
Sudah satu jam lamanya tapi Ara masih menangis dalam pelukan bundanya tanpa ingin menceritakan apapun. Lidah gadis imut itu terasa keluh hanya untuk menceritakan ketakutanya pada Kirana dan Deon, membuat kedua manusia paruh baya itu semakin khawatir dengan kodisi putrinya.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi hm? Apa yang kamu lihat?" tanya Kirana penuh kelembutan.
Ara hanya mengeleng sebagai jawaban, membuat perasaan Deon semakin kalut.
"Rana, ada apa dengan putri kita?"
"Aku juga nggak tau Yah. Tadi cuma pamit mau nemuin ayah dan nggak lama terdengar teriakan," jelas Kirana.
Deon menghela nafas panjang, pria itu duduk si sisi ranjang dan ikut mengelus punggung Ara yang masih bergetar hebat.
"Mau ayah panggilin Abang?" tawar Deon, hanya cara itu yang terlintas di otak Deon untuk saat ini.
Ara mengangguk dalam dekapan Kirana. Deon langsung saja beranjak dan menelpon Samuel. Sepertinya laki-laki dingin itu juga sudah selesai dengan ujiannya karena masuk sesi 2.
"El, apa ujian kamu sudah selesai Nak?" tanya Deon.
"Iya om, kenapa?" tanya balik Samuel di seberang telpon.
"Datanglah kerumah setelah pulang nanti, Ara sejak tadi menangis dan hanya mau kamu."
"Saya kesana sekarang om," ucap Samuel. Detik berikutnya sambungan telpon telah terputus.
***
__ADS_1
"El, mau kemana lo?" teriak Rayhan.
"Rumah Ara," sahut Samuel dan melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata agar bisa sampai dengan cepat kerumah kekasihnya.
Dia memarkirkan motor dengan aman setelah sampai di rumah Ara. Mengucapkan salam sebelum masuk dan disambut oleh Deon di anak tangga.
"Langsung naik aja!" perintah Deon.
Samuel mengangguk patuh dan melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju kamar Ara. Langkahnya berhenti melihat Kirana berada di ranjang mendekap gadis imut kesayangannya.
"Ara kenapa tante?" tanya Samuel.
"Nah tuh Abang udah datang Ra. Kalau gitu Ara ngomong sama Abang ya?" bujuk Kirana dan dijawab anggukan oleh Ara.
"Ara tiba-tiba ketakutan dan nggak mau ngomong Nak. Bujuk dia ya biar cerita kenapa bisa ketakutan dan teriak-teriak," ucap Kirana menepuk pundak Samuel.
"Iya tante."
Melihat Kirana menutup pintu kamar, Samuel langsung saja mendekati Ara setelah meletakkan tasnya di meja. Laki-laki dingin itu duduk di sisi ranjang dan mengelus pipi Ara penuh kasih sayang.
"Kenapa, hm?" tanya Samuel. "Mau peluk, sini!" Samuel merentangkan tangannya.
Ara sontak bangun dan memeluk Samuel sangat erat. Tangis gadis itu kembali pecah saat merasakan elusan di pundaknya.
"Ara takut Abang. Tadi kak Saga datang keruman dan senyum sama Ara. Ara takut hiks ...."
__ADS_1
"Sagara kerumah?" Elusan Samuel terhenti karena terkejut. Ara mengangguk dalam dekapannya.
"Kok bisa lolos?"
"Ay-ayah bicara sama kak Saga, terus pas keluar dari ruangan ayah, kak Saga senyum seram sama Ara," ceritanya sedikit terbata.
"Sssttttt jangan takut hanya karena dia datang Ra. Gue di sini bakal lindungin lo dari dia. Samuel nggak mungkin buat Aranya terluka," bisik Samuel di telinga Ara.
Laki-laki dingin itu terus membisikkan kalimat-kalimat penenang untuk kekasihnya seraya menepuk-nepuk punggung mungil Ara.
Lama kelamaan, dengkuran halus mulai terdengar di telinga Samuel pertanda dia barhasil menenangkan kekasihnya.
Dituntunya gadis imut itu tidur dengan nyaman, tidak lupa menutupi Ara dengan selimut tebal.
Perlu kalian tahu perasaan Samuel sedikit resah mendengar Sagara telah kembali dan berani menampakkan diri di hadapan Ara bahkan Deon. Apalagi selama ini Deon tidak tahu wajah Sagara yang sebenarnya, sebab dokumen yang Deon dapatkan adalah indentitas palsu pria itu.
Samuel menatap Ara sangat dalam, mengelus lengan yang terdapat banyak luka entah yang sudah kering atau baru di sayat.
"Semua penderitaan lo berawal setelah lo kenal gue Ra. Entah penderitaan dari musuh gue atau gue sendiri. Maaf, udah nempatin lo dalam posisi seperti ini."
Samuel mendongak untuk menghalau air matanya yang hampir tumpah ketika mengingat potongan-potongan kenangan dimana dia menyiksa Ara tanpa perasaan.
"Bahkan luka fisik di tubuh lo guelah penyebabnya Ra. Gue mau lo tetep di sisi gue, tapi lo selalu terluka."
"Lo masih mampu bertahan bentar lagi kan? Setelah masalah Avegas dan masalah gue sendiri selesai, gue janji bakal fokus sama lo aja," lirih Samuel mengecup punggung tangan gadisnya.
__ADS_1