
Samuel setia mengenggam tangan Ara keluar dari gerbang sekolah, laki-laki itu sudah memesan taksi untuk kekasihnya pulang kerumah. Bukan untuk meninggalkan, hanya saja cuaca sedang mendung, Samuel takut hujan turun mengenai tubuh Ara.
"Abang nggak marah sama Ara?" tanya Ara mencegah Samuel untuk menutup pintu.
Samuel mengeleng. "Nggak, sekarang lepasin tangan gue! Taksinya mau jalan," perintah Samuel dan dijawab anggukan oleh Ara.
Setelah taksi mulai melaju, barulah Samuel berlari ke parkiran untuk mengambil motornya dan mengikuti Ara dari belakang.
Sudah beberapa hari ini Samuel tidak ingin bergabung bersama inti Avegas lainnya sebab tidak kuasa menahan rasa sesak ketika mengingat bahwa Azka tidak lagi bersama mereka.
Dia juga lebih memfokuskan menghadapi ujian yang akan berlangsung hari senin.
"Melakukan sesuatu yang nggak bisa dilupakan oleh siapapun di hari kelulusan," guman Samuel tersenyum getir. Ucapan Azka kembali melintas di kepalanya. "Ternyata sesuatu itu lo buat sebelum kelulusan Ka," lirih Samuel. Matanya memerah dibalik helm yang dia kenakan.
Untung saja ada Ara yang selalu menemani dirinya hingga dia sedikit lupa akan kehilangan.
Samuel menghentikan motornya di depan pagar rumah Ara, memperhatikan gadis imut itu disambut oleh Kirana.
"Sampai dengan selamat," gumam Samuel dan segera meninggalkan lingkungan rumah Ara.
Laki-laki dingin itu sangat sibuk menyelidiki dan mencari bukti tentang penembakan yang Leo lakukan. Setidaknya Samuel harus memenjarakan Leo agar hatinya jauh lebih tenang.
Dengan memenjarakan Leo, maka dendan Azka dan Salsa selesai. Karena yang telah membunuh Azka dan ayah Salsa tidak lain Leo sendiri.
***
"Tumben nggak pulang sama Abang," celetuk Kirana merangkul pundak Ara memasuki rumah. Wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa putrinya sangat menderita karena seseorang.
"Abang nggak mau Ara kena hujan. Abang cinta sama Ara, makanya takut Ara sakit," sahut Ara penuh senyuman.
__ADS_1
Gadis imut itu melepas tasnya dan memberikan pada sang bunda, sementara dia duduk di kursi bersiap untuk makan.
"Ara lapar Bunda!"
"Iya tunggu, Sayang," sahut Kirana mengulum senyum. Wanita itu menyiapkan makanan untuk putri kesayangannya.
"Makan yang banyak biar pipi cubi kamu balik lagi."
"Iya Bunda," guman Ara menyantap masakan bundanya dengan lahap.
Setelah makan Ara langsung saja ke kamarnya. Membaringkan diri di atas ranjang dengan ponsel di tanganya, dia langsung mendial kontak milik Samuel.
"Abang udah sampai rumah?" tanya Ara setelah sambungan telpon terhubung.
"Ini lagi dirumah. Jangan gores-gores tangan lagi. Kalau ada masalah langsung telpon gue!"
"Iya Abang, Ara ngerti ko. Abangkan udah ngomong ini di sekolah banyak kali."
Ara langsung saja merubah panggilan suara ke Video call. Dia tersenyum sangat lebar melihat wajah bantal Samuel di seberang telpon.
"Abang ganteng banget kalau lagi manyun gitu. Apa Ara buat Abang marah terus aja biar ganteng?"
"Ra!"
"Ara bencanda Abang." Dia menutup mulutnya karena tertawa.
"Cantik," gumam Samuel.
"Ara cantik?"
__ADS_1
"Hm, Ara cantiknya El," lirih Samuel berhasil menimbulkan rona merah di pipi Ara.
"Wajah Abang mana? Kok gelap?" tanya Ara ketika tidak ada lagi gambar di seberang telpon dan hanya kegaduhan yang terdengar.
***
"Aaakkkkhhhh ... Lo udah gila El!" pekik Samuel menyembunyiman wajahnya di balik bantal. Wajahnya memanas setelah mengatakan hal yang sangat alay pada Ara.
"Mamiiiiiii El udah gila!" teriak Samuel.
"Samuel?"
Glek, Samuel menelan salivanya kasar mendengar suara maminya, sial dia lupa kalau Fany dan Daren sudah pulang kerumah.
"Hey, kamu kenapa pakai nimpuk kepala sendiri Nak? Mau bunuh diri?" tanya Fany menghampiri putranya, menarik bantal agar kepala Samuel terlihat.
"Kenapa sih?" heran Fany.
"Nggak ada." Samuel langsung mode cool.
"Hayoloh kenapa telinga anak mami merah gitu? Habis ngapain?"
"Mami apaansih, El nggak ngapa-ngapain kok."
"Jatuh cinta ya?" Fany semakin menggoda putranya.
"Au-ah Mami nyebelin!" kesal Samuel kembali menyembunyikan kepalanya dibalik selimut.
...****************...
__ADS_1
Samuel mode bayi😶