
Perlahan-lahan Samuel membuka matanya dan mendapati Ara tengah tertidur tepat di sampingnya, bahkan dia tidur satu bantal berdua.
Seulas senyum terbit di bibir Samuel, rasa kehilangan yang dia rasakan sedikit terobati dengan keberadaan Ara di sisinya.
"Makasih Ra udah mau nemenin gue," gumam Samuel.
Laki-laki dingin itu melirik jam, dan terkejut mendapati telah jam 3 sore. Sialan, bahkan dia belum sholat zuhur dan hari hampir sore.
Buru-buru Samuel turun dari ranjang dan pindah ke kamar tamu untuk menunaikan sholat zuhur. Setelah usai dia kembali ke kamar dan mendapati Ara telah bangun.
Gadis itu mengucek-ucek matanya seperti balita saja.
"Abang, Ara lapar," ucapnya mendongak.
"Yah nggak ada makanan di mansion Ra, lo mau makan apa?"
"Terserah Abang, Ara makan apa aja kok."
Samuel mengangguk dan segera menuju dapur. Dingin-dingin seperti ini dia pintar memasak karena sering membantu maminya jika sedang dirumah. Berbeda dengan Azka yang memotong wolter saja harus memakai pangaris.
"Abang bisa masak?" tanya Ara memeluk pinggang Samuel dari belakang. Menyembulkan kepalanya di ketiak laki-laki itu.
"Hm."
"Sejak kapan?"
"Dulu."
"Ara senang Abang bisa masak. Jadi kalau udah nikah, Ara bisa belajar masaknya sama Abang aja." Girang Ara masih dalam posisi yang sama.
Melerai? Samuel tidak melakukan hal itu meski kesusahan bergerak ke sana kemari. Sudah dia katakan, dia akan bersikap baik dan berusaha mengerti tingkah Ara agar tidak ditinggalkan suatu hari nanti.
__ADS_1
"Wangi banget."
"Gue?"
"Bukan, tapi masakannya Abang," jawab Ara dengan gelengan kepala.
Samuel menghembuskan nafas kasar, meraih tangan lentik Ara agar terlepas dari pinggangnya. Apa salah jika Samuel berharap dipuji oleh tunangannya sendiri?
"Kenapa Bang?"
"Nggak ada, ayo makan!" ajak Samuel setelah selesai membuat nasi goreng dua piring. Dia juga belum makan sejak pagi.
Samuel hanya membuat nasi goreng karena itu adalah masakan paling simpel dan cepat jadi, hingga Ara tidak perlu menunggu lama.
"Susu?" tawar Samuel.
"Ara mau susu."
"Duduk dulu!" perintah Samuel.
"Perasaan Abang udah tenang? Hatinya udah utuh lagi?" tanya Ara beruntun dan hanya dijawab deheman oleh Samuel.
Sejak dulu laki-laki itu tidak terlalu suka jika bicara sambil makan. Bahkan pernah mengebrak meja hanya karena kesal diajak bicara terus- menerus.
Samuel melirik ponsel Ara yang berdering, menunggu pemiliknya untuk menjawab telpon.
"Ayah?"
"Kamu dimana Sayang? Ini sudah sore, semua teman sekolah kamu sudah pulang tapi kamu belum keluar juga."
"Ara di mansion abang Ayah, Ara nggak ke sekolah karena nemenin Abang yang lagi sedih," jujur Ara.
__ADS_1
"Ayah tunggu sekarang!"
"Iya."
Ara meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian kembali menyantap nasi gorengnya seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal jelas-jelas suara Deon sangat dingin, bahkan Samuel bisa merasakannya.
"Ayah lo?"
"Iya, tapi Ara mau makan dulu baru pulang. Nanti Ara main lagi ya sama Abang, jadi jangan sedih," jawab Ara.
Samuel hanya mengangguk sebagai respon. Laki-laki itu meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan nasi gorengnya.
Bersiap-siap untuk mengantar Ara pulang kerumah. Memang Deon tidak akan memarahi Ara, tapi pria itu bisa saja menjauhkan dirinya karena menyebabkan Ara tidak masuk sekolah.
"Udah?" tanya Samuel kembali ke meja makan.
"Nasi Abang belum habis, nanti nasinya nangis."
"Ck, gue anter lo pulang dulu!"
Ara mengelengkan kepalanya. "Abang jangan anter Ara pulang. Pesan taksi aja biar nanti kalau ayah ...."
"Ra, jangan buat gue jadi pengecut!"
Samuel menarik tangan Ara hingga sampai di garasi mobil. Memencet remot untuk memastikan kunci mobil mana yang dia ambil tadi dari laci.
"Naik!"
"Abang tenang aja, Ayah nggak bakal marah sama ...."
"Naik Ara! Gue nggak tau om Deon ngomong apa aja sama lo, tapi plis dengerin gue okey? Jangan memperburuk keadaan yang memang lagi rumit," ucap Samuel lembut tapi penuh tekanan.
__ADS_1
...****************...
Yey akhirnya bisa up malam lagi😍