Lost Love

Lost Love
Part 60 ~ Sagara Berulah


__ADS_3

Ara terus menatap Samuel setelah keluar dari kamar mandi. Dia rasanya ingin bertanya kenapa laki-laki wajah dingin tersebut bisa mimisan, tapi dia tidak ingin menganggu tunangannya yang tengah asik menyantap donat yang telah dipanaskan itu.


Memang donatnya terjatuh, untung saja Ara hanya membawa saparuh tadi.


"Enak?"


"Hm."


"Abang sakit apa?" Ara memberanikan diri.


"Nggak ada." Cuek Samuel terus menyantap donat yang dibelinya sendiri karena memang enak dan dari langanannya langsung.


Melihat itu, Ara ikut memakan donat tersebut. Dia mengambil toping coklat kacang.


"Abang ini enak banget, cobain deh." Ara mengulurkan tangannya pada Samuel.


Tanpa menolak, Samuel langsung mengigit bekas Ara. Karena memang tadi dia menunggu momen ini. Momen yang selalu Samuel temukan jika makan berdua saja dengan Ara.


Saat kecil sampai sekarang, gadis imut tersebut jika makan sesuatu pasti meminta Samuel mencobanya. Bedanya sekarang Samuel suka rela memakan bekas Ara, tidak seperti dulu yang akan memaki Ara jorok.


"Enak kan?"


"Hm."


"Nanti Ara nyuruh Mami beli lagi terus makan berdua. Abang mau?"


"Hm."

__ADS_1


Ara mengerucutkan bibirnya kesal. "Abang nggak punya jawaban selain Hm? Ara nggak ngerti Abang ngomong iya apa nggak," protes Ara.


"Iya," sahut Samuel.


Laki-laki wajah dingin itu segera meletakkan donatnya ketika ponselnya diatas meja berdering. Dia segera menjawab setelah berada di balkon kamar Ara.


"Siapa?" tanya Samuel dengan suara dinginnya.


"Kayaknya hubungan lo semakin baik. Gue harus ngucapin selamat atau kasihan?"


"Sagara?" Samuel mengeram kesal ketika mengenali suara siapa di seberang telpon.


"Lo harus ngerasain apa yang gue rasain El. Hati lo mudah banget beralih, udah jatuh cinta? Awas jatuh cinta lo bisa membawa petaka bagi orang yang lo cintai!"


Tangan Samuel semakin terkepal hebat. Dia mengedarkan pangannya dan mendapati Sagara berdiri di depan pagar rumah Ara.


"Sepertinya daging tunangan lo empuk ya ...."


"Bangsat lo Sagara!" teriak Samuel dengan tubuh bergetar hebat.


Membuat Ara yang fokus memakan donatnya terkejut karena teriakan laki-laki wajah dingin tersebut. Baru saja Ara akan beranjak, Samuel sudah muncul.


"Abang kenapa?"


Samuel tidak menjawab, dia hanya mengambil kunci mobil juga kacamatanya di atas meja lalu keluar dari kamar Ara. Langkah laki-laki wajah dingin itu terhenti karena cekalan Ara.


"Abang mau kemana? Donatnya belum habis."

__ADS_1


"Gue ada urusan!" Menyentak tangan Ara.


"Tapi Ara belum bayar uang Abang. Semuanya berapa biar Ara ...."


"Nggak usah!" Sahut Samuel dan pergi dari sana. Tidak lupa menutup pintu sebelum meninggalkan tunangannya sendirian di rumah tersebut.


Samuel melajukan mobilnya dia atas kecepatan rata-rata mengejar Sagara yang entah pergi kemana setelah membuatnya emosi.


Mungkin diancam masih bisa Samuel toleransi, tapi tidak dengan menjadikan Ara fantasi *****ual.


***


Ara senyum-senyum sendiri seraya memeluk boneka keropi yang baru saja dia beli.


"Kamu bakal jadi boneka kesayangan Ara. Soalnya kamu dari Abang," ucap Ara menatap boneka tersebut penuh cinta.


"Namanya apa ya?" gumanya memikirkan nama yang pas untuk boneka miliknya.


"Abang El sama Ara ...." Dia menyentuh dagunya terus berpikir, hingga satu nama terlintas di otaknya.


"Karena kamu perempuan, namanya Elara. Abang El sama Ara," ucapnya penuh kebahagiaan.


"Yeh, Ara punya teman. Namanya Elara!" teriaknya kegirangan.


Gadis imut tersebut mengendong Elara menuju lemari yang dipenuhi oleh cermin. Mengarahkan kameranya pada cermin untuk berfoto. Tidak lupa mencium Elara dari samping.


Setelah mengambil gambar beberapa, dia langsung mengirimnya ke Samuel.

__ADS_1


__ADS_2