
Ara duduk di taman dekat kandang Jack untuk menunggu Samuel pulang. Sebenarnya gadis imut itu diantar oleh Samuel pulang kerumah, hanya saja laki-laki wajah dingin tersebut pergi lagi.
Mungkin bertemu dengan Sasa, Ara tidak tahu. Yang pasti, memikirkan hal itu membuat hatinya merasa sakit. Beberapa pesan Ara kirimkan pada Samuel, tapi tidak satupun dibalas.
"Nak, makan dulu!" panggil Fany menghampiri Ara di taman.
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara masih kenyang Mam, habis makan permen," cengirnya.
"Kalau gitu minum susu dulu." Fany menyerahkan segelas susu pada Ara, tidak lupa mengelus kepala calon menantunya sebelum pergi dari taman.
"Habisin, kalau cape nggak usah nunggu Abang," lanjut Fany di jawab anggukan oleh Ara.
***
"Mas pacar, aku kangen banget. Kemarin nggak bisa ketemu karena ada urusan," ucap Sasa memeluk Samuel setelah duduk di sofa.
"Gimana acaranya, lancar?" Sasa menganggukkan kepalanya antusias.
Samuel manatap manik indah Sasa yang terlihat gelisah dan tidak ingin menatapnya.
"Kenapa gelisah?" tanya Samuel.
"Ah nggak Papa, aku cuma salah tingkah aja di dekat mas Pacar," jawab Sasa cepat. "Aku ambil air dingin dulu," lanjutnya kemudian berlalu.
Sebenarnya memang ada yang Sasa sembunyikan, tapi tidak mungkin jika dia mengatakannya pada Samuel, yang ada laki-laki wajah dingin itu mengamuk dan meninggalkan dirinya. Lagian itu hanya ketidaksengajaan bagi Sasa.
__ADS_1
"Minum dulu!"
"Hm."
Samuel tidak menyentuh jus yang dihidangkan oleh Sasa, tapi menatap pacarnya penuh selidik. Dia tengah menunggu penjelasan setelah apa yang dilihatnya kemarin malam ketika mencari makan di luar seorang diri.
"Mas Pacar kenapa natap aku sampai segitunya?"
"Gue liat Sagara sama teman-temamnya semalam. Terus lo pergi sama siapa?" tanya Samuel langsung pada intinya.
Bukankah Sasa mengatakan ada urusan bersama abangnya? Lalu apa maksud yang dilihat Samuel?
"Ah it-itu Abang pulang lebih dulu, jadinya aku nginap di rumah tante. Aku kira Mas pacar mikirin apa. Kemarin kegiataanya apa aja?"
"Di rumah," jawab Samuel singkat.
"Jangan kelayapan!"
"Iya mas Pacar, tenang aja," jawab Sasa disertai anggukan kepala.
Memastikan Sasa baik-baik saja, Samuel segera meninggalkan lingkungan rumah kekasihnya tersebut. Mengendarai motor dengan kecepatan sedang untuk menikmati udara di sore hari.
Untuk satu bulan ke depan, mungkin kegiatan Samuel hanya Sekolah, rumah Sasa dan Mansion, sebab mendapat hukuman dari sang ketua.
Namun, hanya dua hari saja sudah membuat Samuel kesepian. Memang dia tidak banyak bicara jika di markas, tapi arti dari sebuah kebersamaan yang membuatnya nyaman. Apalagi guyonan-guyonan Rayhan, Ricky dan Dito, itu sungguh membuatnya rindu.
__ADS_1
Samuel memarkirkan motornya dengan aman dan berjalan santai memasuki mansion. Mencium punggung tangan Fany ketika melewatinya.
"Bisa-bisanya baru pulang, padahal sejak tadi Ara nunggu," decak Fany.
"El ada urusan tadi Mam," jawab Samuel kemudian berlalu ke kamarnya.
Dia menghembuskan nafas panjang melihat seorang gadis tidur di ranjangnya seraya memeluk boneka lumayan besar.
"Ck!" kesal Samuel manarik boneka tersebut, membut pemiliknya terbangun. Samuel tidak suka jika ada yang tidur di ranjangnya tanpa izin. Jangankan Ara, Alana saja tidak pernah.
"Abang udah pulang?" tanya Ara dengan wajah bantalnya.
"Lo nggak liat?"
"Liat, hehhee ...." Cengir Ara tanpa dosa. Gadis imut itu bangun dan duduk di pinggi ranjang sembari memeluk bonek keropi yang dia bawa dari kamarnya sendiri.
"Lo ngapain di kamar gue?"
"Ara mau ngomong sesuatu sama Abang, tapi sholat dulu nggak papa kok," ucap Ara tanpa beranjak.
"Keluar, gue mau ganti baju!"
"Ganti aja, Ara nggak papa kok."
Tidak ingin berdebat dengan Ara, Samuel langsung saja melepas jaketnya lalu mengantung di sisi lemari, tidak lupa melepas kaos hitam yang dia kenakan.
__ADS_1
Ara bukannya menutup mata, malah terganga seraya membulatkan matanya. "Wah perut Abang kayak roti, Ara boleh pegang?" tanya Ara begitu takjub tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Mahal!" celetuk Samuel berlalu ke kamar mandi.