
Ara, gadis itu sesekali diam-diam memperhatikan Samuel yang tampak telaten memenami Asa makan tanpa ada emosi yang menyertai. Entah hanya di depannya, atau memang sudah berubah pada anak kecil.
Ketika Samuel hendak menatapnya, Ara buru-buru melempar atensinya ke arah lain, dan malah tidak sengaja bertabrakan dengan manik indah milik Mami Fany yang berdiri di ambang pintu bersama Daren.
Ara senyum kikuk, tidak pernah bertemu selama 14 tahun, membuatnya sedikit gugup jika harus bertemu Fany. Terlebih dulu dia pergi tanpa berpamitan, padahal mami Fany sangat menyanginya, bahkan sering kali membela dia dibandingkan Samuel.
"Akhirnya mami bisa liat putri cantiknya lagi!" seru Fany berlari untuk memeluk tubuh mungil Ara yang tidak berubah sama sekali. Hanya sikap dan sifat gadis itu yang berubah tidak untuk yang lainnya.
Satu lagi, semakin cantik dan terlihat anggun meski hanya menggunakan setelan sederhana.
Ara membalas pelukan Mami Fany tidak kalah erat, itu semua tidak luput dari perhatian Samuel, Asa dan Daren.
"Ara juga kangen sama Mami, maaf dulu pergi tanpa mengabari lebih dulu. Mami marah sama Ara?" Menatap Fany dengan wajah cemberut.
Fany lantas mengelengkan kepalanya, mengusap pipi Ara gemas. "Nggak sama sekali, kan yang salah anak mami. Suka malah kamu pergi, jadinya El bisa tahu salahnya di mana, bukan malah merasa selalu benar dengan tindakannya yang sering menyakiti kamu, entah fisik ataupun batin."
__ADS_1
Keduanya kembali berpelukan untuk melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam di hati masing-masing. Niat Ara untuk pulang kerumah harus tertunda karena terus-terusan dicegat oleh Fany, juga Asa yang terlanjur nyaman berada di mansion.
Kini kelima manusia berbeda generasi tersebut berada di ruang keluarga, saling bertukar kabar satu sama lain, hingga tidak sengaja Daren membahas tentang perjodohan.
"Pernikahan kamu akan dilangsung satu bulan lagi, Samuel. Papi nggak mau nerima alasan apapun lagi, terlebih dia sangat cocok untukmu," ucap Daren, berjasil mengambil perhatian Samuel dan Ara yang sejak tadi duduk bersampingan dengan Asa berada di pangkuan Samuel.
"Papi beri aku waktu tiga hari kan? Sekarang aku membawa calon istriku sendiri, jadi perjodohan nggak akan ...."
"Perjodohan akan tetap berlanjut ada atau nggaknya persetujuan kamu!" Potong Daren cepat.
"Papi!" tegur Fany.
"Apapun yang terjadi aku ...." Kalimat Samuel terhenti, rahangnya mengeras. Tangan pria itu tiba-tiba digenggam oleh Ara agar bisa tenang dan tidak membentak Daren yang akan membuat Asa takut.
Gadis kecil itu sangat takut dengan suara keras.
__ADS_1
"Asa mau pulang? Bunda masih ada pekerjaan." Melirik Asa yang masih berada di pangkuan Samuel.
Asa langsung menganggukkan kepalanya, terlebih saat merasakan tubuh Samuel bergetar hebat. Mendapat persetujuan, akhirnya Ara berpamitan pada Daren dan Fany, tapi tidak dengan Samuel yang masih bergeming di tempatnya seperti patung.
Ara dan Asa terus melangkah menjauhi ruang keluarga, berjalan menuju pintu utama untuk pulang. Sebenarnya Ara berusaha terlihat baik-baik saja, meski hatinya terasa sakit tahu Samuel akan menikah dengan orang lain.
Langkah dokter bedah tersebut berhenti ketika seseorang memeluknya dari belakang cukup erat. Tangan kekar melingkar di pinggang ramping Ara tanpa bisa dicegah.
"Gu ... Ak-aku cuma mau nikah sama ka-kamu Ra, nggak buat orang lain," lirih Samuel.
Ara menarik nafas sangat panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Berbalik dan perlahan-lahan melepaskan pelukan Samuel, terlebih ada Asa yang menyaksikan.
"Garis takdir kita sudah berakhir 14 tahun yang lalu, El. Jangan berusaha melawan takdir, apalagi membatalkan pernikahan demi mewujudkan kemauan sendiri. Kisamu sekarang sama dengan kisah kita di masa lalu, bedanya sekarang aku berada di posisi seperti Sasa."
Tangan Ara bergerak untuk menyentuh rahang tegas Samuel yang mengeras. "Jangan siksa calon istrimu, seperti kau menyiksaku hanya untuk membatalkan pernikahan!"
__ADS_1