cuma pengen liat lo menderita! Siapapun yang hamilin Sasa gue nggak peduli, El! Andai hari itu lo datang adek gue nggak mungkin bunuh diri!" teriak Sagara. Suaranya tersirat emosi juga kesedihan yang sangat mendalam.


Bugh


Uhuk


Darah segar mengalir cukup deras keluar dari mulut Samuel karena injakan Sagara diperutnya.


Laki-laki wajah dingin itu terbatuk beberapa kali karena merasakan sakit yang begitu hebat. Penglihatan Samuel mengabur dan perlahan-lahan menghitam.


***

__ADS_1


Ruangan serba putih tanpa siapapun di dalamnya selain pasien yang kini terbaring di atas brangkar. Ruangan yang tidak terlalu luas juga terlihat sangat sepi.


Itulah yang Samuel dapati setelah membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan dan tidak mengenali benda satupun.


Dia segera mencabut selang infus di tangannya dan keluar dari ruangan tersebut.


"Akhirnya Anda bangun juga," ucap suster yang duduk di salah satu meja bertuliskan administrasi.


"Siapa yang membawa saya?" tanya Samuel dengan suara seraknya.


"Teman Anda."


"Berapa?" tanya Samuel tanpa basa basi. Laki-laki wajah dingin itu yakin, bukan inti Avegas yang membawanya kesini, karena jika mereka. Maka bukan puskesmas yang akan dituju, melainkan rumah sakit dipusat kota.


"Semuanya sudah dilunasi, Anda harus istirahat dan ...."


Tanpa mendengarkan ocehan suster tersebut. Samuel langsung keluar dari puskesmas dan menuju mobilnya yang terpakir dengan aman.


Saat membuka pintu mobil, dia mendapati kertas tertempel di setir mobilnya.


"Lo harus hidup dan menyaksikan sendiri gimana rasanya kehilangan."


Samuel meremas kertas tersebut dan melemparnya kesembarang arah. Dia tidak peduli dengan ancaman Sagara, karena dia akan menjaga Aranya 24 jam jika itu perlu.


Laki-laki wajah dingin tersebut segera melajukan buggati mirstalnya meninggalkan puskesmas menuju markas Avegas untuk menenangkan diri sejenak.

__ADS_1


Dia tidak mungkin pulang ke mansion dengan wajah babak belur seperti ini. Yang ada banyak pertanyaan dia dapatkan dari sang mami tercinta.


__ADS_2