
Ara terus saja menatap Samuel yang masih menerima telpon, matanya mengerjap perlahan dan mulai bicara setelah memastikan tunangannya telah selesai bicara dengan orang yang dia yakini mami Fany.
Ara menyentuh tangan Samuel yang terkepal entah karena apa. "Mami ngomong apa sama Abang, kenapa kayak ngomel-ngomel?" tanyanya dengan suara lembut dan pelan.
"Bukan apa-apa," sahut Samuel meletakkan ponselnya di atas meja. Laki-laki itu lalu beralih menatap Ara yang maulai menunduk.
"Lo pegal atau mau tidur?" tanya Samuel.
"Nggak, memangnya kenapa?"
Samuel hanya mengeleng sebagai jawaban, segera merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Ara sebagai bantalan.
"Cuma 15 menit," gumam Samuel memeluk pinggang Ara cukup erat.
Pikiran Samuel kembali kacau untuk saat ini, bukannya pulang dia malah tidur di pangkuan Ara. Ingin rasanya dia menghindari Fany karena tahu apa yang akan dibicaran wanita paruh baya itu padanya.
Samuel mendengar sendiri bagaimana Ara bercerita tentang kejadian malam itu bersama maminya, besar kemungkinan Fany akan kecewa jika mendengar penjelasan lengkap nanti.
"Abang ngantuk?"
"Hm."
"Tubuh Abang kok kayak panas gitu, Abang sakit?" tanya Ara lagi seraya mengelus rambut sang kekasih.
Mendapati Samuel yang dengan suka rela tidur di pangkuannya adalah kebahagian tersendiri untuk Ara. Hal-hal yang dulu dia harapkan perlahan-lahan terwujud satu persatu.
Karena tidak suka kesunyian dan juga merasa lelah, akhirnya Ara ikut memejamkan mata dengan posisi duduk, hingga tidak terasa terlelap dan elusan terhenti.
Hal itu berhasil mengusik Samuel yang ternyata belum tidur. Laki-laki wajah dingin itu mendongak dan berdecak kesal melihat Ara.
__ADS_1
"Ara nggak ngantuk, kenapa?" cibir Samuel menirukan suara manja Ara.
"Sok kuat," omel Samuel.
Dia segera berdiri dan mengendong Ara menuju brangkar, membaringkan perlahan. Tidak lupa mengecup kening gadis imut itu sekilas mumpung tidak ada orang.
"Samuel suka sama Ara. Lo dengar?" tanya Samuel namun tidak ada sahutan apapun dari Ara, hanya wajah terlelap yang Samuel lihat.
Laki-laki wajah dingin itu berjalan menuju sofa, membaringkan tubuhnya dan ikut memejamkan mata. Dia bertekad akan tinggal di rumah sakit sampai Aranya pulang kerumah, tanpa memperdulikan omel-omelan Fany.
***
Plak
Suara tamparan mengema di ruangan bernuansa hitam abu-abu tersebut, membuat pipi seorang pemuda terasa kebas dan memerah.
Laki-laki itu memegangi pipinya seraya melayangkan tatapan tajam pada pria paruh baya yang baru saja melayangkan tamparan dengan keras.
"Aku kenapa? Bukankah aku lebih baik dibanding ayah sendiri?" potong Edgar tanpa mengendurkan tatapannya yang penuh permusuhan.
"Apa Ayah nggak bisa nunggu bentar aja? Menikahlah sepuas yang Ayah ingingkan, tapi jangan minta Edgar membawa surat itu pada mama!" teriak Edgar dengan mata berkaca-kaca.
Tatapan penuh emosi, kekecewaan dan sedih bercampur menjadi satu, tapi itu tidak mampu menyadarkan pria paruh baya dengan perbuatan bejatnya.
"Dasar anak nggak diuntung, kau berani melawan ayah?"
"Nggak bakal ada asap jika nggak ada api Yah. Edgar nggak mungkin lawab Ayah kalau nggak salah. Apa susahnya Ayah kembali sama Mama? Bukannya yang menyebabkan mama seperti sekarang juga Ayah?"
"Tutup mulutmu, jangan ikut campur tentang urusan orang dewasa. Belajarlah yang rajin agar ...."
__ADS_1
"Agar bisa menjadi pengusaha sukses dan mempermainkan perasaan perempuan? Begitu?" Lagi, Edgar memotong perkataan ayahnya.
Laki-laki yang tengah kelelahan setelah dari sekolah, tanpa istirahat harus menjaga mamanya dirumah sakit. Bukannya ditanya apa dia baik-baik saja oleh ayahnya, pria itu datang kerumah hanya mendesak agar surat cerai segera ditandatangani.
"Apa selingkuhan Ayah tau kalau Ayah punya penyakit yang menjijikkan?" tanya Edgar tanpa sopan santun. "Yang harusnya ada dirumah sakit dan menanggung semua penderitaan adalah Ayah!" tunjuk Edgar tanpa ada rasa takut di hatinya.
"Ayah yang telah menyebarkan virus pada tubuh perempuan nggak bersalah seperti Mama, tapi Ayah membencinya seolah-olah dialah penyebab itu semua!"
Prang
Brak
Sring
Segala benda mendarat di atas lantai karena amukan Edgar. Kemaran yang selama ini dia pendam sendiri akhirnya tumpah juga karena ulah ayahnya.
"Ayah mengira bisa dapat perempuan mana aja setelah tahu penyakit Ayah? Hanya perempuan bodoh seperi mama yang bisa menerima kekurangan Ayah!"
Tubuh Edgar bergetar hebat, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga di depan ayahnya.
Srak
Edgar merobek surat cerai yang diajukan oleh ayahnya.
"Biayai seluruh pengobatan Mama atau aib Ayah bakal tersebar luas!" ancam Edgar.
"Hanya membiayai rumah sakit, tentang keperluan lainnya, Edgar bisa nyari uang sendiri!"
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.