
"Kita liat, dia bakal nyapa lo apa nggak," celetuk Rayhan menepuk pundak Samuel.
Memang pada dasarnya jika mereka bertengkar hanya hitungan jam saja, dan akan kembali akur seperti teman biasa, itulah mengapa persahabatan inti Avegas bertahan sampai saat ini, bahkan tidak tergoyahkan oleh apapun.
"Kayaknya sih nggak, gue pastiin Ara lewatil El," timpal Ricky.
"Kalau iya, lo harus berjuang dari awal buat luluhin hatinya El. Cewek kalau udah kecewa susah buat balik," ceramah Azka.
"Asyek pak bucin udah tau aja tentang cewek, mentang-mentang punya pacar!" sindir Dito hingga mendapat geplakan dari Azka.
Di antara keributan inti Avegas, Samuel hanya diam saja seraya memperhatikan Ara yang tengah melintas di hadapan mereka. Ada sedikit rasa aneh di dalam hatinya ketika gadis imut itu lewat tanpa menyapa seperti biasa.
Tatapan Samuel tersirat rasa penyesalan cukup dalam, apalagi setelah mendengar fakta-fakta yang sebenarnya tentang Sasa hari itu. Dia mendapat banyak ceramah dari para sahabatnya terumata Azka.
Tatapan laki-laki wajah dingin itu tertuju pada Edgar yang baru saja memanggil nama Ara. Tangan Samuel terkepal hebat, baru saja akan turun dari motor, tangannya sudah dicegah oleh Azka.
"Sekarang Ara nggak suka sana lo, dengan lo hajar Edgar nggak ada gunanya!" tegur Azka.
"Ck, sepupu gue yang tampan tapi bodoh, makanya jangan perjuangkan cewek yang salah dan terlalu cinta buta, sampai dikhianatin aja nggak tau," ucap Rayhan menepuk-nepuk pundak Samuel, menasehati sekalian meledek.
Rayhan sangat senang melihat penyesalan Samuel sekarang, ingin rasanya dia berpesta dengan ke 36 pacarnya itu.
__ADS_1
"Dramatis lo!" sentak Samuel.
"Dah pintar kok sekarang Ray, kan dah di geprek sama Azka," ledek Keenan.
Samuel memutar bola mata malas, memang semua teman-temannya tidak ada yang waras dan tentu saja sering kali menistakan satu sama lain.
Inti Avegas tidak akan ikut berduka jika salah satu dari mereka sedih karena penyesalan, yang ada malah menjera dan meledek terus menerus seperti yang dia dapatkan sekarang.
Samuel dan teman-temannya langsung saja menuju kelas ketika bel pelajaran berbunyi. Rayhan berjalan paling depan untuk menebar pesona dan menambah jumblah pacarnya.
Samuel mengulum senyum diam-diam ketika melihat seorang gadis mendekat dan mengetok kepala Rayhan dengan pengaris. Tidak ingin mencari masalah dengan rentenir kelas, dia langsung saja pergi dengan Azka, sementara 4 teman lainnya di hadang agar membayar iuran kelas.
"Sepupu gue paling ganteng, bayarin!"
"Ogah!" sahut Samuel dan masuk ke kelasnya.
***
Lima laki-laki tampan yang menjadi pentolan sekolah SMA Angkasa tersebut berjejer rapi di depan kelasnya menunggu pak ketua datang dari kelas lain. Memang sejak Azka pacaran dengan Salsa, laki-laki itu pindah kelas hanya untuk memantau pacar tercinta.
"Anjir lama banget sih lo pak ketu!" semprot Rayhan setelah Azka ikut bergabung sama mereka.
__ADS_1
"Ada urusan tadi, kuy!" ajak Azka.
Akhirnya 6 inti Avegas tersebut menyusuri koridor sekolah menuju kelas XI yang ada di lantai dua.
Mereka tengah merekkrut anggota baru dari beberapa adik kelas. Dan sekarang mereka akan berpencar untuk memanggil per kelas agar segera datang ke markas sore nanti.
Langkah 6 inti Avegas berhenti tepat di depan kelas XI Ipa 1 ketika mendengar suara tawa yang sangat renyah dari seorang gadis.
Tangan Samuel semakin terkepal ketika melihat tingkah Ara dengan Edgar yang menurutnya sangat alay dan ke kanak-kanakan.
"Tahan, jangan cemburu gitu dong, kalian kan nggak punya hubungan apa-apa!" sindir Rayhan.
"Ekhem." Azka berdehem sebelum memasuki kelas, itu berhasil menghentikan Ara dan Edgar yang tengah asik bermain.
"Abang."
Samar-samar Samuel mendengar hal tersebut, hingga dia menatap Ara yang juga tengah menatapnya. Baru saja akan berucap, Ara malah menundukkan kepalanya kembali dan tidak peduli padanya.
Kenapa hati Samuel mencelos? Padahal sejak awal ini yang dia ingingkan.
"Gue duluan!" ucap Samuel keluar dari kelas.
__ADS_1