Lost Love

Lost Love
Part 90 ~ Selalu menjagamu


__ADS_3

Setelah sampai dirumah menggunakan taksi yang telah dipesan oleh Samuel. Ara langsung saja menghubungi laki-laki wajah dingin itu untuk memberi kabar lebih dulu.


Selain tidak ingin Samuel khawatir padanya, Ara justru mengkhawatir tunangannya karena sikap Samuel tiba-tiba berusah di tengah jalan.


"Apa Ara salah bicara lagi sama Abang? Harusnya Ara diam aja dan nggak ngomong apa-apa tadi," gumanya seraya mengotak-atik ponselnya setelah duduk di pinggir ranjang.


Senyuman Ara mengembang seketika saat panggilannya dijawab hanya dalam satu deringan.


"Abang udah sampai?" tanya Ara.


"Hm."


"Ara juga udah sampai dengan selamat. Maafin Ara ya Bang kalau salah bicara tadi."


"Nggak papa."


"Abang jangan lupa makan ya sebelum tidur."


"Hm."


Hampir satu jam bertelponan, jawaban yang sering Ara dengan hanya Hm, Nggak dan iya. Namun, gadis itu tidak mempermasalahkan sama sekali. Samuel ingin bicara lewat telpon saja dia sudah senang bukan kepalang.


Setelah sambungan telpon terputus, Ara langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum istirahat.


Ketika keluar dari kamar mandi dan mengecek ponselnya kembali, dia terkejut melihat beberapa panggilan dari Sagara.


Ara menelan salivanya kasar seraya melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Gadis itu berlari keluar kamar untuk memastikan semua pintu tertutup rapat sesuai perintah Samuel.


"Neng Ara kenapa lari-lari kayak ketakutan gitu?" tanya bi Rini.

__ADS_1


"It-itu Ara mau mastiin pintu udah dikunci apa belum," jawab Ara.


Bi Rini tersenyum. "Pintu utama udah dikuci Neng. Neng Ara nggak perlu khawatir," ucap bi Rini. Memang selain Ara, Samuel juga berpesan pada wanita paruh baya itu agar sekiranya langsung mengunci pintu jika Ara sudah berada di rumah.


"Syukurlah." Ara memaksakan senyumnya dan kembali ke kamar. Ternyata ponsel yang dia tinggalkan masih berdering tiada henti.


Dengan tangan bergetar, Ara langsung saja menjawab panggilan dari Sagara.


"Sore Sayang, lama nggak ketemu," ucap Sagara di seberang telpon.


Ara diam saja, tidak ingin menyahuti perkataan Sagara seperti yang telah Samuel katakan.


"Bahagia banget sekarang, sampai lupa janji sendiri. Lo udah siap kehilangan Samuel?"


Ara mengelengkan kepalanya dengan air mata terus mengalir. Meski diyakinkan bagaimanapun, dia akan kembali takut jika sudah mendengar nama Sagara.


Tut


Ara langsung menjatuhkan ponselnya di atas karpet, dan berjalan menuju pintu balkor kamarnya. Dia menyikap sedikit horden hingga bisa melihat Sagara berada di depan pagar rumahnya dan duduk di atas motor.


Atensi Ara teralihkan pada ponselnya yang kembali berdering. Ada kelegaan tersendiri ketika tahu panggilan itu dari Samuel.


"Ab-abang Ara takut," ucap Ara dengan suara terbata dan tangis yang tumpah.


"Nyalain Tv, terus lo nonton dan matiin hp lo! Jangan perduliin Sagara, gue kesana sekarang!"


Ara mengelengkan kepalanya. "Jangan, nanti Abang ...."


"Dia nggak butuh nyawa gue Ra, ingat itu. Jadi lo nggak perlu takut."

__ADS_1


"Ara tunggu," lirihnya.


Setelah sambungan telpon terputus, Ara langsung saja mematikan ponselnya dan menyalakan Tv sesuai arahan Samuel.


Duduk di tengah-tengah ranjang seraya memeluk Elara, tatapannya fokus pada layar lebar di depannya.


***


"Sialan," maki Samuel. Segera berangkat setelah sambungan telpon terputus.


Untung saja sebelum tidur, dia mengecek laptopnya untuk menantau keberadaan sang kekasih. Jadi dia bisa tahu Ara sedang ketakutan, terlebih saat mendengar pembicaraan Ara dan Sagara ditelpon tadi.


Samuel melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata. Menyalip mobil begitu saja tanpa memperdulikan nyawanya yang mungkin saja melayang jika hilang kendali.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Samuel sampai di rumah Ara. Sebelum benar-benar masuk, dia memeriksa setiap sudut diluar rumah untuk mencari Sagara. Namun, nihil dia tidak menemukan apapun.


Sepertinya Sagara sengaja datang hanya untuk menakut-nakuti Ara.


Tanpa pikir panjang, dia berlari memasuki rumah dan membuka pintu kamar Ara secara kasar.


Tepat saat dia membuka pintu, seorang gadis langsung memeluknya cukup erat.


"Ara takut Bang," lirih Ara menangis di pelukan Samuel.


"Jangan takut, ada gue."


...****************...


Jangab lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2