
"Dadah Milo!" Ara melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Edgar dari mansion orang tua Samuel.
Dia berlari memasuki mansion mewah tersebut seperti rumahnya sendiri. Melempar tas ke sofa dan berteriak tanpa sopan santun.
"Mami Ara datang!" teriak Ara.
Fany yang sedang istirahat di pinggir Kolam segera bangun dan meletakkan dua potong timun yang ada di matanya.
"Sayang, Mami di pinggir kolam!" sahut Fany.
Baru saja wanita paruh baya itu akan menemui Ara, gadis imut tersebut sudah datang dan langsung memeluknya.
"Ara kangen sama Mami."
"Mami juga kangen sama Ara. Bermalam kan?" tanya Fany setelah palukan mereka terlerai.
"Nggak Mam. Setelah magrib, Ara pulang kerumah. Ara cuma kangen sama Mami."
"Kangen Abang?"
Ara terdiam sejenak, lalu mengelengkan kepalanya.
"Ara sering ketemu Abang di sekolah, jadi nggak kagen."
"Huhuhu ... gemas banget sih anak Mami. Ara udah makan?"
__ADS_1
"Udah sama Milo teman Ara. Tadi sebelum ke sini, Milo ajak Ara makan terus dibeliin es krim juga. Mami, Milo tuh baik banget sama Ara," ceritanya.
"Ck, Milo siapa lagi itu Sayang? Duduk sini sama Mami!" Ajak Fany menarik Ara agar duduk di kursi santai tepi kolam.
"Udah dibilangin teman Ara mam."
"Iya deh yang udah punya teman. Anak mami sekarang benar-benar berubah. Tapi berubahnya jangan terlalu ya Nak, sampai jatuh cinta sama orang lain dan lupain Abang, nanti mami sedih," ucap Fany mengelus rambut Ara hingga tidak menyari jepit rambut gadis imut itu jatuh ke sofa.
"Ara nggak mungkin lupa sama Abang, karena Ara suka Abang selamanya."
"Pintar banget anak Mami. Mau jalan-jalan nggak atau masak-masak?"
"Ara ngantuk, mau bobo."
Fany mengeleng tidak percaya melihat tingkah calon menantunya. Sangat berbeda dengan perempuan lainnya. Ara lebih memilih tidur daripada harus jalan-jalan.
Ara mengangguk patuh, segera berjalan menuju kamar Samuel untuk tidur sebentar saja, toh pemiliknya sedang tidak ada terbukti motornya juga tidak ada.
Dia langsung saja merebahkan tubuhnya dan memeluk guling erat-erat tanpa menganti baju sekolahnya lebih dulu.
***
Samuel mengusap bibirnya untuk menghilangkan darah yang sudah mengering. Laki-laki wajah dingin itu berada di toilet rumah sakit setelah menunggu Azka keluar dari ruang operasi satu jam yang lalu.
Dia kembali membilas wajahnya yang terasa sangat perih, memandangi wajah yang sering kali dipuji tampan oleh orang-orang sekitar.
__ADS_1
"Ara mau nggak ya maafin gue?" gumam Samuel.
Jika teringat pada perlakunnya pada Ara dulu, dia merasa malu pada dirinya sendiri. Menyiksa fisik dan batin gadis yang sama sekali tidak bersalah dalam hidupnya.
Dilihat dari sudut manapun, Dia yang telah membawa Ara masuk kedalam hidupnya. Dia yang telah dibutakan oleh cinta hingga menyiksa orang tidak bersalah. Meratukan gadis yang tidak seharusnya dia ratukan.
"Sialan!" Samuel meninju tembok tepat di bawah cermin untuk melampiaskan emosi atas penyesalan yang menghampirinya sedikit demi sedikit.
"Gue tau ini sulit, tapi gue harus minta maaf," lirihnya.
Dia kembali membilas wajahnya beberapa kali sebelum keluar dari kamar mandi. Ternyata semua inti Avegas dan beberapa anggota telah pulang kerumahnya.
Dia mengintip masuk keruangan Azka dan mendapati ibu pengacara yang tidak lain mami Azka ada di dalam. Samuel mengurungkan niatnya masuk dan memilih kembali ke rumah, lagian jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam.
Andai saja dia tadi tidak membiarkan Azka menghajar Leo seorang diri, luka tusukan di perut Azka tidak akan ada.
"Ah lo gagal jadi pacar Salsa, Ka," gumam Samuel.
Tidak membutuhkan waktu lama, Samuel sampai di mansion. Seperti biasa, dia akan menyerat motor tersebut dari kejauhan agar tidak ketahuan oleh Sang papi yang selalu menegur dan mengoceh.
Hap
Samuel sampai di dalam kamarnya dengan selama tanpa ketahuan oleh siapaun. Dia mengernyit ketika mendapati tempat tidur yang semula rapi kini berantakan. Siapa yang berani tidur di atas ranjangnya?
"Mungkinkah Ara?" tebak Samuel.
__ADS_1
Pikiran laki-laki wajah dingin itu tertuju pada Ara, karena hanya Ara yang berani tidur di ranjangnya.