Lost Love

Lost Love
Part 20 - Hanya boneka?


__ADS_3

Ara terus saja berlari di koridor sekolah setelah berdiam diri beberapa menit karena ketakutan pada sikap Samuel yang terlalu kasar. Gadis imut itu tengah mencari seseorang selain Samuel.


Senyuman Ara mengembang ketika melihat laki-laki tampan tengah dikerumuni para kaum hawa.


"Kak Keen!" panggil Ara, dia mengatur nafasnya setelah sampai di hadapan Keenan.


"Gue bakal jelasin nanti, pergilah!" usir Keenan pada beberapa adik kelasnya yang meminta di ajarkan sesuatu. Entah modus atau tidak Keenan tidak peduli.


Wakil ketua Avegas itu beralih pada Ara. "Kenapa?"


"Ara mau ngomong sesuatu sama kak Keen, boleh?" tanya Ara.


"Boleh banget, ke pinggir lapangan yuk!" ajak Keen ramah.


Ara menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Keenan ke pinggir lapangan. Dia duduk di bawah pohon mangga seperti yang di lakukan Keenan.


"Mau nanya apa? El? Dia lagi ada di ruang osis," ucap Keenan.


Ara mengelengkan kepalanya. "Ara nggak nyari Abang, Ara cuma mau nanya ...." Ara menjeda kalimatnya karena tidak yakin, meski begitu dia ingin berusaha.


"Kak Keenan tau Sasa? Kakak bisa anter Ara ketemu Sasa nggak?"


Kali ini Keenan yang terdian, untuk permintaan Ara yang satu itu tentu saja sangat sulit. Ini urusan pribadi Samuel.


"Mending lo ngajak sendiri aja. Lo tau akun Ig Samuel kan?" Ara mengangguk. "Dia cuma ngikutin inti Avegas dan Sasa doang, lo Dm aja!" saran Keenan.

__ADS_1


"Ah iya, kok Ara ngga kepikiran ya? Makasih ya kak Keen. Kakak baik banget sama Ara." Gadis imut itu mengembangkan senyumnya sangat lebar hingga semakin terlihat mengemaskan.


"Cantik banget Ra senyum lo, Sayang banget perjuangin orang kayak El," ucap Keenan dan berlari ke tengah lapangan ketika Azka memangil untuk bermain basket.


Sementara Ara berjalan santai menuju kelasnya setelah mendapatkan apa yang dia ingingkan.


"Tadi sedih, sekarang senyum-senyum. Memangnya nggak betah sedih lama-lama ya?" celetuk Edgar menyamai langkahnya dengan Ara.


"Soalnya senyum Ara cantik, jadi nggak mau sedih," cengir Ara dan dibalas tawa oleh Edgar.


Keduanya memutari lapangan untuk menuju tangga yang akan membawa mereka ke lantai dua. Tentu saja Ara dan Edgar akan melewati lapangan basket, diamana inti Avegas tengah bermain.


Syhut ...


Bugh


Laki-laki itu meringis ketika punggungnya terhantam bola basket.


"Lo nggak papa?" tanya Edgar masih dengan ringisannya.


"Ar-ara nggak Papa, makasih Edgar udah nolongin Ara," jawab Ara sedikit gugup karena wajah mereka terlalu dekat, bahkan Edgar hampir saja mencium pipinya.


***


Samuel yang baru saja keluar dari ruang osis langsung di suguhkan pemandangan merusak mata, dimana Edgar tengah memeluk Ara bahkan hampir menciumnya.

__ADS_1


Laki-laki wajah dingin tersebut langsung saja menghampiri gadis imut itu dan menarik tangannya kasar tanpa perduli tatapan siswa lain.


"Edgar baik-baik aja? Ayo kita ke ...." Kalimat Ara tepotong karena tarikan kasar Samuel.


Laki-laki wajah dingin itu sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya meski Ara meronta minta dilepaskan.


"Lepasin Ara bang, Edgar sakit!" pinta Ara namun Samuel seakan tuli.


Samuel membawa Ara sampai di parkiran sekolah lalu menghempaskan tubuh mungil tersebut ke dalam mobil. Kebetulan hari ini Samuel membawa mobil.


"Sakit," lirih Ara menatap pergelangan tanganya.


Samuel menyandarkan kepalanya pada jok mobil seraya memejamkan mata, berbeda dengan Ara yang terus menatap wajah dingin Samuel yang sayangnya sangat tampan.


"Kenapa Abang narik Ara pergi? Abang mau anter Ara pulang?" tanya Ara yang memang tidak bisa lama-lama terdiam.


Samuel tidak menjawab sama sekali.


"Abang mau ...."


"Tutup mulut lo Ara? Nggak bisa sekali aja lo diam hah? Dasar murahan!" maki Samuel tanpa hati.


Tidak tahuka Ara bahwa Samuel sedang memahan amarah yang sangat besar, bahkan hampir meledak.


Melihat tunangannya dipeluk oleh orang lain tentu saja membuat Samuel sangat murka. Ara adalah bonekanya dan tidak ada yang boleh menyentuh dia selain dirinya.

__ADS_1


__ADS_2