Lost Love

Lost Love
Part 13 - Ancaman Sagara


__ADS_3

Senyuman Ara tidak pernah pudar sejak keluar dari kamar saking bahagianya. Gadis imut itu meletakkan tas punggung warna pinknya di kursi kosong kemudian duduk di hadapan orang tuanya.


"Bahagia banget anak Bunda," tegur Kirana meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Ara.


"Ara senang bisa sekolah sama Abang."


"Baik-baik ya, jangan buat El kesal mulu. Kamu bukan anak kecil lagi jadi nggak boleh nyusahin tunangan sendiri," patuah Deon yang tahu betul bagaimana cerewet dan manjanya Ara.


Ini semua karena dia terlalu berlebih memanjakan putrinya. Tapi apa boleh buat, Ara anak satu-satunya dan tidak akan mampunyai anak lagi karena rahim Kirana sudah diangkat.


"Ara nggak bakal nyusahin Abang, janji," jawab Arah penuh senyuman.


Gadis imut itu melanjutkan sarapannya kemudian bersiap-siap ke sekolah baru. Dia berdiri di samping mobil ayahnya.


"Ini bekal buat abang juga? Nanti Ara makan sama Abang?" tanyanya ketika Kirana memberikan kotak makan lumayan besar.


"Iya harus dong." Kirana mengelus rambut Ara yang di kepang dua. Namun itu tidak memudarkan kecantikannya sama sekali.


Dia mencium punggung tangan bundanya sebelum menyusul sang Ayah masuk ke mobil.


"Ayah antar aja ke rumah mami, nanti Ara berangkat sama Abang," pinta Ara dan di jawab anggukan oleh Deon yang kebetulan ada pekerjaan pagi ini.

__ADS_1


Ara menyandarkan kepalanya pada jok mobil, menikmati pemandangan ibu kota yang sudah lama tidak dia jamah dengan tatapannya.


Pergi saat kelas 3 Sd dan kembali setelah kelas 2 SMA, membuat Ara lupa jalanan ibu kota, terlebih dia tidak pernah bepergian seorang diri. Selalu ada bunda dan Ayah yang selalu menemani dirinya.


Dia melambaikan tangannya sebagai pengantar kepergian sang ayah. Berjalan perlahan hendak memasuki pagar pertama utama mansion Samuel. Namun, langkahnya berhenti karena tarikan seseorang.


"Eh Abang, aku kira siapa," cengir Ara ketika menyadari orang itu adalah tunangannya. Dia mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati motor Samuel di manapun.


"Motor Abang mana?"


"Lo ngapain ke sini, hm?" tanya balik Samuel tanpa ingin menjawab pertanyaan Ara.


"Pengen berangkat bareng Abang. Ara ... Abang jangan cepat-cepat jalannya, Ara nggak bisa ikutin!" pinta Ara seraya berjalan cepat karena langkah lebar Samuel. Terlebih laki-laki berwajah dingin itu menarik tangannya, membuat Ara sedikit terseok.


"Lo lupa sama perjanjian kita?"


Ara mengeleng. "Ingat, Ara harus cantik dan pintar."


"Terus rambut lo?"


"Kan kalau di luar rumah kita nggak kenal," jawab Ara.

__ADS_1


"Ck, terus lo ngapain mau berangkat bareng hm?" Samuel menekan pundak Ara cukup kuat hingga menimbulkan ringisan di bibir imut Ara.


"Sakit," lirihnya.


Samuel melepaskan tekanannya lalu meraih ponsel kemudian memesan ojek online untuk Ara. Setelah itu naik ke motornya sendiri.


"Tunggu di sini sampai ada bapak-bapak helm hijau dan jaket hijau jemput lo!" usai mengatakan hal tersebut, Samuel melajukan motornya meninggalkan lingkungan mansion.


Dia tidak perlu khawatir Ara akan di temukan oleh penghuni mansion, sebab jarak pagar pertama dengan mansion sangatlah jauh.


Motor besar Samuel berhenti tepat di depan pagar seorang gadis. Diperhatikannya mata bengkak Sasa cukup lama.


"Lo nangis?"


"Kesal sama Abang Saga, semalam ngomongnya kamu tunangan, pagi ini katanya nggak," jawab Sasa.


Ya gadis cantik itu baru saja bertengkar dengan Sagara yang tiba-tiba mengatakan bahwa apa dia bicarakan semalam semuanya bohong.


Samuel mengernyitkan alisnya berpikir. Merasa aneh dengan jalan pikiran Sagara, dia mengira setelah itu hubunganya akan ditentang.


Atensi Samuel teralihkan pada benda pipih di saku jaketnya. Dia membaca pesan dari Sagara yang ternyata tengah berdiri di balkon kamar memperhatikannya juga Sasa.

__ADS_1


Sagara: Kali ini lo aman karena Sasa milih percaya sama lo. Jangan sampai lo buat dia nangis! Karena setetas air mata Sasa maka satu nyawa orang terdekat lo melayang!"


__ADS_2