Lost Love

Lost Love
Part 131 ~ Orang tua harmonis


__ADS_3

Sepanjang jalan, Samuel tidak bisa konsen mengemudikan mobilnya karena terus memikirkan perkataan Om Deon tentang rencana yang pria paruh baya itu susun.


Samuel mencengkram setir kemudi dengan rahang mengeras. "Nggak bakal gue biarin siapapun misahin gue sama Ara baik orang tuanya sekalipun," gumamnya dengan gigi saling bergemulutuk.


Laki-laki dingin itu memutar setir kemudia memasuki halaman rumah sederhana yang kerap kali disebut markas oleh anggota Avegas.


Dia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya dengan wajah datar untuk menemui para sahabatnya yang lebih dulu ada di markas.


Mendudukkan diri tepat di samping Azka.


"Benar om Deon ngajuin kerjasama?" tanya Samuel tanpa menatap ketuanya.


"Hm, tapi gue belum balas. Lagian untuk sementara kita nggak ambil misi apapun," sahut Azka sibuk memainkan sebatang rokok tanpa mengisapnya.


Sebenarnya laki-laki wajah datar itu ingin mencicipi, sayangnya Azka tidak ingin mengingkari janji pada sang istri.


"Isap aja kali, nggak ada Salsa juga," celetuk Ricky mengisap benda bernikotin yang telah dibakar.


"Gue mau tidur nyenyak," jawab Azka meletakkan rokok tersebut dan langsung di ambil oleh Samuel.


Laki-laki dingin itu langsung membakar dan menghisapnya secara perlahan hingga menimbulkan rasa tenang seperti biasanya.


"Balas Emailnya Ka!"


"Tantu." Azka meraih ponsel milik Avegas lalu membalas email yang telah dikirimkan Deon padanya.


Setelah membalas, Azka meletakkan kembali di atas meja.


"Mukanya nggak usah kusut gitu njir, tenang aja. Gue sama Iky bakal mantau penyelidikan Om Deon. Yang harus kita selidiki sekarang tuh kematian ayah Salsa biat Leo masuk penjara!"

__ADS_1


"Gue yang bakal urus, lagian satu minggu ini gue kena Skorsing."


"Demi apa?" kaget Dito.


"Demi bapak lo!" celetuk Keenan.


"Ck, lo sih kalau marah suka khilaf, mana om Daren nggak minta pihak sekolah buat ringanin lagi," omel Rayhan.


Tapi Samuel tampak acuh, masih menyesap benda bernikotin yang hampir habis itu.


***


Setelah berbincang cukup lama dengan sahabat-sahabatnya untuk membahas Leo dan Sagara. Samuel memutuskan untuk pulang kerumah, terlebih hari mulai gelap.


Mungkin sekarang Papinya sedang menunggu untuk memberi pelajaran karena telah berbuat ulah di sekolah. Memang di luar sana Daren selalu membela Samuel, tapi tidak jika sudah sampai di rumah.


Samuel melepar senyumnya ketika membuka pintu dan disambut hangat oleh wanita yang dia cintai.


"Udah makan Nak?" tanya Fany.


"Belum Mam."


"Pas banget, Mami udah masak mekanan kesukaan kamu. Ayo Sayang!" Fany menarik tangan putranya menuju ruang makan.


Wanita paruh baya itu belum tahu bahwa putranya membuat masalah di sekolah, sebab Daren tidak memberitahukan apapun.


"Gimana enak nggak?" tanya Fany ikut duduk dihadapan putranya.


"Banget."

__ADS_1


"Tadi mami masak dibantu sama Ara."


"Ara?"


"Iya, tadi Ara datang kesini nyariin kamu, katanya ponsel kamu nggak aktif. Ara baru aja pergi sama bundanya," jelas Fany dengan senyuman menghiasi wajahnya.


"Ponsel El mati karena jatuh Mam," sahut Samuel terus melahap makan malam yang telah di sajikan oleh dua perempuan yang dia cintai.


Usai menghabiskan hidangan di atas meja, Samuel pamit ke kemar untuk mengganti celana sekolah yang sudah kusut.


Membaringkan tubuhnya di atas ranjang seraya memejamkan mata.


"Kok Mami nggak marah ya sama gue?" gumam Samuel merasa aneh sendiri. "Apa Papi ...."


Samuel melirik notifikasi di ponselnya yang ternyata dari papinya. Dia membaca sederet kalimat di sana.


Suami Mami: Papi nggak beritahu apapun sama mami, jadi jangan bicarakan kejadian disekolah padanya. Kali ini kamu lolos karena melindugi Ara tapi nggak di lain kesempatan Nak.


"Sayang banget perasaan sama istrinya," guman Samuel menyungingkan senyumnya.


Ada rasa syukur dihati Samuel di tengah masalah yang dia hadapi, yaitu mempunyai orang tua yang sangat harmonis. Orang tua yang selalu bisa mengerti tentang dirinya meski tidak secara langsung.


Seperti hari ini, Papinya tidak memberi tahu Fany karena tidak ingin wanita paruh baya itu bersedih juga tidak ingin dirinya mendapatkan omelan.


"Seengaknya gue beruntung punya mereka,"


...****************...


Jangan lupa like dan ramaikan kolom komentar. Tebat kembang dan kopi sebanyak-banyaknya😍

__ADS_1


__ADS_2