
"Enak banget Ra," puji Edgar pada bekal yang dibawa Ara.
"Ara senang Milo suka sama bekal Ara dan nggak dibuang. Tapi itu bukan masakan Ara sepenuhnya, Ara cuma bantu bibi," jujur gadis itu tidak ingin mendapatkan pujian seorang diri.
"Siapapun yang bantu tetap enak kok. Kalau nggak ngerepotin, boleh deh tiap hari," canda Edgar.
"Nggak kok, nanti Ara siapin lagi."
Ara menumpu kepalanya di atas meja, dia lebih dulu selesai makan dari Edgar. Gadis imut tersebut perlahan-lahan memejamkan matanya karena sangat mengantuk.
Sejak sholat subuh, dia belum tidur karena membantu bibi memasak. Namun, gadis imut itu sama sekali tidak mengeluh. Malahan senang jika usahan yang dia lakukan mendapat respon yang baik seperti Edgar.
Diam-diam Edgar memperhatikan wajah Ara, menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipi gadis tersebut.
Setelah membereskan semua benda-benda di atas meja, dia ikut menumpu kepalanya di atas meja. Toh mereka sudah belajar sejak satu jam yang lalu.
"Boleh nggak sih Ra, gue rebut lo dari El? Gue nggak papa kok kalau harus bonyok dulu!" guman Edgar dengan senyuman di wajahnya.
Di antara banyaknya siswa yang takut pada inti Avegas, hanya Edgar yang memiliki nyali luar biasa. Bahkan sering kali melaporkan inti Avegas keruang BK jika melanggar aturan.
Edgar sama sekali tidak membenci Inti Avegas, karena meskipun mereka nakal mereka juga tahu aturan dan hukum. Mereka tidak pernah membalas orang-orang yang melaporkannya jika merasa diri mereka memang salah dan melanggar aturan.
***
__ADS_1
Ara dan Edgar keluar dari perpustakaan ketika jam pulang sekolah telah berbunyi. Karena memang kelas mereka sedang free, dan keduanya memilih belajar daripada buang-buang waktu seperti yang lain.
"Terosebsi banget belajarnya Ra," celetuk Edgar di sela-sela mereka berjalan.
"Ara mau Abang bangga ngakuin Ara tunangannya karena dapat nilai bagus," jawab Ara dengan senyuman.
Gadis imut itu mengayung-ayungkan tangannya yang tengah digenggam oleh Edgar. Ara sama sekali tidak berpikir jika tingkah dan caranya memperlakukan Edgar salah di mata seseorang.
"Beruntung banget jodoh lo nanti Ra," celetuk Edgar. Laki-laki itu melirik Ara sekilas. "Jadikan jengukin Mama?"
Ara mengangguk antusias. "Jadi, Ara pengen liat Mama, Milo. Oh iya, Mama Milo sakit apa?"
"Sakit yang nggak bakal pernah sembuh Ra," gumam Edgar menundukkan kepalanya.
Ara memanyungkan bibirnya, dia menepuk pundak Edgar. "Mama Milo pasti sembuh."
Langkah keduanya berhenti ketika sampai di parkiran sekolah. Edgar menunduk untuk mengambil jepit rambut Ara yang terjatuh.
"Mau dipasangin nggak?" Ara mengangguk antusias.
Edgar langsung saja menarik tangan Ara agar semakin dekat padanya. Mengurai rambut indah gadis imut tersebut sedikit demi sedikit lalu menjepitnya dan terlihah lebih rapi dan cantik.
"Makasih Milo."
__ADS_1
Brugh
"Milo!" teriak Ara menghampiri Edgar yang terjatuh ke tanah karena ulah seseorang yang baru saja lewat di antara mereka.
Ara menatap tunangannya. "Kenapa Abang tabrak Milo?"
"Nggak liat," sahut Samuel memasang helm di kepalanya.
"Bohong, Abang pasti liat Ara sama Milo berdiri di sini, tapi Abang tabrak!" Ara mempertahankan argumennya dan menatap Samuel.
"Udah Ra, lagian gue nggak papa. Mending sekarang kita kerumah sakit, mama udah nunggu ...."
"Lo lebih bela dia Ra?" tanya Samuel yang kini berada di atas motornya.
"Abang jahat udah nabrak Milo!" teriak Ara dengan mata berkaca-laca. "Kalau Abang benci sama Ara, sakitin Ara aja jangan Milo!"
"Ra?" panggil Samuel menarik tangan Ara.
Namun, gadis imut itu menyentak dan naik ke motor Edgar. Memeluk Edgar cukup kuat tanpa ingin menatap Samuel sedikit saja. Dia marah pada tunangannya.
Jelas-jelas Ara melihat masih banyak tempat kosong untuk lewat, tapi Samuel sengaja berjalan di tengah-tengah mereka dan mendorong Edgar cukup keras.
Sepanjang jalan, Ara tidak mengeluarkan suara dan sibuk memeluk Edgar.
__ADS_1
"Ra, lo nggak nyesal bela gue di depan El? Bisa aja dia makin benci sama lo."
"Ara nggak nyesal. Kata bunda, Ara harus bela yang benar meski yang salah orang terdekat," jawab Ara.