Lost Love

Lost Love
Part 113 ~ Jangan bertahan jika menyiksa


__ADS_3

Seperti permintaan Ara kemarin, Samuel benar-benar menunggui gadis imut itu sampai benar-benar pulang kerumah. Dia duduk di sofa, memperhatikan interaksi Ara dengan orang tuanya juga orang tua Samuel sendiri.


Sejak kedatangan Mami Fany diruangan Ara, Samuel belum mengeluarkan suara apapun.


"Ara naik mobil sama Abang aja," ucap Ara menghampiri Samuel dan memeluk lenganya mesra.


"Ara sama Mami aja gimana?" tawar Fany penuh senyuman.


Ara mengelengkan kepala sebagai jawaban. "Ara maunya sama Abang, boleh ya?"


"Boleh, tapi langsung pulang dulu. Jangan kemana-mana, ya El," ucap Deon.


"Iya om."


Akhirnya setelah berdebat Ara akan pulang dengan siapa, semua para orang tua meninggalkan sepasang kekasih itu, menbuat Ara tersenyum senang.


"Abang tau, Ara semalam mimpi indah banget."


"Mimpi apa?" tanya Samuel seraya membukakan pintu mobil untuk mekasihnya. Tidak lupa memasangkan sabuk pengaman.


Cup


Samuel menelan salivanya kasar, jantung yang semula normal berdetak tidak beraturan mendapat kecupan tiba-tiba dari gadis yang dia cintai. Diam-diam Samuel mengulum senyum, memperbaiki posisi duduknya setelah di rasa pengaman terpasang dengan benar.


"Jangan nyium orang sembarangan," titah Samuel, mulai memutar setir kemudi keluar dari lingkungan rumah sakit.


"Abang marah Ara cium?" tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa, padahal baru saja membuat jantung seseorang bekerja sangat cepat.

__ADS_1


Dia menunduk seraya meremas jari-jarinya. Ara tidak berniat sama sekali membuat Samuel marah, hanya saja dia sangat ingin mencium Samuel setelah bermimpi laki-laki wajah dingin itu mengatakan cinta padanya.


Ara melirik sekilas ketika tangannya di genggam oleh tangan kekar yang terasa sangat hangat.


"Jangan nyium orang selain gue." Samuel kembali berucap tanpa ingin menatap wajah Ara.


Padahal gadis imut itu tengah mesem-mesem sendiri karena sangat baper. "Ara nggak bakal cium siapapun kecuali Abang, karena cuma Abang yang Ara suka."


"Pintar," puji Samuel.


Laki-laki wajah tampan itu mulai memelankan laju mobilnya ketika hampir sampai di salah satu toko donat yang sering dia kunjungi.


"Tunggu bentar," ucapnya pada Ara, kemudian berlari memasuki toko donat.


Sudah lama Samuel tidak membelikan apapun untuk kekasihnya, dan hari ini berniat membeli donat. Jangan lupakan apa yang ada di dalam tasnya yang berada di jok belakang mobil.


Selang beberapa menit, akhirnya Samuel kembali lagi ke mobil membawa satu dus donat ukuran sedang. Dia menyerahkan pada Ara setelah berada di mobil.


"Buat Ara?"


"Hm."


"Makasih Abang, Ara emang suka donat," ucap Ara dengan binar bahagia. Gadis imut itu langsung membuka kotak donat dan mengambil satu kemudian mencicipi.


Samuel yang melihatnya hanya diam-diam tersenyum. Suka, jika pemberiannya begitu dihargai oleh Ara.


"Abang mau?" tanya Ara di sela-sela mengunyah donatnya sendiri.

__ADS_1


Samuel mengangguk sebagai jawaban, membuat Ara dengan sigap menyuapi sebab dia tengah menyetir mobil, meski laju sangat pelan.


"Enak," puji Samuel. "Soalnya yang nyuapin orang tercinta," lanjutnya dalam hati yang tentu saja tidak dapat di dengar oleh Ara.


Laju mobil yang sangat pelan, membuat Samuel dan Ara sampai di rumah cukup lama. Tapi itu tidak membuat Deon marah, sebab sudah sangat mempercayai anak dari sahabatnya itu.


Samuel buru-buru turun untuk membukakan pintu untuk Ara yang tengah kerepotan memangku donat, bahkan sudut bibir gadis imut itu kotor karena noda coklat.


"Makannya pelan-pelan, jangan kayak anak kecil," lirih Samuel menghapus coklat di sudut bibir Ara dengan jarinya, kemudian membantu membawakan donat juga tas yang berada di jok belakang.


"Akhirnya datang juga, entah dari mana kalian berdua ini," sambut Kirana.


"Abang bawa mobilnya pelan banget Bunda, padahal nggak macet," jawab Ara tanpa tahu demi siapa Samuel memelankan laju mobil.


Padahal Samuel sengaja agar Ara bisa menikmati donat dengan tenang.


Samuel menoleh ke samping ketika merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, dia tersenyum tipis pada Deon, meski ada rasa gugup dan sedikit rasa bersalah telah berbohong tentang penculikan Ara.


"Ayah bangga sama kamu El, bisa sabar ngadepin tingkah Ara yang diluar nalar," puji Deon merangkul pundak Samuel penuh senyuman.


"Kalau kesabaran kamu udah mencapai batas dan mau marah, jangan marahin anak Ayah ya! Sikap Ara memang gitu setelah mengalami kecelakaan di bagian kepala. Kata dokter semuanya bakal membaik kalau otaknya nggak dipaksa berpikir terlalu keras.


"Iya Om."


"Kalau mau nyerah dan cape, tinggalin aja daripada tersiksa satu sama lain!"


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.


__ADS_2