Lost Love

Lost Love
Part 74 ~ Mengetahui semuanya.


__ADS_3

Samuel mengepalkan tangannya kuat-kuat mendengar pembicaraan Alana dan Ara yang baru saja selesai. Laki-laki wajah dingin tersebut yakin, seseorang yang dimaksud Ara adalah Sagara. Karena selama ini hanya Sagaralah musuhnya.


Dia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Ara dan Alana. Duduk tepat di samping tunangannya.


"Lo diancam sama Sagara?" tanya Samuel tanpa basa-basi, sementara Alana langsung pergi setelah dirinya datang.


"Ra, jawab gue!" pinta Samuel berusaha untuk tidak membentak.


Ara mengelengkan kepalanya. "Ar-ara nggak ...."


"Iya atau nggak?" potong Samuel cepat.


Ara mengerjap-erjapkan matanya menatap Samuel yang kini juga menatapnya. Gadis imut itu melirik tangan Samuel yang tengah mengenggam tangannya cukup erat.


"Lo jauhin gue karena Sagara? Atau benci sama gue?" tanya Samuel namun Ara diam saja.


"Ra, jawab gue plis!" desaknya.


"Ara nggak benci ...."


"Lo nggak benci sama gue!" tekan Samuel.


Sontak tangis Ara pecah di dalam perpustakaan tersebut, untung saja guru yang tengah berjaga sedang pergi, jadi tidak akan ada yang menegur keduanya.


Melihat hal tersebut, Samuel menarik Ara dalam pelukannya, mengelus rambut lurus gadis itu.


"Lo di ancam sama Sagara buat jauhin gue?"

__ADS_1


Ara menganggukkan kepalanya dalam dekapan Samuel. Jika boleh jujur, Ara sangat tersiksa memendam rasa takutnya seorang diri. Dia butuh sandaran seperti saat ini. Rasa takut di dalam hatinya perlahan-lahan menghilang berada di pelukan Samuel.


"Ara takut Abang mati, kata kak Sagara dia mau bunuh Abang pakai pisaunya," lirihnya.


"Nggak ada yang bisa bunuh gue, kecuali lo Ra. Jadi stop takut sama ancaman dia. Lo tinggal sama gue ya."


Ara mengelengkan kepalanya. "Nggak mau."


"Ra."


"Abang nggak boleh dekat-dekat sama Ara ya!" pinta Ara menatap manik tajam Samuel. "Ara nggak mau jadi anak yatim piatu!" Tangisan Ara semakin menjadi dalam pelukan Samuel.


Selain di ancam akan membunuh Samuel, Sagara juga mengacam Ara akan membunuh kedua orang tuanya.


"Sebelum dia bunuh orang tua lo, gue bakal bunuh dia Ra," lirih Samuel.


Tahu apa penyebab Ara menghindarinya, Samuel menjadi sedikit tenang meski ingin rasanya dia menemui Sagara dan langsung membunuhnya hari itu juga.


Seperti yang diingingkan Ara, Samuel tidak mendakati gadis tersebut karena tidak ingin tunangannya tertekan karena ketakutan.


Orang yang terlanjur jatuh kedalam lembah ketakutan, akan sulit diyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Dan Samuel tidak ingin memaksa Ara untuk keluar dari rasa takut tersebut.


"Jadi rencana lo apa sekarang?" tanya Azka.


"Bunuh Sagara!" jawab Samuel tidak main-main.


Mulut Rayhan sontak terbuka lebar mendengar jawaban itu. "Santai aja responnya njir." Ricky mengusap mulut Rayhan agar bibir itu saling menempel.

__ADS_1


"Sagara tuh banci tau nggak. Bisanya nyerang cewek doang. Nyerang kok mental, fisik dong!" kesal Dito.


"Mana setelah ngancem, kabur lagi tanpa jejak." Keenan ikut mengerutu.


Sudah hampir tiga jam inti Avegas berada di ruangan pribadi markas untuk melacak keberadaan Sagara. Namun, jejak laki-laki itu kembali menghilang.


"Gue harus pulang!" Samuel beranjak dari duduknya.


"Pencariannya?" tanya Rayhan sebagai anggota yang mengusai teknologi.


"Gue punya cara lain," jawab Samuel.


Laki-laki wajah tampan tersebut berjalan menuju lemari cukup tinggi dan membukanya lebar-lebar. Dia mengambil dua senjata di dalam lemari. Yakni belati yang sangat tajam, juga senjata api yang beberapa hari lalu mereka gunakan untuk menyelesaikan misi.


"El, nggak gini caranya!" peringatan Azka.


"Gue harus bunuh dia Ka, sebelum dia bunuh banyak orang!"


"El, tenang dulu. Gue tau kita sering nyakitin bahkan hampir bunuh orang sama benda itu, tapi dalam penyamaran bukan terang-terangan kayak gini," peringatan Keenan.


"Menyelesaikan masalah dalam emosi nggak bakal ada ujungnya. Itu yang lo katakan pas Azka emosi, tapi sekarang apa?" Keenan merebut dua benda berbahaya itu dari tangan Samuel.


Tanpa mendengarkan ceramah teman-temannya, Samuel berbalik dan mengambil belati lebih kecil namun mematikan, kemudian meninggalkan ruangan pribadi tersebut.


"Samuel!" teriak Azka dan Keenan, namun Samuel tidak mendengarkan sama sekali.


"Gila tuh orang," guman Rayhan tidak percaya.

__ADS_1


Samuel dan Azka memang bodoh jika sudah emosi.


__ADS_2