
Ara mengerjap-erjapkan matanya ketika melihat motor berhenti tepat di halaman rumahnya. Apakah benar dia tidak mimpi? Samuel menghampirinya pagi ini setelah marah-marah semalam.
Dia melangkah mendekati Samuel yang baru saja turun dari motor.
"Abang jemput Ara?"
"Hm."
"Abang udah nggak marah sama Ara?" tanya Ara lagi.
"Lo mau gue nggak marah?" Ara menganggukkan kepalanya cepat.
"Ara mau Abang, ayo katakan Ara harus apa?"
"Lo minta maaf sama Caca dan ngomong lo cuma sepupu gue!" tegas Samuel dengan wajah datarnya.
Senyuman Ara langsung hilang. "Ara nggak mau, Ara benci sama Sasa," tolak Ara.
Memang Ara tidak pernah bertemu dengan Sasa, tapi gadis imut itu tidak suka karena mengambil Samuel darinya.
"Kalau lo nggak mau, pertunangan kita batal!" ancam Samuel yang sangat tahu apa kelemahan Ara.
Laki-laki wajah dingin itu sering semena-mena pada Ara karena tahu gadis imut itu sangat mencintai dirinya dan tidak akan pergi apapun yang terjadi.
"Ara!"
__ADS_1
"Abang janji nggak bakal mukul Ara lagi?"
"Hm."
"Baiklah." Ara menganggukkan kepalanya antusias, dia setuju untuk minta maaf pada Sasa.
Gadis imut itu naik ke motor Samuel dan memeluk pinggang tunangannya erat-erat. Sebenarnya Samuel sangat risih, tapi dia melakukan ini semua agar mulut rombeng Ara tidak melantur kemana-mana ketika bertemu Sasa nanti.
***
Untuk pertama kalinya, Samuel dan Ara berangkat sekolah bersama-sama, bahkan sepanjang jam pelajaran sekolah Ara tidak mendapatkan kekerasan dari Samuel.
Meski begitu Ara tetap saja memakai hoodie kebesaran untuk menutupi memer di rahang juga pergelangan tangannya. Tidak lupa gadis itu mengerai rambutnya.
"Aneh nggak sih El hari ini?" bisik Ricky pada Rayhan tanpa melepaskan tatapannya pada parkiran di mana Ara dan Samuel berada.
"Apa jangan-jangan El kemasukan setang alim ya?" lanjur Ricky hingga mendapat toyoran dari Rayhan.
"Gue yakin El ada maunya deh," celetuk Rayhan.
"Sasa kecelakataan semalam, gue curiganya karena Sasa tahu sesuatu tentang Ara dan El," celetuk Keenan ikut berdiri di samping kedua temannya itu. "Kemarin Ara minta kontaknya Sasa," lanjutnya.
"Pasti Ara disuruh minta maaf, padahal bukan dia yang salah," timpal Dito ikut-ikutan, laki-laki itu baru saja datang.
"Jangan gibahin orang!" tegur Azka berjalan melewati anggotanya seraya mengenggam tangan Salsa menuju parkiran.
__ADS_1
"Ye pak ketua mah gitu."
Keenan, Rayhan, Ricky dan Dito mengikuti Azka dari belakang dan menyudahi acara gibahnya tentang perisai Avegas.
"Elara mulai bucin nih!" goda Rayhan pada Samuel ketika akan pergi setelah Ara berada di boncengannya.
"Dadah kak Ray, Ara pergi dulu." Ara melambaikan tangannya seraya tersenyum. Gadis imut itu tidak bisa menyembunyikan kebahagian dirinya karena hari ini Samuel tidak kasar padanya.
"Semoga harimu tetap bahagia!" teriak Ricky sebelum Samuel melajukan motornya.
"Ara senang Abang nggak marah-marah lagi," gumam Ara menyandarkan kepalanya di pundak Samuel, tentu saja terhalang helm.
Samuel tidak menyahut dan hanya fokus pada jalanan di depannya, hingga tidak terasa sudah berada di lingkungan rumah sakit.
"Ingat yang gue katakan tadi!" peringatan Samuel setelah meraka berada di koridor rumah sakit.
"Iya Ara ingat kok," jawab Ara penuh senyuman.
Langkah gadis itu memelan ketika melihat seorang laki-laki yang menatapnya cukup tajam. Ara pernah bertemu dengan laki-laki itu saat sendirian dirumah.
"Abang, Ara takut sama orang itu," cicit Ara hendak meraih tangan Samuel, tapi laki-laki itu sengaja menghindar, membiarkan Ara ketakutan sendiri.
"Gue bunuh dia kayaknya asik," gumam Sagara membuatnya mendapat lirikan tajam dari Samuel.
"Gue harus mulai darimana sekarang, hm? Sepupu kesayangan lo, atau tunangan lo itu," bisik Sagara mencengkram pundak Samuel cukup kuat.
__ADS_1
"Masuk!" perintah Samuel pada Ara setelah membuka pintu. Dia tidak ikut masuk karena ada urusan dengan Sagara.
"Lo ingkar janji, jadi bersiap-siaplah. Sepertinya tunangan lo masih segel, bolehlah!"