Lost Love

Lost Love
Part 173 ~ Tidak sadarkan diri


__ADS_3

Samuel, pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi setelah sampai di kamar mandi. Dia sungguh menyesal karena tidak bisa mengontrol dirinya ketika melihat Ara berpelukan dengan Edgar.


"Aaaakkkkhhhhhh, harusnya gue bisa sedikit bersabar. Dia bukan lagi Ara yang dulu. Ara yang selalu ada dipihak gue!" teriak Samuel sambil membilas wajahnya yang terasa memanas.


Setelah menenangkan diri beberapa saat dan jadwal keberangkatan akan tiba sebentar lagi, pria itu akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan mobilnya yang melaju di atas kecepatan rata-rata.


Tujuannya bukan mansion apalagi apartemen, melainkan rumah orang tua Ara untuk meminta maaf dengan baik.


Samuel turun dari mobilnya setelah sampai, mengetuk pintu perlahan sehingga wanita paruh baya membuka pintu. Sama seperti sebelumnya, senyuman hangat Kirana selalu Samuel dapatkan jika berkunjung kerumah mereka.


"Samuel?" Kirana sedikit terkejut melihat mantan tuangan putrinya bertamu jam 10 pagi.


"Apa om Deon ada dirumah, tante?"


"Kebetulan dia baru saja akan pergi Nak, ayo masuk dulu!" Menarik tangan Samuel agar masuk kerumah. Kirana telah melupakan kesalahan Samuel 14 tahun lalu.


Itu sudah berlalu dan hanya masalah anak remaja yang masih saja labil dalam menanggapi sebuah hubungan. Itulah pikiran Kirana, berbeda dengan Ara dan Deon yang entap apa pendapat mereka.


Langkah Samuel berhenti tepat di hadapan Deon yang baru saja turun dari tangga sambil melipat lengan kemeja hingga siku.


"Samuel?" Sama dengan Kirana, Deon terkejut akan kedatangan Samuel. Pria paruh baya itu tersenyum, karena berpikir Samuel mempunyai keberanian di atas rata-rata sampai berani bertamu dirumahnya tanpa kehadiran Ara.


Apa Samuel tidak takut keluar dengan wajah penuh darah?


"Apa om punya waktu untuk bicara?"


"Bicaralah!"

__ADS_1


Samuel memejamkan matanya sambil mengepalkan tangan, detik berikutnya pria itu berlutut tepat di hadapan Kirana dan Deon tanpa diduga.


"Samuel, apa yang kamu lakukan Nak?" Kirana hendak membantu Samuel berdiri, tapi Deon segera mencegahnya.


"Biarkan saja! Bicaralah, saya tidak punya banyak waktu!"


"Maaf om, tante. Maafkan semua kesalahan saya 14 tahun yang lalu. Tidak seharusnya saya menyiksa fisik dan batin Ara hanya karena tidak menerima perjodohan itu. Mungkin permintaan maaf saja tidak cukup untuk menghapus luka di hati kalian, tapi saya berharap ada kesempatan kedua untuk semuanya."


Menunduk? Tidak, Samuel bicara sambil menatap manik Deon yang setajam silet. Tidak ada rasa takut dalam tatapan Samuel, hanya ada penyesalan.


"Harusnya sejak awal saya menyadari perasaanya saya pada Ara. Harusnya sejak awal saya menyelidiki kenapa Ara bisa bertingkah seperti anak-anak. Tapi saya memang bodoh karena telambat mengetahui bahwa Ara mempunyai cidera otak karena kecelakaan."


"Om, tante. Tolong beri saya restu untuk memiliki Ara lagi! Saya akan berusaha untuk membuatnya bahagia dan selalu tersenyum. Tidak meneteskan air mata kesedihan."


"Bunda selalu memberimu kesempatan Samuel, tapi bunda tidak bisa mengendalikan perasaan Ara, Nak. Seharusnya kamu tidak datang ke sini, melainkan menemui Ara untuk meluluhkan hatinya kembali," ucap Kirana penuh kelembutan.


"Sakit?"


Samuel mengelengkan kepalanya dan kembali pada posisi semula, tepat saat itu pukulan kembali melayang dengan posisi berlawan arah dari pukulan tadi.


"Ayah, cukup!" cegah Kirana menutup mulutnya melihat darah keluar dari hidung dan mulut Samuel.


Deon jika memukul seseorang tidak pernah main-main.


"Sakit?"


"Tidak!" sahut Samuel meski kepalanya telah merasakan pusing. Belum lagi penglihat yang mulai buram.

__ADS_1


Brugh


Tubuh Samuel terjatuh ke lantai marmer setelah Deon mendaratkan tendangan tepat di dada pria itu.


"Aku harus pergi ke kantor, bawa dia kerumah sakit!" ucap Deon tanpa rasa bersalah dan meninggalkan rumah.


Berbeda dengan Kirana yang kini duduk bersimpuh berusaha membangun Samuel yang sudah tidak sadarkan diri. Pukulan Deon tidak main-main.


"Oma?"


Kirana menoleh ke sumber suara.


"Asa masuk ke kamar dulu ya Nak, oma harus pergi."


Meski merasa bingung dan tidak mengerti, Asa lantas menganggukkan kepalanya dan berlari menuju kamar, tidak lupa gadis kecil itu menghubungi bundanya.


Kebetulan Asa mempunyai ponsel sendiri di mana hanya ada tiga kontak di dalamnya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Gadis kecil itu bisa mengenali kontak masing-masing sebab Ara, Kirana dan Deon sengaja memasang foto mereka.


"Bunda?"


"Iya Sayang?" sahut Ara di seberang telpon.


"Asa liat orang tiduran, terus wajahnya merah-merah kayak sirup."


...****************...


Jangan lupa mampir ya di novel Mama online otor

__ADS_1



__ADS_2