
Brak
Gebrakan meja tidak membuat dua laki-laki yang tengah babak-belur takut. Kedua pemuda itu masih memasang wajah datar di depan guru Bk yang sedang mengintrogasi keduanya.
"Mau jadi apa kamu Samuel! Udah kelas tiga masih aja nyari ribut. Nggak di ajarin sama ...."
"Jangan bawa-bawa orang tua Saya!" potong Samuel yang tidak suka jika ada yang mempertanyakan didikan orang tuanya. Karena dia nakal sebab keinginannya sendiri, bukan perintah dari mami atau papinya sekalipun.
"Kamu juga, jadi ketua osis bukannya jadi contoh yang baik malah buat masalah!" omel guru Bk tiada henti.
"Maaf Pak, nggak seharusnya saya terpancing emosi," ucap Edgar menyesali perbuatannya.
Sementara Samuel hanya diam saja tanpa ingin meminta maaf pada gurunya sendiri. Sebab dia tidak menyesali apapun.
"Hubungi orang tua kalian sekarang!"
Tanpa mambantah sedikitpun, Samuel langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Daren. Laki-laki wajah dingin tersebut lebih memilih menghubungi papinya dan mendapat bogeman, daripada harus mendengar omelan dan tatapan kecewa dan wanita yang dia cintai.
"Saya janji nggak bakal ngulangi hal kayak gini lagi Pak, tolong jangan panggil orang tua saya," mohon Edgar.
"Nggak bisa, jangan buat negosiasi sama saya!" tegas guru Bk.
"Mama saya sakit Pak, nggak bisa ke sekolah."
"Papa kamu!"
__ADS_1
Edgar mengelengkan kepalanya. "Saya nggak punya ayah Pak," lirih Edgar menundukkan kepalanya.
"Jangan banyak alasan kamu, mana mungkin kamu nggak punya ayah!"
"Saya benar-benar nggak punya ayah Pak," jujur Edgar dengan raut wajah meyakinkan.
"Saya nggak mau alasan!"
Edgar memejamkan matanya, dengan terpaksa dia mengambil benda pipihnya di saku celana lalu meletakkan di atas meja.
Laki-laki itu langsung mendial kontak bertuliskan ayah, tidak lupa Edgar menambah volume agar Samuel juga guru Bk mendengarnya.
"Halo Yah ...."
Edgar semakin menundukkan kepalanya seraya mengepalkan tangan mendengar kalimat demi kalimat menyakitkan yang dia dengar dari ayahnya sendiri.
Samuel yang mendengar hal tersebut langsung memutuskan sambungan telpon tanpa meminta izin pada pemiliknya.
"Ayah saya nggak bisa datang Pak," ucap Edgar. Jika tadi guru Bk akan mendesak, kali ini guru tersebut tidak mengatakan apapun malah menatap iba pada Edgar.
"Saya yang memulai jadi disini saya yang salah Pak. Saya cemburu tunangannya saya dekat sama Edgar. Papi saya datang sebentar lagi, berikan saya hukuman sesuai aturan," ucap Samuel dan meninggalkan ruang Bk tanpa menunggu jawaban dari gurunya lebih dulu.
***
Rayhan menghampiri Ara yang berada di dalam kelasnya. Untung saja SMA Angkasa sedang sibuk mempersiapkan lomba hingga jam terakhir selalu kosong seperti sekarang ini.
__ADS_1
Jadi tidak masalah jika Ara masih berada di kelas Samuel.
Rayhan duduk di samping Ara dengan senyuman seperti biasa.
"Ngerti nggak kenapa El marah-marah sama Edgar?" tanya Rayhan dan dijawab gelengan oleh Ara.
"Nggak tau."
"El nggak suka kalau lo dekat-dekat sama laki-laki teruma Edgar. Dia cemburu Ra."
"Cemburu? Kalau cemburu, berarti Abang suka sama Ara? Kata kak Alana cemburu tanda cinta," balas Ara.
"Pintar banget adek gue. Sekarang tau kan? Jangan dekat-dekat sama siapapun lagi selain kita-kita ya. Ini juga demi kebaikan Edgar. Kalau lo nggak dekat-dekat sama Edgar, otomatis El nggak marah," jelas Rayhan panjang lebar karena tahu kapasitas otak Ara masih 3G, sangat ketinggalan jaman.
"Berarti Ara harus jauhin Milo? Milo luka karena kesalahan Ara ya?"
"Bukan kesalahan lo, tapi Elnya aja yang emosian. Ngerti kan cantik?"
Ara menganggukkan kepalanya dengan senyuman. "Ara mengerti, tapi Ara lapar Kak. Abang nggak biarin Ara keluar kelas jadi nggak bisa ke kantin ...."
Senyuman Ara mengembang ketika sebuah roti juga susu kotak muncul dihadapannya tiba-tiba.
"Makasih Abang," ucap Ara girang.
"Hm," guman Samuel duduk di hadapan Ara karena disampingnya masih ada Rayhan.
__ADS_1