
Ara duduk di pinggir ranjang, sementara Samuel duduk di sofa setelah memakai pakaian lengkap. Gadis imut itu memanyungkan bibirnya seraya meremas rok yang dia kenakan.
Setelah dibentak oleh Samuel tadi, Ara tidak lagi bicara. Itu adalah saran yang diberikan Alana ketika Samuel sedang marah dia harus diam agar tidak memicu pertengkaran.
Ara mendongakkan kepalanya saat Samuel memanggil dan menepuk sofa.
"Sini Ra!" perintah Samuel.
"Abang nggak marah lagi sama Ara? Maafin Ara karena buat Abang marah tadi. Ara janji nggak bakal nakal-nakal lagi," ucapnya lirih.
"Sini." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Samuel.
Dengan langkah pelan, Ara menghampiri Samuel di sofa, duduk disamping laki-laki wajah dingin itu. Dia terkejut bukan main saat Samuel menarik tubuhnya hingga bersandar di dada bidang laki-laki wajah dingin tersebut.
"Abang ...."
"Lo boleh meluk," ucap Samuel membuat Ara menatapnya penuh tanda tanya besar.
Tentu saja gadis imut itu bingung. Tadi Samuel mengatakan jangan, tapi sekarang membolehkan.
"Bukannya Abang nggak suka kalau Ara meluk-maluk?"
"Jangan peluk gue kalau lagi nggak pakai baju. Lo mau kenyang sembilan bulan, hm?"
"Kenyang sembilan bulan?" beo Ara mengerjap-erjapkan matanya seraya menikmati elusan Samuel di tangan kirinya.
"Hm."
__ADS_1
"Kenyang sembilan bulan itu ...." Ara kembali mengatupkan bibirnya ketika deringan ponsel terdengar. Dia memperhatikan Samuel yang tengah menjawab telpon dari seseorang.
"Lo dimana njir? Kita udah di mall ini!"
Samuel sontak menjauhkan benda pipih di telinganya ketika suara Rayhan terdengar.
"Rumah Ara."
"Anjir ngebucin, padahal kita dah nunggu. Kita tunggu!"
Tut
Samuel menghela nafas panjang, benar-benar Rayhan tidak punya akhlak. Langsung saja dia sedikit mendorong tubuh Ara agar bisa berdiri.
"Siap-siap gih!"
"Mau kemana Abang? Di luar masih hujan," tanya Ara ikut berdiri.
Senyuman Ara mengembang sempurna. Dia mengangguk dan segera bersiap-siap. Karena diluar masih hujan meski sudah tidak terlalu deras, Ara memutuskan memakai celana panjang juga Hoodie keberasan yang dibelikan mami Fany dulu.
Ara menghampiri Samuel yang telah berada di depan rumah.
"Kita naik motor Bang?" tanya Ara.
"Mau?"
Ara mengeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Terus ngapain nanya?"
"Abang ketus mulu sama Ara. Abang nggak bisa ngomong baik-baik sama Ara? Kalau Abang ketus-ketus Ara sedih dan pengen nangis," lirihnya mengeluarkan isi hatinya.
Terdengar helaan nafas dari Samuel sebelum mengengam tangan Ara dan memasulkan ke hoodienya. Hoodie yang dipakai Ara tadi kini dipakai oleh Samuel.
"Ingetin gue kalau lo nggak suka sama sikap gue," pinta Samuel dengan nada sedikit lembut.
Beberapa menit berdiri di depan rumah, akhirnya taksi yang dipesan oleh Samuel datang juga. Laki-laki wajah dingin itu membukakan pintu lebih dulu pada Ara sebelum masuk.
Tanpa keduanya sadar, sejak tadi ada yang memperhatikannya dari kejauhan. Orang itu tengah mengepalkan tangannya melihat kemesraan Samuel dan Ara.
"Bersenang-senanglah, dan buat kenangan indah sebanyak-banyaknya sebelum gue ngambil nyawa Ara!" guman seseorang di rooftop terbuka milik tetangga Ara.
Selama ini Sagara memang tidak membutuhkan nyawa Samuel, dia hanya membutuhkan Ara untuk menghancurkan laki-laki wajah dingin itu perlahan-lahan hingga tidak sanggup dan mengakhiri hidupnya sendiri seperti yang dilakukan adiknya.
"Sepertinya ancaman nggak ada gunanya sekarang. Mungkin membuktikan ancaman lebih baik."
Sagara melompati beberapa lantai hingga berada di halaman rumah kosong tepat di samping rumah Ara.
Sekarang dia tidak bisa mendekat sebab Samuel selalu ada di samping Ara. Jika aduk fisik dia kalah, maka kelicikan harus berjalan untuk mengalahkan Samuel.
Menerobos masuk ke rumah Ara? Sekarang itu sangat sulit sebab Samuel tengah membuat pengaman di setiap sudut rumah.
Sagara melajukan motornya secara perlahan mengikuti taksi yang tengah membawa Ara dan Samuel yang menuju pusat perbelanjaan.
Sepertinya hari ini hari yang pas untuk merealisasikan ancamannya untuk melukai Ara.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.