Lost Love

Lost Love
Part 56 ~ Modus Samuel


__ADS_3

Samuel memandangi kepergian taksi yang telah di tumpangi oleh Ara. Ternyata memperjuangkan seseorang yang berniat menjauhi kita sesakit ini. Samuel baru merasakannya sekarang.


Bagaimana perasaan Ara selama ini? Selain dia menghindar, dia juga menyakiti fisik Ara secara bersamaan. Memikirkan itu semua membuat Samuel tidak pantas untuk mendapatkan cinta Ara untuk keduanya kalinya.


Samuel menoleh ketika pundaknya di tepuk oleh Keenan. "Cewek kalau udah nyerah susah bujuknya. Lo harus benar-benar berjuang tanpa ada kata nggak pantas," ucap Keenan seperti bisa membaca isi pikiran Samuel saja.


"Markas kuy!" ajak Keenan ketika inti Avegas lainnya sudah datang.


"Gue ada urusan, kalian dulua aja," ucap Samuel dan berlari menuju parkiran untuk mengambil motornya.


Hari ini Samuel tidak akan mampir kemanapun selain mansion. Laki-laki wajah dingin tersebut ingin menemui Maminya.


Sekarang, hanya wanita paruh baya tersebut yang bisa membantunya agar dekat kembali dengan Ara. Terlebih gadis imut tersebut terang-terangan mengatakan ingin menjauh darinya sebab ingin hidup tenang.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Samuel untuk sampai di mansion milik orang tuanya. Sangat di untungkan maminya tidak pergi kemana-mana hari ini.


Samuel mencium punggung tangan Fany setelah sampai.


"Tumben anak mami pulang cepat," sindir Fany.


Samuel tidak menjawab dan langsung memeluk maminya manja.


"Kenapa nih meluk-maluk?" heran Fany melerai pelukan putranya.

__ADS_1


Dia menatap penuh selidik laki-laki wajah dingin tersebut. Tidak biasanya Samuel memeluk seseorang tanpa diminta.


"El nggak sibuk, mungkin Mami mau belanja sesuatu," ucap Samuel.


Fany semakin membulatkan matanya tidak percaya. Ayolah sejak kapan Samuel sukarela menjadikan dirinya teman jalan?


Selama ini jika Fany keluar belanja atau jalan-jalan dia akan selalu memaksa putranya, dan hari ini tanpa ada angin atau hujan malah menawarkan diri.


"Serius Nak?" tanya Fany memastikan dan dijawab anggukan oleh Samuel.


"Baiklah, tunggu sebentar. Mami siap-siap dulu sekalian telpon Ara biar sekalian ikut," ucap Fany berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap tanpa menyadari raut wajah Samuel yang berseri-seri.


"Yes!" Samuel mengepalkan tangannya penuh kemenangan, bahkan tanpa meminta lebih dulu, keinginannya sudah terpenuhi. Dia akan jalan bersama Ara tanpa mengajak lebih dulu.


Seperti yang dilakukan Maminya, Samuel juga ke kamarnya untuk bersiap-siap dan memanaskan mobil Buggati Mistral hitam miliknya yang sudah lama tidak dia pakai.


"El? Tumben pakai mobil ini?" tanya Fany bingung sendiri, meski begitu tetap saja masuk ke mobil.


"Pengen aja Mam," jawab Samuel.


Perlahan-lahan buggati mistral itu meninggalkan mansion dan membelah padatnya jalan raya.


"El, jangan lupa jemput Ara di rumah sakit," ucap Fany memperbaiki dandanannya.

__ADS_1


"Hm," gumam Samuel padahal ingin rasanya dia bertanya kenapa Ara berada di rumah sakit.


"Sekarang Ara banyak berubah ya El, makin mandiri dan cantik. Kamu harus pintar-pintar jaga dia, jangan sampai dipepet sama cowok lain. Mami nggak mau calon mantu mami pergi ya," ucap Fany memperingatkan.


"Tenang aja Mam, El bakal berusaha," celetuk Samuel penuh percaya diri.


Laki-laki wajah dingin tersebut membating setir kemudi memasuki lingkungan rumah sakit untuk menjemput sang tunangan untuk jalan-jalan dan belanja sepuasnya.


Dia menghentikan mobil tepat di depan seorang gadis juga laki-laki yang Samuel benci. Siapa lagi jika bukan Edgar.


Diam-diam, Samuel memperhatikan interaksi Ara dan Edgar dibalik kacamata hitam yang dia gunakan.


"Makasih ya Ra udah mau jengukin Mama," ucap Edgar.


"Sama-sama Milo, nanti Ara datang lagi."


Pip ... Pip ... Pip.


"Dadah!" Ara melambaikan tangannya dan berlari menuju mobil karena klakson yang mulai ribut di depan rumah sakit.


Gadis imut tersebut membuka pintu belakang dan duduk bersama Fany.


"Mami, maafin Ara karena lama," ucap Ara mencium punggung tangan Fany.

__ADS_1


"Nggak sama sekali Nak. Jadi itu yang namanya Milo? Tampan ya dia," puji Fany.


"Biasa aja," celetuk Samuel.


__ADS_2