Lost Love

Lost Love
Part 174 ~ Ruang Operasi


__ADS_3

"Kamu kenal sama ...."


"Dokter Ara, pasien sudah ada di ruang operasi," ucap seorang suster berhasil menghentikan kalimat Ara yang ingin tahu siapa yang tergeletak di lantai rumahnya bersimbah darah.


"Udah dulu ya Sayang, bunda mau kerja." Dengan terpaksa Ara memutuskan sambungan telpon dan masuk ke ruang operasi untuk menangani korban kecelakaan beberapa hari yang lalu kondisinya belum stabil sepenuhnya.


Sepanjang di ruang operasi, pikiran Ara tidak bisa tenang karena perkataan putrinya. Takut seseorang yang dia sayangi terluka.


"Dokter, terjadi pendarahan!" ucap asistennya.


Ara segera tersadar dan mempercepat gerakan tangannya untuk menghentikan pendarahan. Lama gadis itu harus menghentikan pendarahan, bahkan cipratan darahnya mengenai masker yang dikenakan oleh Ara.


Untung saja bukan penyakit menular, atau gadis itu akan ikut terinfeksi. Helaan nafas lega terdengar ketika kurva monitor pada alat EKG begerak normal.


Beberapa jam setelahnya, Ara berhasil menyelamatkan pasien dan keluar dari ruang operasi dengan kondisi stabil.


Gadis itu membuka masker juga baju yang dia kenakan lalu melempar ke boks yang berada di depan ruang operasi. Menunduk sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan.


"Minum dulu!" Seseorang menyodorkan air minum pada Ara.


Gadis itu lantas mendongak dan tersenyum dengan wajah pucatnya. Tanpa aba-aba Ara langsung memeluk Edgar untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Aku hampir membunuh pasien, Edgar," lirih Ara. Menyesal karena tidak bisa fokus saat ada di ruang operasi. Entah bagaimana histerisnya Ara jika seseorang meninggal di meja operasinya.


"Tenanglah, hal ini sering terjadi pada dokter. Kita bukan Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawa, apalagi mengembalikan. Kita hanya perantara untuk meredakan rasa sakit dari tubuh manusia," ucap Edgar menepuk-nepuk punggung Ara pelan. "Minum dulu gih."


Ara mengangguk pelan setelah melepaskan pelukannya. Meneguk sebotol air hingga setengahnya barulah perasaanya menjadi sedikit tenang. Ara tidak mengerti, kenapa jantungnya berdetak tidak karuan dan pikiran terus saja melayang pada perkataan putrinya beberapa jam yang lalu.


Gadis itu dan Edgar melangkahkan kakinya keluar dari area ruangan operasi sambil membicarakan beberapa penyakit yang sering kali mereka temui dalam satu bulan terakhir.


Bukan hanya di indonesia, tapi di beberapa negera lainnya juga.


"Ra, bukannya bunda kamu itu?" Edgar menunjuk wanita yang baru saja keluar dari lift. Ara yang melihatnya lantas berlari untuk menghampiri sang bunda.


Kirana menghela nafas panjang sebelum menjawab, terlebih melihat penampilan Ara yang sedikit acak-acakan.


"Samuel dipukul sama ayah sampai tidak sadarkan diri. Sekarang dia ada di ruangan VIP lantai 4, unit ...."


"Makasih Bunda."


Tanpa memperdulikan siapapun karena rasa khawatirnya, Ara berlari memasuki lift yang kebetulan terbuka. Memencet tombol angka 4 agar bisa sampai dengan cepat ke ruangan Samuel.


Meski mengatakan tidak peduli, tidak bisa dipungkuri Ara masih mengkhawatirkan kondisi mantan tunangannya.

__ADS_1


"Bodoh, kenapa dia harus bertemu ayah? Bukannya ...." Kalimat Ara terhenti ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 1 siang, padahal penerbangan Samuel jam 12 siang.


Ara memejamkan matanya sebelum membuka pintu ruang rawat Samuel. Mendorong pintu perlahan hanya untuk memastikan siapa yang ada di dalamnya.


Ternyata tidak ada orang selain Samuel sendiri yang berbaring dengan selang infus di tanganya, juga beberapa lebam di wajah. Dia mendekati brangkar dan duduk di kursi yang tersedia.


"Seharusnya aku tidak mengatakan bahkan bertemu denganmu sebagai pasien aku tidak sudi. Aku lupa, sering kali ucapan dokter menjadi nyata," lirih Ara mengusap luka lebam di wajah mantan tunangannya.


Seorang dokter, khususnya jika berada di rumah sakit harus berhati-hati jika mengucapkan sesuatu. Terlebih kalimat.


Hari ini sepi ya?


Seakan disulap, maka berbagai pasien akan datang entah korban kecelakaan atau sekedar pasien yang memang ada di rumah sakit mengalami penurunan drastis.


Aneh tapi terasa sangat nyata. Entah hanya sebagian rumah sakit atau keseluruhan.


"Harusnya kamu nggak ketemu ayah, Abang. Dia masih dendam. Sekarang lihat apa yang terjadi, kamu sekarang berada di rumah sakit kerana aku."


"Sampai kapan kamu akan bersikap egois dan keras kepala? Apa 14 tahun bukan waktu yang cukup untukmu berubah lebih dewasa lagi?"


Ara terus saja mengelus pelan luka memar di wajah Samuel, terutama bagian bibir yang terdapat luka robekan yang mulai mengering.

__ADS_1


__ADS_2