Lost Love

Lost Love
Part 25 - Kekecewaan Inti Avegas


__ADS_3

Keenan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya setelah duduk bersampingan dengan Ara di teras rumah gadis imut itu.


"Buat lo," ucap Keenan.


"Wah buat Ara? Makasih kak Keen. Kakak tau aja Ara suka coklat sama permen," cengir Ara dengan raut wajah bahagia.


Gadis imut itu menerima coklat dan permen pemberian Keenan. Keenan sengaja membeli sebelum menjemput Ara tadi di rumah sakit.


Keenan tersenyum melihat senyuman Ara seraya memakan coklat pemberiannya. Samuel memang bodoh karena menyia-nyiakan gadis sebaik Ara. Andai saja Ara bukan tunangan salah satu dari inti Avegas, mungkin dia akan mencoba untuk mencintai gadis imut tersebut.


"Lo sekarang tinggal sama siapa?"


"Bi Rini, memangnya kenapa kak?" tanya Ara dengan wajah polosnya.


"Nggak ada, habisin cepat coklatnya! Gue ke dalam dulu bentar." Keenan segera beranjak dari duduknya setelah mendapatkan anggukan dari Ara.


Laki-laki penyayang itu akan mengambil kotak P3K untuk mengobati luka memar Ara, tentu saja dibantu oleh Bi Rini. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, barulah kembali duduk di samping Ara.


"Tangan lo mana?" Keenan mengulurkan tangannya.


"Kak Keen mau ngapain tangan Ara?"


"Potong biar memarnya hilang," canda Keenan menarik lembut tangan Ara lalu mengoleskan salep penuh hati-hati.


"Kak Keen beneran kembarannya kak Keen?"

__ADS_1


"Heh?" Keenan melirik Ara.


"Tadi katanya kembaran."


Seketika Keenan tertawa, tangannya menyentil kening gadis imut itu. "Polos banget sih lo Ra, pantesan disakiti mulu."


Keenan meletakkan kotak P3K di sampingnya setelah selesai mengobati tangan juga leher Ara. Tatapan laki-laki penyayang tersebut tertuju pada pohon-pohon mini yang ada di hadapannya.


"Lo nggak ada niatan nyerah Ra?" tanya Keenan tanpa menatap lawan bicaranya. "Nyerah buat ngejar-ngejar El yang terang-terangan nggak suka sama lo. Lo nggak kasian sama orang tua lo? Mereka ngira lo bahagia ternyata nggak."


"Ara masih kuat kok Kak. Nanti kalau Ara lelah pasti berhenti juga, lagian Ara sayang sama Abang."


Keenan menghembuaskan nafas panjang, sungguh Ara sangat keras kepala. "Jangan bodoh!"


"Memangnya salah ya kalau Ara suka sama Abang? Ara nggak juga nggak buat salah," lirihnya menundukkan kepala.


"Cantik banget sih adek gue, sampai nggak rela kalau disakiti sama orang," ucap Keenan dengan senyum menenangkan.


Ara menatap Keenan. "Benarkan Ara cantik cuma kurang pintar aja? Ara tinggal belajar yang rajin biar pintar terus Abang suka sama Ara."


"Ra, entah gue ngomong pakai cara apa lagi biar lo ngerti," batin Keenan. Laki-laki itu berdiri dari duduknya.


"Masuk gih, gue mau balik!"


Ara mengangguk. "Hati-hati kak Keen."

__ADS_1


"Hm."


Keenan melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata untuk menuju markas mencari Samuel. Ara memang tidak mengatakan kalau Samuel yang menyakitinya, tapi siapa lagi yang berani jika bukan laki-laki wajah dingin tersebut?


Azka memang dingin dan temperamental, tapi tidak sedikitpun menyiksa seorang perempuan, kecuali jika penyakitnya kambuh.


Keenan memarkirkan motornya dengan aman lalu masuk ke markas ketika melihat motor orang yang dia cari terparkir di sana.


Tanpa mengatakan apapun, dia melayangkan pukulan pada sahabatnya itu.


Bugh!


"Banci lo El. Mana sikap dewasa dan bijak lo itu hah? Lo pintar ngomong, sayangnya jarang praktek!" bentak Keenan mencengkram kerah baju Samuel seraya menindih laki-laki wajah dingin itu.


"Keen, woy lo kesurupan hah?" tanya Rayhan, baru kali ini dia melihat Keenan sangat marah.


"Diam lo!" sanggah Keenan pada Rayhan.


"Jawab gue bangsat!" bentak Keenan, tapi Samuel diam saja.


Lama laki-laki itu terdiam, barulah menghempaskan tangan Keenan agar menyingkir dari kerah bajunya.


"Lo gila?" Hanya itu yang keluar dari mulut Samuel.


"Ya gue gila, sebab sahabat gue jadi Banci karena cinta!" bentak Keenan dengan tubuh bergetar. "Apa harus lo perlakuan Ara sampai segitunya? Lo boleh nggak suka sama dia, tapi nggak dengan main fisik El!" bentak Keenan berapi-api membuat inti Avegas menganga tidak percaya.

__ADS_1


Samuel yang terkenal bisa menyelesaikan masalah dengan cepat, orang yang selalu bijak dalam mengambil keputusan melakukan hal hina seperti itu.


"Gue kecewa sama lo!" ucap Azka ikut memberi pukulan pada wajah tampan Samuel.


__ADS_2