
"Mereka lagi tidur ternyata."
"Lah El nggak sekolah?"
"Keliatan banget El sayang sama Ara."
Sayup-sayup Samuel mendengar obrolan-obrolan di dalam ruangan rawat Ara. Terlebih obrolan itu melibatkan dirinya maupun Ara.
Perlahan-lahan dia membuka kelopak matanya dan terkejut bukan main melihat orang tuanya juga orang tua Ara sudah datang.
Masih setengah sadar, Samuel langsung melepaskan pelukannya dari Ara dan turun dari ranjang. Berdiri kikuk memandangi papinya yang menatap penuh arti.
"Om-tante," sapa Samuel sedikit gugup.
Kirana hanya tersenyum menanggapi dan menghampiri Ara yang masih terlelap, itu semua tidak luput dari perhatian El.
Melihat tangan mama Ara akan menyentuh rambut gadis imut itu, Samuel langsung berujar.
"Ara susah tidur tante dan baru aja terlelap," ucap Samuel tanpa ditanya, karena tidak ingin usapan Kirana malah membangungkan Ara.
Lagi-lagi Kirana hanya tersenyum menanggapi. "Perhatian banget sama Ara, sampai tau apa yang dia derita," celetuknya.
"Bunda nggak salah nitipin Ara sama kamu," lanjut Kirana. "Jangan tegang gitu Nak, bunda nggak bakal ganggu tunangan kamu kok."
__ADS_1
Kirana mengulum senyum. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak menyentuh putrinya dan hanya menatap dalam diam. Mendengar Ara masuk rumah sakit karena shok setelah penculikan, membuat Kirana begitu sesak hingga memaksa untuk pulang menemui Ara.
"Kenapa nggak sekolah?" tanya Deon menghampiri Samuel yang masih berdiri di samping brangkar.
"Ara nelpon katanya takut sendiri om," jawab Samuel dengan alibinya. Perlu kalian tahu, Samuel memang mencair tapi gengsinya tidak pernah hilang hingga sulit mengakui hal-hal yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Makasih Nak udah jagain anak Om. Sepertinya udah cukup dia nyusahin kamu." Deon merangkul pundak Samuel dengan senyumannya.
Namun, itu tidak membuat hati Samuel tenang. Terlebih ucapan Deon yang mengatakan sudah cukup, apa artinya Aranya akan pergi? Semoga tidak.
"Om mau bawa Ara pergi?" tanya Samuel memastikan.
Tapi laki-laki yang dia tanya malah terdiam. Bahkan melepaskan rangkulan dan menghampiri Daren yang duduk di sofa.
Baru saja kakinya akan melangkah keluar dari ruangan Ara, namanya telah dipanggil oleh orang tua Ara. Samuel memutar langkahnya dan ikut duduk bersama para orang tua.
Harus kalian catat, untuk pertama kalinya, Samuel merasakan gugup yang teramat sangat tanpa tahu apa alasan di baliknya.
"Kenapa bisa Ara ada dirumah sakit Nak?" tanya Deon memulai pembicaraan.
Samuel mengambil nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan dari calon ayah mertuanya.
"Ara korban salah sasaran Om. Ini salah El karena nggak becus jaga Ara. Andai malam itu ponsel El aktif, Ara nggak mungkin jadi korban salah sasaran," jelas Samuel dengan kebohongan menyertai.
__ADS_1
Tidak ingin siapapun tahu bahwa Ara menderita karena ulah dari kakak mantannya. Jika itu terjadi, maka dia benar-benar akan kehilangan Ara.
"Salah sasaran?" tanya Daren memastikan
"Iya Papi."
"Bukan sepenuhnya salah kamu El, Ara juga salah karena sedikit bebal. Ayah tahu gimana sikap anak itu yang sering seenaknya pada orang."
"Benar kata ayah Nak. Kami tau kok gimana kamu jaga dan dampingi Ara selama ini. Setiap kali cerita, Ara tidak pernah kehabisan topik membicarakan banyak hal tentang kamu. Gimana kamu melindungi dan memberi dia perhatian penuh," timpal Kirana sama sekali tidak menyalahkan Samuel tentang apa yang terjadi.
Terlebih Ara hanya korban salah sasaran bukan sebuah permusuhan yang bisa saja membahayakan putrinya.
Jika Deon dan Kiaran tampak percaya-percaya saja, maka tidak dengan Fany yang sejak tadi diam. Di benak wanita cantik itu tertanam kejanggalan pada semuanya. Terlebih Ara telah bercerita banyak tentang kejadian malam itu.
"El, kamu nggak bohong Nak?" tanya Fany.
"El nggak bohong Mam. Kalau gitu El pamit dulu," jawab Samuel.
Laki-laki wajah dingin itu benar-benar meninggalkan ruangan Ara. Sebenarnya dia juga sedikit tidak tenang karena berbohong, tapi ini salah satu cara yang bisa dia lakukan agar tidak memperumit keadaan.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.
__ADS_1