Lost Love

Lost Love
Part 72 ~ Menjauhi semua orang


__ADS_3

"Milo?" lirih Ara berdiri di ambang pintu.


Ternyata tamu yang datang pagi-pagi kerumahnya adalah Edgar. Baru saja dia akan mendekat, kalimat larangan dari Rayhan berputar di otaknya.


Senyuman yang sempat terbit di wajah cantik Ara, kini memudar begitu saja.


"Mata lo merah Ra, habis nangis ya?" tanya Edgar, perhatian seperti biasa.


"Ara nggak nangis," sahut Ara masih berdiri di ambang pintu, hingga Edgar yang berjalan mendekati.


"Milo mau jemput Ara?" tanyanya dan dibalas anggukan kepala oleh laki-laki itu.


"Hm, kita berangkat sama-sama kayak dulu. Ayo!" Edgar menarik tangan Ara penuh senyuman, tanpa takut apa yang dia lakukan akan membuat seseorang marah.


"Ara berangkat sama Abang, Milo nggak perlu temenan sama Ara lagi," ucap Ara menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Edgar.


"Ra."


"Ara nggak mau temenan sama Milo lagi!"


"Maaf, nggak seharusnya gue mukul Samuel kemarin. Nggak seharusnya gue kepancing ...."


"Ara nggak marah Milo mukul Abang, itu hak Milo. Ara cuma nggak mau temenan lagi sama Milo. Sana pergi!" usir Ara meski dalam hatinya tidak rela jika harus berjauhan dengan Edgar. Entah bagaimana dia di sekolah nanti. Namun, Ara lebih baik menyendiri daripada harus menyakiti orang-orang sekitarnya.


"Milo cepat pergi!" ulang Ara mendorong tubuh Edgar sekuat yang dia bisa.

__ADS_1


Sementara yang di dorong tersenyum pada Ara. "Makasih ya Ra, udah mau jadi teman gue dulu," ucap Edgar dan menurunkan kaca helmnya.


"Maafin Ara Milo," lirih Ara setelah Edgar meninggalkan rumahnya. Gadis itu berjongkok di depan rumahnya seraya memeluk lututnya sendiri.


Jarum jam menunjukkan angka 06.24, masih terlalu dini berangkat menurut Ara, sementara sudah telat menurut Edgar.


Gadis itu mendongakkan kepalanya ketika motor yang berbeda berhenti tepat di hadapannya. Dia mendongak dan mendapati tunangannya di sana.


"Kenapa lo?" tanya Samuel dan dijawab gelengan oleh Ara.


Tanpa mengatakan apapun, Ara berlari masuk kerumahnya karena tidak ingin bicara apalagi dekat-dekat dengan Samuel. Semalam Sagara mengatakan akan selalu memantau dirinya 24 jam.


"Ra!" panggil Samuel.


"Buka pintunya!"


"Nggak Mau, Ara benci sama Abang!"


"Ara, gue bilang buka pintunya!" teriak Samuel namun Ara urung membuka pintu kamarnya.


Tangan Samuel terkepal hebat, apa benar Ara marah karena dia memukul Edgar kemarin? Sepeduli itu Ara pada Edgar?


"Gue bakal bunuh Edgar!" ancam Samuel.


Laki-laki dingin itu senyum miring ketika pintu kamar Ara langsung terbuka. Langsung saja Samuel menarik tangan Ara agar keluar dari kamar.

__ADS_1


"Lepasin Ara!" sentak gadis imut tersebut menarik tangannya dari Samuel.


"Jangan buat gue marah!"


"Ara nggak buat Abang marah. Ara cuma nggak mau temenan sama Abang lagi! Ayo pergi sana, jangan dekat-dekat sama Ara!" pekiknya menghindari tatapan Samuel.


"Lo waras!" bentak Samuel yang mulai terpancing emosi.


"Ara waras, makanya Ara mau jauh-jauh dari Abang. Abang kasar sama Ara terus sering bentak-bentak Ara," jawabnya penuh kebohongan. Padahal selama ini Ara sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Samuel terhadapnya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Samuel langsung meninggalkan Ara di rumahnya. Melajukan motor sport merah hitamnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Dada Samuel bergemuruh hebat mendegar kalimat terakhir Ara. Untuk kelimat itu, Samuel tidak bisa mengelek karena dia memang kasar dan suka membentak Ara. Sering kali semena-mena memperlakukan gadis imut tersebut.


Citttttttt


Decitan ban motor berbunyi nyaring ketika Samuel menekan rem cukup kuat di atas kecepatan rata-rata, kalau saja tidak ahli, mungkin laki-laki itu sudah tergeletak di jalan.


Karena melamun, Samuel hampir saja melintasi lampu merah.


"Maafin gue Ra, karena nggak bisa jadi tunangan yang baik buat lo," batin Samuel menyesali perlakuannya pada Ara.


Sesampainya di sekolah, Samuel diam saja bahkan ketika diledek oleh teman-temannya yang lain. Kini suasana hati perisai Avegas tersebut tidak baik-baik saja karena kalimat Ara.


"Gue harus berubah," batin Samuel memasang headset di telinganya, agar tidak mendengar suara Rayhan dan Dito yang tengah mengadakan konser dadakan dikelas.

__ADS_1


__ADS_2