Lost Love

Lost Love
Part 186 ~ Ijab Kabul


__ADS_3

10 menit lagi sebelum akad nikah akan dimulai, tapi Samuel masih belum beranjak dari duduknya. Pria itu sibuk memandangi ponselnya yang tidak kunjung berdering, padahal dia sangat mengharapkannya.


Samuel melirik pintu kamar yang berdecit, memaksakan senyumnya melihat wanita paruh baya yang sangat dia cintai dan sayangi. Mungkin Samuel bisa saja egois dengan kabur di hari pernikahannya, lalu bagaimana dengan kesedihan wanita yang tidak pernah ingin dia lihat air matanya?


"Kenapa, Nak?" tanya Fany duduk di samping Samuel. Wanita paruh baya itu meraih tangan putranya, mengenggam seerat mungkin.


"Pilihan orang tua tidak pernah salah, Nak. Kamu tau kan? Sekarang sudah waktunya untuk mengambil tanggung jawab sebagai seorang suami dari gadis yang telah dibesarkan oleh ayahnya penuh kasih sayang." Menatap manik Samuel yang tiba-tiba meredup.


"Meski kalian menikah karena dijodohkan, mami mohon jadilah suami yang baik untuknya."


Samuel mengangguk samar meski rasanya sangat berat akan menikah dengan gadis yang tidak dia cintai.


Mungkin memang takdir kita cuma sampai di sini, Ra.


Samuel bangkit dari duduknya, berjalan beriringan dengan Fany yang dengan setia mengamit lengannya. Jantung pria itu berpacu sangat hebat ketika akan menuruni tangga yang langsung menuju aula dimana pesta akad sekaligus resepsi di laksanakan.


Pria itu baru sadar kalau dekorasi resepsi pernikahannya sangatlah indah, di sisi tangga ada sebuah panggung yang telah di isi dua kursi layaknya istana kerajaan.

__ADS_1


Di sekitarnya terdapat banyak bunga juga air mancur buatan menyerupai patung harimau. Ah Samuel jadi teringat dengan anak-anak Jack yang tidak bisa ikut ke pesta demi keamanan semua orang.


Samuel memaksakan senyumnya melihat teman-temannya berdiri berjejer layaknya pagar ayu.


"Ganteng banget sih omnya Arga," puji Alana yang tengah memeluk lengan Alvi posesif, terlebih terlalu banyak wanita di pesta tersebut.


"Bukannya udah dari dulu?" Menaikkan alis menyahuti pujian Alana, membuat wanita itu merengut kesal. Usia 30 tahun, tidak membuat Alana berubah dengan sikap jahilnya.


"Sukses bro, buruan penghulu udah nunggu." Dito menepuk pundak Samuel, di samping pria itu ada gadis berusia 13 tahun yang sangat cantik.


"Lo udah liat ceweknya?" bisik Samuel pada Azka yang tengah mengedong Sheila. Azka lantas mengelengkan kepalanya. "Nggak, takutnya malah jelek, kan kasian keturuan lo." Azka meledek, membuat Samuel mendelik kesal.


Sebelum mengucapkan ijab kabul, penghulu memberikan khotbah lebih dulu, dilanjutkan dengan melafalkan doa untuk pria.


Samuel mengerutkan keningnya ketika Deon berpindah tempat berada di hadapannya, langsung meraih tangan pria itu untuk dia jabat.


Jantung Samuel seakan berhenti, keringat dingin mulai bercucuran di seluruh tubuhnya melihat tatapan tajam Deon, apalagi saat bibir pria itu bergerak hendak mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Samuel Reinhard Winarta Adhitama bin Daren Winarta Adhitama dengan putri saya Arabella Prianka dengan maskawin dua yunit mobil fortune, satu yunit rumah, emas 100 gram, saham 10% persen, satu butik dan seperangkat alat sholat, tunai!"


Samuel memejamkan matanya sejenak, jantung pria itu semakin tidak terkendali mendengar nama gadis yang dia cintai disebut sebagai calon istrinya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menyahuti ucapan Deon.


"Saya terima nikah dan kawinnya Arabella Prianka binti Deon Danuarga dengan maskawin tersebut, Tunai!"


"Sah?"


"Sah!"


Teriakan dari anggota Avegas yang berada di barisan paling belakang mengema, belum lagi para inti Avegas yang tidak menyangka gadis yang akan dinikahi oleh Samuel adalah Ara.


Pantas saja nama dan nama orang tua mempelai wanita tidak diberitahukan lebih dulu pada Samuel. Ternyata pria itu sudah menghafalnya diluar kepala.


Samuel memandangi papinya juga om Deon dengan mata berkaca-kaca, pria itu tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya meski dengan kata-kata.


Sungguh, ini adalah kejutan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Ternyata takdir kita baru saja dimulai, Ra.


__ADS_2