Lost Love

Lost Love
Part 68 ~ Lepas kendali


__ADS_3

Merasa bosan berada di dalam kelas sendirian saja, Samuel memutuskan untuk menuju lapangan menyaksikan teman-temannya yang tengah barmain basket.


Namun, langkah laki-laki wajah dingin tersebut berhenti ketika melihat tunangannya sedang duduk berdampingan dengan laki-laki lain. Terlebih keduanya terlihat sangat akrab dan seperti membicarakan sesuatu yang serius.


Tidak suka melihat Ara tertawa karena orang lain, Samuel menghampiri hendak membawa gadis imut itu pergi, namun hal-hal yang tidak diingingkan malah dia dengar.


Kalimat yang secara tidak langsung Edgar mengatakan cintanya pada Ara. Emosi yang langsung tersulut dan berkobar membuat Samuel tidak bisa mengendalikan dirinya.


Tanpa pikir panjang dia langsung menarik kerah kemeja Edgar dan memberikan pukulan cukup keras. Bahkan laki-laki wajah dingin tersebut menyeret Edgar sampai ke tengah lapangan tanpa memperdulikan teriakan Ara yang menyuruhnya berhenti. Hingga dimana gadis imut tersebut dengan berani menghadang pukulannya dan terang-terangan membela Edgar di hadapannya.


Tangan Samuel terkepal hebat melihat bagaimana Ara memperlakukan Edgar begitu baik. Laki-laki wajah dingin itu langsung menarik tangan gadis imut tersebut.


"Ikut gue!"


"Nggak, Ara nggak mau ikut Abang. Ara mau ngobatin Milo!" sentak Ara menghempaskan tangan Samuel seraya mengusap air matanya kasar.


"Abang kasar dan jahat sama Milo!" teriaknya lagi.


"Gue juga terluka Ara!" bentak Samuel dengan tubuh bergetar hebat. Kepalan tangan laki-laki itu berhasil memperlihatkan urat-urat besar Samuel yang menonjol.


"Ra, mending lo ikut sama El, biar gue yang bantu Edgar," ucap Salsa melerai. Gadis itu sebenarnya ada di kantin. Dia berlari ke tengah lapangan karena mendengar keributan, takut pacarnyalah yang mencari masalah.


"Tapi ini salah Ara," lirih gadis imut tersebut.

__ADS_1


"Udah lo ikut El aja!" ulang Salsa.


Meski ragu, Ara akhirnya mengikuti langkah Samuel yang sejak tadi mengenggam tangannya kembali. Mata gadis imut itu masih memerah karena menangis. Ara berdiri tepat di samping Samuel ketika laki-laki itu duduk di kursi di dalam kelasnya.


"Ara nggak suka Abang mukul orang kayak tadi, apalagi itu Milo," ucapnya tanpa tahu kemarahan Samuel.


"Gue sakit!"


"Milo lebih sakit, hidungnya berdarah karena Abang!"


"Berhenti nyebut dia atau gue bunuh dia sekalian Ara!" bentak Samuel berapi-api membuat Ara terdiam seketika.


Terjadi keheningan diantara mereka. Samuel yang duduk membersihkan darah di sudut bibirnya, sementara Ara masih setia berdiri ditempat, tidak tahu harus melakukan apapun.


Ara mengelengkan kepalanya. "Ara takut, suara Abang besar banget," lirihnya.


Samuel memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Setelah emosinya mulai turun, barulah laki-laki wajah dingin itu angkat bicara.


"Duduk, Ra." Kini suara Samuel sedikit melembut.


Dengan ragu, Ara akhirnya duduk di samping Samuel. Melirik tunangannya sesekali yang tengah memejamkan mata.


"Ara mau liat kondisi Milo dulu, nanti Ara balik lagi."

__ADS_1


Samuel tidak menyahut, laki-laki itu tengah memejamkan matanya. Namun, tangannya mengenggam tangan Ara cukup erat hingga gadis imut itu tidak bisa kemana-mana.


Keheningan kembali melanda keduanya, terlebih hanya Ara dan Samuel yang berada di dalam kelas tersebut.


Ara mengangkat kepalanya ketika melihat bayangan seseorang memasuki kelas.


"Kak Azka?" sapa Ara.


"Ke ruang BK sekarang!" perintah Azka ditujukan pada Samuel tanpa membalas sapaan Ara sama sekali. Ketua Avegas tersebut hanya peduli dengan tiga gadis, jadi jangan harap akan membuka suara pada gadis lain meski tunangan sahabatnya sekalipun. Itu semua Azka lakukan untuk menghargai perasaan Salsa.


"Nanti," sahut Samuel.


"Edgar ada di ruang Bk."


"Kenapa Milo ada di ruang Bk? Harusnya ada di UKS, Milo pasti ...."


"Diam!"


Ara langsung mengatupkan bibirnya ketika dua manusia dingin dihadapannya berbicara dengan suara tegas.


"Jangan keluar kelas!" perintah Samuel sebelum meninggalkan kelasnya sendiri.


Laki-laki itu bersedia mengunjungi ruang Bk karena Edgar ada di sana. Jika Edgar bersamanya, sudah dipastikan Ara tidak bisa menemui apalagi memberi perhatian pada adik kelasnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2