Lost Love

Lost Love
Part 156 ~ Milik Elara


__ADS_3

Asa memaksakan senyumnya saat memandangi wajah di depan cermin. Untuk pertama kalinya gadis imut itu memperhatikan penampilannya agar lebih terlihat cantik.


Ara mengerti tentang make up, hanya saja selama ini dia tidak peduli akan semua itu. Namun, kini Ara duduk di depan meja rias dengan wajah sangat cantik.


Dress putih dengan bando yang senada menghiasi kepala gadis imut itu. Lipstik pink juga rambut yang dibiarkan tergerai indah membuat Ara terlihat sangat cantik hari ini. Bahkan berkali-kali lipat.


"Ara udah cantik abang," lirih Ara dengan secerca harapan dalam hatinya.


Gadis imut itu beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar. Taksi di depan mungkin sudah menunggu dirinya.


"Cantik banget anak bunda, mau ketemu abang?" tanya Kirana menyambut Ara di anak tangga.


Ara mengangguk malu-malu.


"Baru jam 10 Nak, satu jam lagi abang pulang sekolah. Berangkat sekarang cuma buat kamu nunggu terlalu lama, belum lagi ditaman panas."


"Nggak panas kok Bun, Ara duduk di bawah pohon nunggu abang. Dadah Bunda." Ara melambaikan tangannya.


Dia segera masuk ke taksi dan taksi itu membawanya pergi ke taman dekat kompleks.


Ara tahu ada satu jam lagi untuknya menunggu, tapi gadis imut itu tidak ingin melewatkan waktu begitu saja di detik-detik terakhirnya dia akan pergi.


Ara berjalan perlahan menuju bangku yang ada di bawah pohon. Bangku yang sengaja Ara dan Samuel buat untuk duduk berdua jika sedang jenuh berada di rumah.


Dia senyum-senyum sendiri mengigat bagaimana serunya saat membuat bangku untuk dua orang tersebut.

__ADS_1


"Abang pintar banget jadi makin sayang," puji Ara kala itu saat Samuel membuat bangku.


"Gue juga sayang."


"Abang kita tulis nama kita disini biar nggak ada yang ambil. Elara, itu nama kitakan?"


"Hm." Samuel bergerak mengambil cet berwarna biru dan menuliskan Elara tepat di sandaran kursi.


Ara sontak memeriksa tulisan di belakang punggungnya.


Milik Elara


Itulah yang tertulis di sandaran bangku tersebut.


"Hihihihi, nanti abang duduk sendiri di sini soalnya Ara mau pergi," gumam Ara mengusap nama Elara dengan air mata mulai membasahi pipinya.


"Nggak boleh nangis nanti cantiknya hilang," lirihnya.


Ara mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada Samuel.


Ara udah sampai ditaman Abang, Ara tunggu ya.


Ara cuma punya waktu sampai jam 8 malam jadi jangan telat.


***

__ADS_1


Samuel tersenyum lega setelah berhasil mengerjakan soal ujian tanpa kendala apapun, bahkan hampir semua soal bisa Samuel jawab dengan benar.


Laki-laki dingin itu berjalan keluar ruangan seorang diri, karena memang di dalam ruangan itu tidak ada sahabat-sahabatnya.


"Samuel!"


Langkah Samuel yang hendak menuju parkiran berhenti, dia berbalik untuk menatap gadis yang memanggilnya.


"Kenapa? Lo butuh sesuatu?" tanya Samuel pada istri sahabatnya.


Salsa mengeleng dan berjalan semakin mendekati Samuel. "Gue mau bicara berdua aja sama lo, hari ini ada waktu kan?"


"Hm."


Salsa tersenyum dan berjalan lebih dulu keluar dari lingkungan sekolah. Menyusuri trotoar diikuti Samuel di belakangnya hingga mereka sampai di Cafe dekat sekolah.


"Diluar aja ya, takut Azka cemburu," canda Salsa meski hatinya terasa sesak.


Samuel senyum simpul menanggapi candaan Salsa. "Mau bicara apa?"


"Tentang Sasa," lirih Salsa. Wanita itu mengeluarkan flashdisk di saku seragamnya. "Sebenarnya Azka mau ngasih tau lo setelah kita lulus dan masalah kalian selesai, tapi gue nggak sanggup nyimpan kebenaran ini terlalu lama, El."


"Apa ini?"


"Dengerin aja biar lebih paham dan percaya. Oh iya, Sasa nggak pernah khianatin lo, selama ini dia juga korban Leo. Gue pergi ya." Salsa beranjak dari duduknya dan meninggalkan Cafe tanpa menunggu pesanan yang dia rekues pada barista.

__ADS_1


Sementara Samuel terpaku di tempatnya mendengar ucapan Salsa. Antara percaya dan tidak kalau Sasa benar-benar tidak mengkhianatinya.


Samuel mengenggam Flashdisk itu seerat mungkin. Mengeluarkan selembar uang merah dan meletakkan di atas meja kemudian pergi dari Cafe.


__ADS_2