Lost Love

Lost Love
Part 171 ~ Aku ingin menikah


__ADS_3

Sarapan bersama tidak pernah Ara lewatkan bersama putri dan kedua orang tuanya jika memang ada waktu, terlebih pagi ini gadis itu ingin membicarakan hal serius pada kedua orang tuanya.


"Makan yang banyak, Sayang." Ara menambahkan lauk ke piring putrinya.


Asa mengangguk antusias dan kembali menyantap sarapan sambil tersenyum senang. Ara ikut senang melihat senyuman dari putrinya. Gadis itu beralih menatap kedua orang tuanya.


"Ara mau dijodohkan, Ara terima apapun keputusan Ayah," katanya.


Selama ini Deon sering kali membujuk Ara agar mau menerima lamaran dari beberapa koleganya, tetapi gadis itu sering menolak dengan alasan sibuk bekerja dan belum bisa melupakan Samuel. Tapi hari ini tiba-tiba mengatakan hal sebaliknya, tentu saja Deon dan Kirana sedikit kaget mendengarnya.


"Kamu yakin Nak? Bukannya kemarin kamu bertemu Samuel?" Deon memastikan.


"Aku yakin Yah, siapapun yang datang kerumah lebih dulu terima saja lamarannya. Lagian Asa pasti butuh seorang ayah." Ara beranjak dari duduknya setelah berhasil menghabiskan sarapan.


Mengecup pipi Asa sebelum meninggalkan rumah karena hari ini dia harus memeriksa kondisi pasien yang dia operasi kemarin sore.


***


Sama halnya dengan Ara, kini Samuel datang ke mansion untuk sarapan bersama orang tuanya untuk menanyakan sesuatu yang sangat serius.


Sesekali pria itu melirik mami dan papinya yang tampak tenang menikmati sarapan tanpa bicara sepatah katapun. Mungkin tahu kalau Samuel sangat membenci pembicaraan saat makan.


Namun, sepertinya hari ini pengecualian sebab Samuel tidak punya waktu banyak. Siang nanti pria itu harus berangkat bekerja dan entah kapan akan pulang. Mungkin besok atau lusa, atau tidak sama sekali jika terjadi sesuatu di udara.


Samuel berdehem sebentar sebelum berucap. "El mau ngomong sesuatu Mih."

__ADS_1


"Apa Sayang?"


"El ketemu Ara di rumah sakit, dia tampak jauh berbeda dari sebelumnya, juga ada anak kecil bernama Asa yang memanggilnya bunda. Apa Ara sudah menikah?"


"Kalian bertemu?"


"Hm."


"Akhirnya kalian dipertemukan juga oleh takdir Nak."


"Maksud Mami apa?" Kening Samuel mengkerut.


Fany tersenyum pada putranya. "Sebenarnya sudah lama mami tau kalau Ara di Indonesia, tapi tidak memberitahu kamu karena yakin jodoh tidak akan kemana. Iya Nak dia punya putri bernama Asa."


"Jadi Ara sudah menikah?"


"Syukurlah." Samuel bernafas lega mendengarnya. Pria itu kembali menyantap sarapannya sebelum pamit undur diri kerumah sakit, selain menjenguk Rayhan tentu saja bertemu kekasihnya.


"Apa gue harus terluka?" gumam Samuel setelah berada di dalam mobilnya, melajukan secara perlahan membelah padatnya jalan raya.


Pikiran Samuel sedang berkelana antara tidak bertindak bodoh atau menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan agar teluka dan berakhir di rumah sakit, dengan begitu tentu saja dia akan bertemu Ara jika beruntung. Kalau tidak, tentu saja dia berada di alam lain.


"Nggak, itu konyol banget." Samuel mengelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran gila di kepala.


Pria itu memarkirkan mobilnya di basamen bawah tanah sebelum memasuki rumah sakit Edelweis, salah satu rumah sakit swasta yang fasilitas dan segala kebutuhannya sangat lengkap.

__ADS_1


Samuel mengulum senyum melihat seorang gadis baru saja keluar dari ruangan ICU, mungkin memeriksa pasien yang ditangani kemarin.


Pria itu mempercepat langkahnya hingga menabrak pundak Ara dan hampir terjatuh. Dengan sigap Samuel melingkarkan pinggangnya di pinggang gadis tersebut.


"Maaf," lirih Samuel.


"Nggak papa, aku yang salah karena sibuk sendiri tanpa ... Samuel?" Ara lantas mendorong dada Samuel agar menjauh darinya.


"Kita bertemu lagi."


"Hm, mari ...." Saat Ara hendak pergi, tangannya langsung ditarik oleh Samuel.


"Mau menjenguk Rayhan?"


"Kak Ray?"


"Dia lagi sakit."


Ara terdiam, memikirkan apa dia harus ikut atau tidak. Gadis itu akhirnya mengangguk samar ketika hati nuraninya sebagai seorang dokter mengatakan iya.


Keduanya berjalan beriringan menuju lift tanpa berbicara satu sama lain. Samuel sesekali mengerakkan tangannya hendak mengenggam tangan Ara, tapi selalu gagal sebab gadis di sampingnya tidak mau diam. Entah sedang menghindar atau memang sibuk.


"Maaf untuk semuanya, maaf 14 tahun yang lalu gue nggak nepatin janji buat datang ke taman. Gue ...."


"Datang ke makam Sasa karena merindukannya sehingga lupa dengan janji kita," lanjut Ara dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


"Andai kamu datang maka ini semua tidak akan terjadi."


__ADS_2