Lost Love

Lost Love
Part 182 ~ Ayah


__ADS_3

Ara, gadis itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata agar bisa sampai lebih cepat ke mansion Samuel. Dia takut kalau saja Samuel nekat melukai Asa apalagi sedang bermain dengan anak-anak jack yang merupakan kucing orange Samuel.


Ara lantas menginjak pedas rem setelah sampai di mansion milik mantan kekasihnya. Keluar dari mobil secara terburu-buru dan tidak sengaja berpapasan dengan pelayan di pintu utama.


"Samuelnya ada?" tanya Ara sedikit sopan.


Sang pelayan yang memang dari halaman samping mengantar cemilan lantas mangganggukkan kepalanya, wanita paruh baya itu lansung saja mengantar Ara kehalaman samping rumah.


Sementara pemilik mansion sedang sibuk memperhatikan Asa yang tampak bahagia bermain dengan anak-anak jack yang berjumblah 3 di dalam kandang besi. Asa dikawal tiga pawang harimau juga 5 pengawal di sisi tubuhnya atas perintah dari Samuel karena takut gadis manis itu terluka nantinya.


"Ayah, harimaunya lucu!" Menutup mulutnya karena tertawa. Tidak pernah Asa sebahagia ini sebelumnya, mungkin karena sekarang gadis kecil itu telah menemukan sosok ayah yang selalu Ara janjikan tapi tidak kunjung datang menghampirinya.


Gadis kecil itu berbalik pada sumber suara yang seakan memanggil namanya, tersenyum senang melihat bundanya yang berdiri di ambang pintu.


"Bunda, Asa udah ketemu ayah!" pekiknya. Gadis kecil itu berlari keluar kandang dan menghampiri Asa. Memeluk kaki bundanya sambil mendongak dengan senyuman.


Samuel ikut menghampiri, berdiri tepat di belakang Asa, dimana jaraknya dengan Ara sangat dekat. Pria itu memperhatikan Aranya berjongkok untuk mensejajarkan tingginya bersama Asa.


Ara menangkup pipi Asa yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Kenapa pergi tanpa beritahu bunda, hm? Kan bunda udah ajarin Asa, bukan hanya sekali." Menatap putrinya khawatir. Ara tidak percaya pada siapapun untuk menjaga Asa bermain, terlebih gadis kecil itu mempunyai panyakit jantung bawaan dari orang tuanya.


"Asa pamit sama Oma terus dibiarin. Ayah juga kan ayah Asa," jawab gadis imut itu dengan polosnya.


Detakan jantung Asa berpacu semakin cepat, mungkin karena berlari tadi. Belum lagi keringat yang lumayan banyak di tubuhnya.


"Kita pulang ya Sayang, rumah lebih nyaman!" Ajak Ara, tapi Asa mengelengkan kepalanya.


Gadis itu berbalik dan memeluk kaki panjang Samuel. "Asa nggak mau pulang. Asa mau sama ayah. Bunda, ayah udah nggak terbang tinggi lagi."


Samuel mengulum senyum mendengar ucapan dari gadis mengemaskan tersebut, berbeda dengan Ara yang membulatkan matanya tidak percaya. Ara mati-matian menahan rasa malu sekarang.


Pikirannya tertuju pada foto yang dia sembunyikan di dalam laci agar Asa tidak menyadari siapa Samuel sebenarnya. Dulu saat diluar negeri, Asa memperkenalkan Samuel sebagai ayah Asa karena gadis itu tidak tahu harus memperkenalkan siapa.


Samuel sengaja menyuruh pelayan menyiapkannya karena yakin Ara akan berkunjung untuk menemui Asa.


"Aku harus pulang, aku nggak lapar!" Menarik tangannya dari genggaman Samuel sebelum sampai di meja makan.


"Ara, bentar aja. Tolong beri gue kesempatan sekali aja. Please ...." Menatap Ara dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Pria itu tidak tahu dengan cara apalagi bisa meluluhkan hati Aranya yang telah membeku.


"Asa mau makan sama Ayah, ayo bunda!" Kini Asa yang menarik tangan Ara agar mau ikut ke meja makan.


Ara yang tidak pernah bisa menolak keinginan putrinya hanya bisa pasrah mengikuti langkah lebar Samuel. Sesekali gadis itu mempetikan iteraksi Samuel dan Asa yang cukup akrab.


Padahal sepengetahuan dirinya, Samuel tidak terlalu dekat dengan anak kecil, bahkan dulu sering kali membentak jika merasa terganggu.


Ara duduk di seberang meja berhadapan dengan Samuel yang memangku Asa. Terkesan memanjakan, tapi entah kenapa hati Ara menjadi hangat.


"Ayah?" Menatap Samuel dengan tatapan berbinar.


"Kenapa?" Samuel menaikkan salah satu alisnya.


"Gue itu apa?"


"Hah?"


"Gue itu, sama dengan kalimat Saya atau Aku, Nak. Ay-ayah." Ara mengigit bibir bawahnya karena merasa malu dan gugup jika harus memangil Samuel dengan sebutan ayah, terlebih keduanya tidak punya hubungan apa-apa.

__ADS_1


"Ayah?" Samuel mengulum senyum.


"Tapi kenapa ayah ngomongnya, Gue? Asa lebih suka dengar panggil nama atau Aku. Kata Oma, panggilan Aku lebih sopan."


__ADS_2