
Samuel memperhatikan adik kelas yang kebetulan melintas di depan kelasnya. Dia sangat mengenali sepasang adik kelas tersebut.
Jiwa penasaran dalam dirinya membuat Samuel meletakkan gitar yang tengah dia pangku lalu keluar dari kelas.
"Berarti Ara kalau ninggalin Abang, ada yang suka?"
Samar-samar Samuel masih mendengar pembicaraan dua manusia tersebut. Tidak suka melihat interaksinya. Dia langsung saja menarik tangan Ara agar terlepas dari genggaman Edgar.
"Abang?" kaget Ara menatap Samuel dengan mulut terbuka lebar, sementara Edgar berdiri kikuk di tempatnya. Berusaha tidak goyah meskipun ditatapan sedemikian rupa oleh Samuel.
Tanpa mengatakan apapun, Samuel melepaskan genggaman Ara dan pergi dari sana. Dia meruntuki dirinya yang terasa aneh akhir-akhir ini. Bahkan sering kali mencari-cari masalah agar dia bertengkar dengan Sasa.
Mungkinkah? Semoga tidak.
"Abang, tunggu Ara!" teriak Ara mengejar Samuel setelah perpamitan pada Edgar.
Bagaimanapun, Samuel adalah hal utama bagi Ara sampai kapanpun itu. Ara menyamai langkahnya dengan Samuel.
"Abang kenapa narik tangan Ara tadi? Abang mau ngajak Ara ke kantin?" tanyanya.
"Salah orang!"
"Oh kirain Abang nyari Ara." Ara menghentikan langkahnya tepat di depan perpustakaan.
__ADS_1
"Ara nggak mau ke kantin, Ara mau belajar aja sama Edgar. Dadah Abang." Gadis imut itu melambaikan tangannya dan masuk ke perpustakaan, tanpa menyadari Samuel ternyata ikut di belakangnya.
Gadis imut tersebut melompat-lompat demi mengambil buku di rak paling atas tapi tetap saja usahanya sia-sia. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan melihat Samuel duduk tidak jauh darinya.
"Abang, tolongin Ara!" pekik Ara tanpa tahu tempat membuat beberapa orang menatapnya tajam. "Maafin Ara," lirihnya.
Samuel yang dipanggil, tampak acuh dan fokus pada buku di hadapannya. Laki-laki wajah dingin itu tidak ada niatan ingin membantu Ara. Dia ke perpustakaan hanya memastikan Ara tidak dekat-dekat dengan Edgar karena Samuel membencinya.
"Milo bantuin Ara!" pinta Ara ketika Edgar berjalan mendekat.
"Makanya tinggi dikit!" ejek Edgar.
"Nanti juga Ara tinggi kalau minum susu banyak-banyak," jawab Ara. "Ayo kita duduk sama Abang!" ajaknya menarik tangan Edgar dan itu semua tidak luput dari perhatian Samuel.
Ketika Ara dan Edgar hendak duduk di satu meja yang sama, Samuel langsung berdiri dari duduknya, hingga decitan kursi terdengar nyaring.
"Bukan urusan lo!"
***
Samuel berdiri tepat di hadapan Ara yang kini berada di dalam kamarnya. Ya gadis imut itu meminta agar pulang ke mansion saja karena ingin belajar dengan Samuel.
"Abang kenapa natap Ara kayak gitu?" tanyanya yang kini duduk di sofa seraya meminum susu hangat buatan Fany.
__ADS_1
"Status lo apa?"
"Tunangan Abang," jawab Ara.
"Terus ngapain lo dekat-dekat sama Edgar?" tanya Samuel ketus, masih berdiri di hadapan Ara.
"Abang juga dekat-dekat sama Sasa, kenapa Ara nggak boleh?"
"Ara! Gue bahas lo bukan tentang gue ataupun Sasa!" kesal Samuel dengan wajah datarnya.
"Karena Edgar baik sama Ara, dia mau nuturin semua kemauan Ara. Dia bantu Ara kalau lagi kesusahan. Kalau Abang bisa kayak Edgar, Ara bakal dekat-dekat Abang terus."
Ara berjalan menghampiri Samuel yang menatapnya tajam.
"Kata kak Alana, Ara harus ikuti kemuan Abang saat di sekolah. Ara nggak boleh dekat-dekat sama Abang biar Abang nggak marah-marah terus."
"Ck!" kesal Samuel melihat tingkah tunangannya yang bodoh itu. Dia segera masuk ke kamar mandi agar tidak semakin kesal melihat Ara.
Sementara Ara memanyungkan bibirnya tidak mengerti. "Abang kenapa aneh? Dan marah-marah sendiri? Apa aku tanya kak Alana aja?"
"Jangan dekat-dekat sama Alana atau lo gue banting!"
Ara langsung saja meletakkan ponselnya di atas meja ketika mendengar teriakan Samuel. Sungguh pendengaran laki-laki wajah dingin itu terlalu tajam.
__ADS_1
"Iya nggak, tapi Abang mau temenin Ara belajar kan?" tanya Ara.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi, membuat Ara memutuskan untuk menghabiskan susunya saja.