
"Akhirnya si bucin datang juga," celetuk Rayhan namun tidak membuat Samuel merasa bersalah sama sekali.
Laki-laki wajah dingin itu terus berjalan seraya menggenggam tangan Ara. Dia tidak ingin sampai gadisnya terluka hanya karena dirinya tidak becus, apalagi tadi dia tidak sengaja melihat Sagara melalui pantulan kaca saat memasuki mall.
Sebelah tangan Samuel menggenggam tangan Ara, sebelahnya lagi mengetikkan beberapa huruf hingga menjadi sebuah kalimat.
Sagara ada disekitar kita
Hanya satu kalimat yang dia kirimkan di room chat sahabat-sahabatnya namun itu membuat Inti Avegas mengerti.
Samuel melepaskan genggaman tangannya setelah Rayhan, Keen, Dito dan Ricky membetuk fariasi hingga Ara berada di tengah-tengah mereka.
"Ra, lo nggak diapa-apainkan sama El? Misal dicium atau ecek-ecek?" tanya Rayhan.
Ara mengeleng. "Abang nggak nyium Ara hari ini."
"Hari-hari sebelumnya?" timpal Ricky.
"Ara ...."
"Gue ke lantai dua dulu," ucap Samuel menarik tangan Ara menjauhi teman-temannya.
Samuel terus berjalan hingga sampai di sebuah toko perhiasan yang sangat indah. Memang niat awal Samuel ingin datang ke mall selain membeli sesuatu untuk Azka, dia ingin membelikan Ara kalung.
"Coba pilih kalung yang menurut lo bagus," pinta Samuel.
"Abang mau beli buat Ara?"
"Buat Alana. Kalau lo mau juga, ambil aja," bohong Samuel. Ara mengangguk patuh, berjalan semakin dalam dan melihat-lihat kalung yang sekiranya bagus untuk Alana.
Sebenarnya ada sedikit rasa camburu dihati Ara karena Samuel ingin membelikan Alana kalung, padahal dia juga ingin.
"Abang ini cantik!" tunjuk Ara pada etalase.
"Lo suka?"
__ADS_1
"Cocok buat kak Alana."
"Lo?"
"Ara suka yang ini." Menunjuk kalung berliontin angsa putih.
Tanpa mempertanyakan harga, Samuel langsung menyuruh penjaga untuk mengambil kalung tersebut lalu memasangkan dilehar Ara yang sangat polos.
Seulas senyum terbit di bibirnya melihat kalung itu sangat pas di leher Ara.
"Cantik," puji Samuel tanpa sadar.
"Beli buat Alana nanti aja," ucap Samuel memberikan kartunya pada penjaga toko.
***
Samuel dan teman-temannya berpisah di parkiran setelah mendapatkan apa yang mereka mau. Dari 4 temannya, hanya kado Keenan yang sedikit waras yang lainnya mungkin akan membuat Aksa naik pitam.
Kado darinya? Samuel tidak membeli apapun, sebab berencana akan membelikan Salsa dan Azka sebuah tiket untuk liburan setelah menikah.
"Abang, kita jalan sampai taman depan yuk! Ara pengen jalan-jalan sore," ajak Ara mengayung-ayungkan tangannya di genggaman Samuel.
"Yey." Sorak Ara penuh gemibara.
Gadis imut itu melepaskan genggaman tangannya setelah mendapat persetujuan. Naik ke sebuah pembatas jalan setinggi pinggang.
"Turun Ra!"
"Turunnya di depan aja Bang," sahut Ara terus berjalan seraya merentangkan tangannya untuk keseimbangan.
Dia terkejut bukan main saat tangannya di tarik oleh Samuel.
"Abang!" pekik Ara ketika hilang keseimbangan dan terjatuh di dalam pelukan sang kekasih.
Dia memejamkan matanya seraya memeluk Samuel. "Ara masih hidup?"
__ADS_1
"Udah mati," sahut Samuel menurunkan Ara perlahan-lahan. "Jangan bahayain diri sendiri!"
"Maafin Ara."
"Di maafin tapi jangan dilakuin lagi Ra. Lo tuh ceroboh kalau lagi ...."
"Abang jangan ngomel mulu, Ara tau kok kalau itu bahaya atau nggak. Ara bisa jaga diri sendiri kalau saja ...."
Brukh
Ara jatuh terduduk di atas rumput hijau sebab sepatunya yang terlalu licin. Bukannya menangis, dia malah tersenyum pada Samuel yang menatapnya tajam.
"Kaki Ara sakit."
Hanya hembusan nafas terdengar tanpa ada pertanyaan seperti. Lo nggak papa Ra? Kaki lo sakit? Namun, sesuatu yang lain terjadi yang membuat Ara tidak bisa berkata-kata.
Samuelnya memang susah ditebak. Lihatlah, sekarang laki-laki wajah dingin itu berjongkok di depannya.
"Naik!" perintah Samuel tapi Ara hanya mengerjapkan mata beberapa kali. Masih tidak percaya dengan perlakuan Samuel.
"Arabella!"
Hap
Tanpa menunggu dipanggil lagi, Ara langsung naik ke punggung Samuel. Memeluk leher tunangannya tidak terlalu erat.
"Makasih Abang udah perhatian sama Ara. Sekarang Ara bahagia benget. Ternyata penantian Ara selama ini nggak sia-sia."
"Ara senang karena nggak nyerah dulu Bang!" pekik Ara penuh kesenangan.
"Ra."
"Iya Abang?"
"Makasih udah bertahan."
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.