
"Jangan takut selama gue ada di samping lo," bisik Samuel membenamkan bibirnya di rambut lurus Ara.
Kini keduanya tengah duduk di sofa saling beperlukan satu sama lain.
"Abang beneran bakal lindungin Ara?" Gadis imut itu mendongak untuk melihat pancaran mata Samuel.
Ara ingin melihat kesungguhan Samuel untuk menjaganya.
"Iya Ra."
"Makasih Abang." Ara kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Samuel yang hanya terbalut kaos lengan pendek.
"Nggak ada ucapan terimakasih antara sepasang kekasih Ra," gumam Samuel tanpa sadar, untung saja Ara tidak mendengar dengan jelas kalimat itu.
Hingga magrib menjelang, keduanya masih dalam posisi yang sama. Sebenarnya Samuel ingin melerai sejak tadi, namun urung saat tahu Ara tertidur di pelukannya.
Mendengar Adzan berkumandang, Samuel langsung saja mengendong tubuh Ara menuju ranjang. Membalut tubuh mungil itu dengan selimut tebal.
Dia meninggalkan Ara seorang diri di kamarnya, sementara dia pergi entah kemana berjalan kaki. Langkahnya terhenti ketika deringan ponselnya terdengar.
"Kemana kamu El? Sejak mami pulang nggak liat kamu Nak!"
Samuel langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, demi melindungi pendengaran. Memang dia salah karena belum menyapa maminya sejak pulang dari luar kota.
"Ada dirumah Ara," jawab Samuel.
"Jangan modus, biarpun Ara tunangan kamu belum berarti jodoh. Awas kamu macam-macam sama Ara!"
"Nggak Mam."
__ADS_1
"Jangan lupa kewajiban!"
"Iya Mam, ini lagi jalan ke masjid."
Samuel menghela nafas setelah sambungan telpon terputus. Dia merinding sendiri membayangkan apa yang akan dilakukan Maminya ketika tahu dia dan Ara pernah satu kamar dan berciuman.
***
Ara merengangkan ototnya yang terasa kaku setelah bangun tidur. Dia mengedarkan pandanganya dan tersenyum mendapati Samuel tengah bermain gitar di sofa.
"Abang masih di sini?" tanya Ara dengan mata berbinar.
"Hm."
"Ara senang Abang sering kerumah." Tanpa mencuci muka lebih dulu dia turun dari ranjang dan menyandarkan kepalanya dipundak Samuel.
"Udah mendingan?"
"Baguslah." Samuel beranjak. "Gue ada urusan, jangan keluar rumah tanpa gue!" titah Samuel mengambil ponsel dan kunci motornya.
Sejak tadi panggilan bertubi-tubi dari Dito dan Rayhan dia terima. Namun, urung pergi karena Ara belum bangun. Mulai sekarang Samuel ingin menggangap Ara sebagai kekasihnya.
Memperlakukan Ara seperti Sasa, bahkan melebihi. Dia ingin Ara selalu tahu kemana dan dimana dia berada.
"Abang mau kemana?"
"Balapan."
"Jangan!" pinta Ara menarik tangan Samuel.
__ADS_1
"Gue punya banyak nyawa." Samuel tersenyum tipis. Mengusap kepala Ara sebelum benar-benar pergi.
"Ara anter sampai depan." Buru-buru Ara beranjak dan mengikuti langkah lebar Samuel hingga di depan pintu utama.
"Kunci pintu!"
"Siap Abang. Ara bakal kunci pintu rapat-rapat." Cengirnya seraya memberi hormat.
Ara tidak menunggu Samuel pergi lebih dulu karena laki-laki wajah dingin itu mendorong tubuhnya pelan lalu mengunci pintu dari luar. Dia hanya bisa mengintip dari balik horden.
"Neng, makan malam dulu."
Ara menoleh ke sumber suara, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya bibi."
***
"El!" teriak Rayhan sepuluh menit sebelum balapan di mulai. Laki-laki playboy itu langsung membisikkan sesuatu di telingan Samuel, membut sepupunya itu turun dari motor.
"Gue kalah!" teriak Samuel pada beberapa anggota geng motor yang akan diajak balapan, untung saja tidak ada Wiltar di antaranya.
"Ray, El kenapa?" tanya Keenan dan Azka bersamaan.
"Oma Jelita drop!" teriak Rayhan sebelum melajukan motornya meninggalkan area balapan.
"Pantesan El ngaku kalah," gumam Azka. "Kuy, kalah soal biasa," lanjutnya dan memanggil teman-temannya yang lain untuk menyusul Samuel ke Mansion.
Meski Oma Jelita bukan siapa-siapa bagi Azka, dia juga sedih jika terjadi sesuatu pada wanita tua itu. Apa lagi bagi Rayhan, Samuel dan Keenan yang sangat dekat dengan beliau.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.