
Sudah seminggu sejak kejadian itu, mereka kembali berkumpul bersama lagi. Namun, Lang tidak pernah mempedulikan mereka dan tetap membaca bukunya.
Bel masuk pun berbunyi.
"Lihat ada murid baru." Kata seorang siswa menunjuk ke lapangan.
"Wah... Dia sangat cantik." Kata mereka. Semua orang melihat ke lapangan. Namun Lang tetap tidak mempedulikannya.
"Kalau dia dikelas kita pasti seru." Kata Manji sambil tersenyum.
"Tidak mungkin. Cewek itu pasti pintar dan baik. Mustahil dia masuk ke kelas kita." Jawab Kanja.
"Hey Lang. Jangan fokus ke buku aja dong, ayo kita ke kantin." Kata Manji kepada Lang.
"Tidak usah." Jawab Lang sambil membaca buku.
"Kalau kamu begini terus, kamu tidak dapat teman lo." Kata Kanja berusaha untuk lebih dekat dengan Lang karena disuruh Mey.
"Gak peduli." Jawab Lang dingin.
"Sialan! Inilah mengapa aku gak mau berteman samamu." Kata Kanja marah.
"Udah-udah. Nanti Bu Tia marah lagi lho sama kalian." Kata Manji menenangkan Kanja.
Bel masuk pun berbunyi. Mereka belajar seperti biasa.
Pada saat bel pulang bunyi, Lang bergegas mengemasi barangnya dan pulang.
"Hey Lang. Kamu mau kemana?" Tanya Manji sambil megang sapu.
"Pulang." Jawab Lang.
"Hey Brengsek. Sekarangkan giliran kita piket." Kata Kanja yang sangat kesal sama Lang.
"Udahlah Kanja. Emang kamu mau dimarahi guru lagi." Kata Mey menenangkan Kanja.
"Anu... Lang... Kamu juga harus ikut piket ya." Sambung Mey mengajak Lang.
"Aku mau pulang saja." Kata Lang lalu membalikkan badannya.
"Brengsek..." Kanja mulai kesal dan menggenggam tangannya. Tiba-tiba sapu terlempar dan mengenai Lang.
"Ha!?" Manji dan Kanja terkejut.
"Padahal aku selalu bersikap baik-baik padamu, kenapa kamu malah bersikap tidak tanggung jawab seperti itu." Kata Mey marah melempar sapu kepada Lang. Manji dan Kanja terkejur melihat Mey.
"Apa maksudmu?" Lang membalikkan badannya lalu Lang mulai menajamkan matanya.
"Aku muak dengan sikapmu itu." Teriak Mey. Lang berjalan menujunya.
"Lang... Dia itu cewek, tahan emosimu." Kata Manji menghalangi jalan Lang.
"Jika kau berani menyentuh dia, aku akan membunuhmu." Kata Kanja menghalang jalan Lang.
"Membunuh!? Menarik." Kata Lang sambil berjalan, Lang menggenggam tangannya.
"Cukup Lang! Kalian berdua lari!!" Manji memegang Lang dan menahannya.
__ADS_1
"Aku akan memukulnya. Mey! Kamu lari dan panggil Bu Tia." Kata Kanja. Lalu menyerang Lang.
Lang menendang Kanja dengan kuat, hingga kanja terlempar. Kanja pingsan karena menerima benturan keras dari meja-meja.
"Jangan menghalangiku!" Kata Lang kepada Manji. Lalu Lang menendangnya.
Manji terlempar sampai ke dinding. Manji tidak dapat bergerak karena temdangan dari Lang. Lang mendekati Mey.
"Jangan... Lang..." Kata Manji kesakitan. Lalu Manji pingsan.
Mey menggigil ketakutan karena melihat Lang. Lang menghampiri Mey, lalu menarik rambut Mey.
"Ku bilang padamu. Jangan pernah melawanku, aku enggak pernah peduli walaupun yang kuhadapi itu cewek." Kata Lang menarik rambut mey. Mey menangis.
"Maaf... Maafkan aku..." Kata Mey sambil menangis.
"Jika kau melaporkan hal ini kepada guru. Aku akan menyiksamu." Kata Lang dengan dingin. Lalu melepas rambut Mey.
Lang mengambil tasnya lalu pergi. Mey ketakutan melihat Lang.
Lang pergi menuju warung bubur kacang hijau kegemarannya. Namun, warungnya sudah tutup. Lang pulang kerumah, saat dijalan dia berpapasan dengan anak pindahan tadi. Seperti biasa, Lang tidak peduli dan terus membaca bukunya.
Keesokan harinya saat Lang pulang sekolah, Lang pergi lagi ke warung bubur kacang hijau. Namun, warung itu masih tutup. Seminggu sudah berlalu, Lang melihat warung itu masih tutup.
"Kenapa warungnya tidak pernah buka lagi?" Kata Lang dalam hati sambil melihat warung itu.
"Kapan bukanya ya, sudah seminggu belum makan bubur itu." Sambung Lang dalam hati. Lang mau pergi pulang.
"Wah, kamu datang ya. Maaf ya, nenek tutup tidak ngasih tau." Kata nenek penjual itu. Mereka berpapasan saat Lang hendak pergi.
"Nenek kemarin di rumah anak nenek. Mulai hari ini, cucu nenek akan tinggal sama nenek." Jawab nenek itu dengan bahagia.
"Apa nenek bisa buka hari ini?" Tanya Lang berharap agar dia bisa makan bubur kacang hijau.
"Maaf nenek bukanya besok." Jawab nenek itu. Lang merasa sedikit kecewa.
"Kalau kamu memang mau makan bubur. Nenek ada ni satu bungkus." Kata nenek itu sambil memberi satu bungkus bubur.
"Terima kasih." Jawab Lang, wajahnya sedikit memerah namun tidak berekspresi.
"Emangnya cucu nenek mana?" Sambung Lang bertanya.
"Dia pasti bentar lagi datang." Jawab nenek itu sambil melihat ke arah belakangnya.
"Aku mau pulang dulu ya nek. Terima kasih atas pemberiannya." Kata Lang berterima kasih kepada nenek itu. Lalu Lang pergi menuju rumahnya.
"Nenek... Maaf membuat nenek menunggu." Kata seorang gadis.
"Tidak apa-apa kok Sofya." Jawab nenek itu kepada gadis itu yang merupakan cucunya.
"Yang tadi itu siapa nek?" Tanya Sofya melihat Lang.
"Dia itu pelanggan setia nenek. Dia itu satu sekolah sama kamu lho." Jawab nenek itu kepada Sofya.
"Benarkah? Kok orang setampan dia enggak pernah dibahas di sekolah ya." Kata Sofya.
"Kamu kan baru pindah. Jika kamu berkeliling, kamu pasti bertemu dengannya." Kata neneknya Lalu mereka masuk kerumah.
__ADS_1
Keesokan harinya, Sofya pergi kesekolah. Sofya adalah murid pindahan. Sofya sangat terkenal karena memiliki wajah cantik, seksi, baik, dan juga pintar. Semua murid menyukai Sofya, baik itu dari kalangan laki-laki maupun perempuan.
"Teman-teman, ayo kita berkeliling." Kata Sofya mengajak temannya untuk mengelilingi sekolah.
"Baik." Jawab teman-temannya dengan gembira.
Mereka berkeliling ke semua kelas, kecuali area kelas 5.
"Kenapa kita tidak boleh melihat area itu?" Tanya Sofya kepada temannya.
"Jangan Sofya. Kelas 5 itu sangat mengerikan, makanya mereka diasingkan di SMA ini." Jawab temannya dengan ekspresi menakutkan.
"Kalau begitu, apa kalian kenal sama cowok tampan yang tinggi dan sering membaca buku? Kata nenekku dia bersekolah disini juga. Tapi nenekku gak tau siapa namanya." Tanya Sofya dengan bersemangat. Dia mencari Lang.
"Apa!?" Kata teman-teman Sofya terkejut.
"Sofya, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat sama cowok itu. Dia adalah jelmaan Iblis penyiksa." Kata Nuri, salah satu temannya dengan ekspresi menakutkan.
"Je... Jelmaan Iblis penyiksa!?" Kata Sofya takut.
"Iya. Dia dulu berada di kelas 1.1. Dulunya dia sangat terkenal di sekolah ini. Namun, saat sifat aslinya keluar, dia persis seperti Iblis penyiksa. Makanya dia dijuluki jelmaan Iblis penyiksa." Jelas si Nuri memperingati Sofya.
"Oh begitu ya... Aku baru dengar." Kata Manji yang tiba-tiba muncul dari belakang Nuri. Mereka semua terkejut.
"Siapa kamu?" Tanya Sofya.
"Kamu anak baru ya. Perkenalkan, namaku Manji Triasta. Panggil saja Manji." Kata Manji memperkenalkan dirinya dengan senyuman.
"Kamu dari kelas mana?" Tanya Sofya lagi.
"Itu RA-HA-SI-A" Kata Manji. Teman-teman Sofya menyukai Manji karena memiliki wajah tampan.
"Oy Manji cepetan. Kenapa kamu harus membela anak itu." Kata Kanja keluar dari semak-semak.
"Aku enggak membela dia kok. Aku cuma mau mendengar cerita jelmaan Iblis penyiksa." Kata Manji dengan tersenyum.
"Gelar itu sangat cocok diberikan kepadanya. Kenapa kamu harus marah." Kata Kanja dengan dingin.
"Oh iya. Kalian dari kelas mana?" Tanya Manji kepada Nuri.
"Ka... kami... Kami dari kelas 1.2." Jawab Nuri tersipu malu.
"Kalau kalian dari kelas mana? Kok aku baru liat kalian." Tanya Sofya.
"Kami dari kelas 5." Jawab Kanja dingin.
"Tadi saya dengar kalau kelas 5 itu gak boleh gabung sama kalian ya? Sayang sekali, padahal kami mau ikut gabung sama kalian." Sambung Manji dengan senyuman.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Ayo Manji." Kata Kanja lalu pergi meninggalkan mereka.
"Wah... Tidak disangka, kalau kelas 5 memiliki cowok-cowok tampan." Kata Mira seorang teman Sofya.
"Aku jatuh hati sama cowok berkaca mata itu. Dia tampan dan juga cool." Sambung Mira.
"Apa jangan-jangan, cowok kemarin itu dari kelas 5?" Kata Sofya dalam hati.
Mereka kembali ke kelas sambil bercerita tentang Manji dan Kanja.
__ADS_1